BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakanag
Dewasa ini kita semua menerima pendapat bahwa dalam kehidupan sehari-hari manusia tidaklah lepas dari hubungan satu dengan yang lain. Ia selalu menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sehingga kepribadian individu, kecakapan-kecakapannya, ciri-ciri kegiatannya baru menjadi kepribadian individu yang sebenar-benarnya sisitem tersebut berhubungan dengan lingkungannya. Tegasnya individu memerlukan hubungan dengan lingkungannya, tanpa hubungan ini individu bukanlah individu lagi.
Disini di asumsikan bahwa interaksi dapat menjurus ke arah yang menyenangkan atau menjijikkan, tergantung pada kondisi yang menyebabkan terjadinya interaksi itu. Syarat umum terciptanya hubungan positif antara interksi dan kesenangan adalah kondisi saling menambah keuntungan yang diperoleh kedua belah pihak yang terlibat dalam proses interaksi.
Saling menambah keuntungan ini selanjutnya mensyaratkan satu diantara dan kondisi yang berbeda : terdapat perbedaan antara kedua pihak sedemikian rupa sehingga memungkinkan mereka untuk saling melengkapi atau saling menambah. Dalam hal ini interaksi adalah bersifat simbiosis. Contohnya adalah pertukaran rasa hormat dan informasi di dalam organisasi formal. Orang yang bersetatus tinggi menerima penghormatan dari yang bersetatus rendah, dan orang yang bersetatus rendah menerima informasi. Atau terdapat kesamaan antara kedua pihak. Dalam hal ini interksi adalah sepadan atau konsesus, saling menguntungkan disini berasal dari kepuasan yang diterima kedua pihak karena mempunyai pilihan (preferensi) mereka sendiri yang diperkuat secara bersama.
Diantara kedua tipe interaksi itu, tipe konsensus barang kali ada yang lebIh umum dari pada tipe simbiosis. Karena itu, jika sosiologi berbicara tentang interaksi dalam arti umum,dan bagaimana hubungannya dengan status sosial, perlu di ingat bahwa interkasi tipe konsensus adalah tipe yang dominan, yakni interkasi dimana kesamaan antara kedua pihak lebih menguntungkan dari pada perbedaan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskanlah permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini, guna mempermudah pembahasan makalah ini.
1. Definisi Interaksi Sosial
2. Interaksi Sebagai Dasar Proses Sosial
3. Unsur Dasar Interaksi Sosial
4. Ciri-Ciri Interaksi Sosial
5. Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial
BAB II
PEMBAHASNA
1. Definisi Interaksi Sosial
Interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua individu atau lebih, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuaan individu yang lain atau sebaliknya.
Telah dikatakan bahwa interaksi sosial didahului oleh suatu kontak sosial komunikasi. Hal ini kemudian memungakinkan interaksi. Sebagai salah satu tahap penting dalam proses sosial (sosialisasi) perlu ditinjau lagi apakah sebenarnya proses sosial dan teraksi sosial itu. Harold Lasswel dan Abraham Kaplan memberi definisi tentang proses sosial sebagai berikut:
“The totality of value processesfor all the values important in sosiety”. Dari definisi Lasswell dan Kaplan menjelaskan betapa luasnya proses sosial itu, yaitu bahwa ia mencapai semua kegiatan dalam masyarakat dengan melibatkan masalah sistem nilai yang oleh individu atau kelompok diusahakn untuk disebar luaskan.
Ditinjau dari segi ini, menurut lasswell dan kaplan, setiap proses sosial melibatkan penerimaan atau penolakan dari norma-norma yang disebar secara sadar ataupun tidak sadar, secara langsung atau tidak langsung. Lasswell dan Kaplan selanjutnya berpendapat, bahwa norma-norma yang dilibatkan dapat dikelompokkan dalam dua kelomok norma yang besar yaitu;
- Walfare values (Nilai kesejahteraan)
- Deference values (nilai-nilai luhur/agung abstrak)
Menurut Lasswel dan Kaplan wafare values merupakan nilai-nilai yang dianggap penting untuk hidup manusia, supaya dapat hidup layak, mempunyai pendapatan yang mencukupi keperluan sehari-hari, nilai tentang kesehatan badaniah dan tergolong pula didalamnya perasaan aman dalam memperoleh ataumelanjutkan pekerjaan, supaya hidup tetap terjamin.
Selanjutnya deference values merupakan kelompok nilai-nilai yang abstrak dan perlu diperhaikan oleh orang yang hidup dalam masyarakatnya khususnya dalam kehidupan berkelompok/sosial. Dalam kelompok niali ini tergolong masalah pengaruh-mempengaruhi, status, penghargaan terhadap orang yang lebih tinggi atau tua, nilai-nilai moral (apa yang dianggap baik, buruk, tidak jujur, terpuji dan seterusnya) seperti juga nilai-nilai yang lebih abstrak lagi, yaitu hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Inilah nilai-nilai yang selalu terlibat dalam setiap interaksi social yang harmonis dapat dicapai.
2. Interaksi Sebagai Dasar Proses Sosial
Didalam pembahasan mengenai bidang telaah, telah dinyatakan bahwa roses sosial meruakan salah satu acara pokok pembahasan dalam sosiologi. Dengan proses sosial di maksud adalah pengaruh timbal balik antara berbagai bidang kehidupan bersama. Kehiduapan bersama itu dapat dilihat dari beberapa segi atau aspek, yaitu adalah segi kehidupan ekonomi, segi kehidupan politik segi kehidupan hukum, dan sebagainya. Jadi proses sosial adalah pengaruh timbal balik antara, misalnya segi kehidupan ekonomi dengan segi kehidupan politik, segi kehidupan politik denga segi kehidupan hukum, segi kehidupan hukum dengan ekonomi, dan seterusnya.
Pada dasarnya yang dapat bertindak atau yang dapat berhubungan adalah manusia, yang mewujudkan suatu aktivitas. Dengan demikian, aktivitas sosial itu terjadi karena adanya aktvitas dari manusia dengan hubungannya dengan manusia lain. Oleh karena yang bertindak itu adalah manusia, maka yang dapat dinyatakan bahwa interksi sosial adalah bentuk utama dari bentuk sosial.
3. Unsur Dasar Interksi Sosial
Didalam interaksi sosial mengandung makna tentang kontak secara timbal balik atau inter-stimulasi dan respon antara individu dengan individu dan kelompok dengan kelomok. Alvin dan Helen Gouldner, menjelaskan bahwa intekasi adalah sebagai aksi dan reaksi antara orang-orang. Dengan demikian, terjadinya interksi apabila satu individu berbuat sedemikian rupa sehingga menimbulkan reaksi dari individu atau individu-individu yang lainya.
Kontak antar individu dengan tidak terjadi pada jarak yang dekat misalnya dengan berhadapan muka, juga tidak hanya pada jarak sejauh kamampuan pancaindra manusia, tetapi alat-alat kebudayaan manusia memungkinkan individu-individu bertindak pada jarak yang amat jauh. Dapat dicontohkan, kalau seorang pembaca, membaca tulisan seorang penulis, maka diantara penulis dan pembaca telah terjadi kontak dengan tidak memindahkan jarak antara kedua individu tadi, demikian juga seorang penelfon dan mendapat jawaban dari seorang individu diujung lain, maka telah terjadi kotak antara kedua itu, demikian dinyatakan oleh koentjaraningrat.
Sehubungan dengan komunikasi, schlegel berpendapat bahwa manusia adalah mahluk sosial yang dapat bergaul dengan dirinya sendiri, mentafsirkan makna-makna, obyek-obyek didalam kesadarannya, dam memutuskan bagaimana ia bertindak secara berarti sesuai dengan penafsiran itu.
Dari penjelasan diatas kita dapat menyatakan bahwa syarat terjadinya interksi adalah kontak dan komunikasi.
Menurut kimbal young, interksi sosial dapat berlangsung antara;
a. Orang-perorangan dengan kelompok atau kelompok dengan orang-perorangan (“There may be to group your group to person relation”)
b. Kelompok dengan kelompok (“There is group to group interaction”)
c. Orang-perorangan (“There is person to person interaction”)
4. Ciri-Ciri Interaksi Sosial
Apabila dilacak sesama deskripsi diatas, maka ungkapan dari Charles P. Lommis mengenai ciri penting dari interksi sosial, patut dibenarkan. Charles P. Lommis mencantumkan ciri penting dari interksi sosial, yaitu;
1. Jumlah pelaku lebih dari seorang, bisa dua atau lebih.
2. Adanya komunikasi antara pelaku dengan menggunakan simbol-simbol
3. Adanya suatu dimensi waktu yang mengikuti masa lampau, sekarang dan yang akan datang, yang menentukan sifat dari aksi yang sedang belangsung.
4. Adanya tujuan-tujuan tertentu, terlepas dari sama atau tidak sama dengan yang diperkirakan oleh para pengamat.
Apabila interaksi sosial itu diulang menurut pola yang sama dan bertahan untuk waktu yang lama,maka akan terwuju “hubungan sosial” (social relation)
5. Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial
Oleh karena interksi sosial terdiri dari kotak dan komunikasi, dan di dalam proses komunikasi mungkin saja terdiri berbagai penafsiran makna perilaku, dan penafsiran makna yang sesuai dengan maksud pihak pertama akan menghasilkan suatu kondisi yang kondusif diantara kedua belah pihak yang dapat dinamakan suatu kerja sama. Tetapi, apabila penafsiran makna tingkah laku itu menyimpang atau bertentangan dengan makna yang dimaksud, kemungkinan akan menghasilkan pertikaian dan yang mungkin akan berlanjut dengan persaingan. Akan tetapi suatu pertikaian tidak mungkin berlangsung dengan lama walaupun mungkin itu ada, sebab pada suatu pertikaian akan mendapatkan penyelesian walaupun itu bersifat sementara. Suatu keadaan selesainnya pertikaian merupakan working relationship yang disebut akomodasi, dan ini dapat di pandang sebagai bentuk interksi sosial.
Dengan demikian, bentuk-bentuk dari interaksi sosial itu adalah;
1. Kerja sama
2. Pertikaian
3. Persaingan, dan
4. Akomodasi
Soerjono Soekanto menyatakan bahwa pada dasarnya ada dua bentuk umum dari interksi sosial, yaitu assosiatif dan dissosiatif. Suatu interaksi sosial yang assosiatif merupakan proses yang menuju pada kerja sama. Sedangkan bentuk interkasi dissosiatif dapat diartikan suatu perjuangan melawan seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu.
Menurut pernyataan diatas, maka dapat dikemukakan bahwa bentuk umum interaksi sosial adalah sebagai berikut :
- Bentuk umum assosiatif, meliputi bentuk khusus
a. Kerja sama
b. Akomodasi
- Bentuk umum Dissosiatif, meliputi bentuk khusus
a. Pertikaian
b. Persaingan
1. Kerja sama
Timbulnya kerja sama, menurut Charles H. Cooley adalah apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama, dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian pada diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut melalui kerja sama.
Pada masyarakat indonesia, terdapat bentuk kerja sama yang dikenal dengan nama “Gotong Royong”. Mengenai hal ini, Koentjaraningrat membedakan antara gotong royong dan tolong menolong. Selanjutnya, dikatakan bahwa kecuali sambatan dalam bentuk produksi pertanian, aktivitas tolong menolong juga tampak dalam aktivitas kehidupan masyarakat yang lain, ialah;
a. Aktivitas tolong menolong antara tetangga yang tinggal berdekatan untuk pekerjaan- pekerjaan kecil sekitar rumah dan pekarangan, seperti menggali sumur, mengganti dinging balik rumah, membersihkan rumah dan atap rumah dari hama tikus, dan lain sebagainya.
b. Aktivitas tolong menolong antara kaum kerabat untuk menyelenggarakan pesta sunatan, perkawinan atau upacara adat lain sekitar titik-titik peralihan pada lingkaran hidup individu.
c. Aktivitas spontan tanpa permintaan dan tanpa pamrih untuk membantu secara spontan pada waktu seseorang penduduk desa mengalami kematian atau bencana.
2. Persaingan
Persaingan adalah suatu perjuangan (strunggele) dari pihak-pihak untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Suatu ciri dari persaingan adalah perjuangan menyingkirkan pihak lawan itu dilakukan secara damai atau secara “fair-play” artinya selalu menjunjung tinggi batas-batas yang diharuskan.
Persaingan dapat terjadi dari segala bidang kehiduan, misalnya bidang ekonomi dan perdagangan, kedudukan, kekuasaan, percintaan, dan sebagainya. Persaingan dalam mana meliputi beberapa pihak yang melakukan persaingan, pihak-pihak yang berkompetisi disebut “saingan” (“revarly”)
Persaingan juga memberikan rangsangan tertentu. Rangsangan suatu persaingan pada dasarnya dan paling sedikit terbatas dalam tiga hal, yaitu;
a. Persaingan dapat memberi efek kemunduran bagi masyarakat. Semenjak persaingan berlangsung, beberapa hal akan goyah dan tetap akan memberikan seasana kecemasan, kehawatiran dan rasa tidak aman.
b. Persaingan, dapat membangkitkan semangat pada beberapa macam kegiatan atau aktivitas
c. Persaingan mempunyai tendensi atau kecenderungan yang mengarah pada pertikaian atau konflict.
Walaupun persaingan memunyai tendensi kearah pertikaian, namun dapat pula mendorong untuk suatu kerja sama.
3. Pertikaian
Pertikaian dapat terjadi karena proses interaksi, dimana penafsiran makna perilaku tidak sesuai dengan maksud dari piha pertama, yaitu pihak yang melakukan aksi. Pada pertentanan atau pertikaian, terdapat usaha untuk menjatuhkan pihak lawan dengan cara kekerasan (violence).
Mugkin, pertentangan atau pertikaian ini timbul persainganatau kompetisi, tetapi hal ini tidak selalu demikian. Hartono dan Hunt, menyatakan bahwa sekali pertikaian dimulai, maka proses ini sulit dihentikan. Sejak saat itu terjadi tindakan –tindakan agresif yang pada dasarnya diilhami oleh sifat bermusuhan tersebut, sehingga proses pertikaian terus berlangsung dan menumbuhkan situasi tidak menguntungkan. Pertikaian, selain mempunyai segi negatif seperti yang kita bicarakan tadi, dapat pula memberikan dapak positif. Misalnya, selain membuat para anggota kelompok itu menjadi sulit untuk mencapai dari kelompok itu (misalnya; pertikaian politk atau perusahaan) atau tidak dapat bekerja sama di dalam mencapai kesejahteraan mereka, tetapi dapat juga menumbuhkan kepemimpinan atau kebijakan baru yang dibutuhkan.
4. Akomodasi
Suatu pertikaian, tidaklah mugkin akan berlangsung untuk selama-lamanya. Pada suatu ketika pertikaian itu akan mendapatkan penyelesaiannya. Suatu keadaan di mana selesainya pertikaian, merupakan working relation ship yang di sebut akomodasi. Soerjono Soekanto menyatakan bahwa akomodasi itu menunjuk pada dua arti. Pertama. Akomodasi menunjuk pada suatu keadaan dan kedua, akomodasi itu menunjuk pada proses. Sebagai suatu proses, akomodasi menunjuk pada usaha-usaha untuk mencapai penyelesaian pertikaian ; sedangkan sebagai suatu keadaan, akomodasi menujuk pada suatu kondisi selesainya pertikaian tersebut.
BAB III
KESIMPULAN
Dari penjelasan makalah diatas kami menyimpulkan bahwa Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi. Ada aksi dan ada reaksi. Pelakunya lebih dari satu. Individu vs individu. Individu vs kelompok. Kelompok vs kelompok dll. Guru mengajar merupakan salah satu contoh interaksi sosial antara individu dengan kelompok. Interaksi sosial memerlukan syarat yaitu Kontak Sosial dan Komunikasi Sosial.
Kontak sosial dapat berupa kontak primer dan kontak sekunder. Sedangkan komunikasi sosial dapat secara langsung maupun tidak langsung. Interaksi sosial secara langsung apabila tanpa melalui perantara. Misalnya A dan B bercakap-cakap termasuk contoh Interaksi sosial secara langsung. Sedangkan kalau A titip salam ke C lewat B dan B meneruskan kembali ke A, ini termasuk contoh interaksi sosial tidak langsung.
Faktor yang mendasari terjadinya interaksi sosial meliputi imitasi, sugesti, identifikasi, indenifikasi, simpati dan empati Imitasi adalah interaksi sosial yang didasari oleh faktor meniru orang lain. Contoh anak gadis yang meniru menggunakan jilbab sebagaimana ibunya memakai. Sugesti adalah interaksi sosial yang didasari oleh adanya pengaruh. Biasa terjadi dari yang tua ke yang muda, dokter ke pasien, guru ke murid atau yang kuat ke yang lemah. Atau bisa juga dipengaruhi karena iklan.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu, Psikologi Sosial, Rineka Cipta, Jakarta, 1991
Sualastoga, Kaare, Deferensiasi Sosial, PT. Bina Aksara, Jakarta, 1989
Susanto, S,Astrid, Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial, Bina Cipta, Jakarta, 1983
Taneko, B, Soleman, Struktur dan Proses Sosial, CV Rajawali, Jakarta, 1984
Sabtu, 23 April 2011
Teori Aguste Comte
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Mengawali tinjuan kita mengenai tahap klasik dari teori sosiologi dengan Comte, merupakan suatu hal yang arbitrer. Banyak idenya sudah tidak dikembangkan lagi oleh pengikut-pengikutnya. Juga sosiologi masa kini mungkin merasa tidak berutang budi terhadap Comte sebanyak pada Emile Durkheim, yang mengikutinya selama empiris yang sudah dibayangkan Comte walaupun demikian, sumbangan Comte terhadap perkembangan sosiologi jauh lebih penting dari pada yang sering diketahui; secara kreatif dia menyusun sintesa dari banyak aliran pikiran yang bertentangan yang sudah dikembangakan oleh orang lain, dan dia sangat mengusulkan untuk mendirikan ilmu tentang masyarakat dengan suatu dasar empiris yang kuat (atau positif).
Dilihat secara keseluruhan karyanya mencerminkan banyak dilema dan ketegangan yang masih ada dalam usaha sosiologi misalnya, ketegangan antara stabilitas dan kemajuan, antara perspektif ilmiah deterministis dan perspektif moral yumanistik. Comte lah yang memberikan istilah “Sosiologi” untuk menggantikan istilah yang mulanya dinamakan “fisika sosial”, yang ditolaknya ketika Quitelet mulai menggunakan istilah ini untuk menggambarkan studi statistik yang dirintisnya sendiri.
RUMUSAN MASALAH
1. Siapakah Auguste Comte?
2. Teori apasajakah yang dikemukakan Auguste Comte?
3. Bagaimana pendapat Auguste Comte mengenai hubungan ntara tahap-tahap intelektual dengan orgnisasi sosial?
TUJUAN
Untuk mengetahui siapa Auguste Comte, memperjelas akan teori-teori yang dikemukakanya dan memberitahukan pembagian-pembagian tahap evolusi pola pikir manusia dalam masyarakat dan orgnisasi sosial.
BAB II
PEMBAHASAN
A. SKETSA BIOGRAFIS AUGUSTE COMTE
Auguste comte lahir di Mountpelier, perancis, 19 januari 1798. Orang tuannya berstatus kelas menengah dan ayahya kemudian menjadi pejabat lokal kantor pajak. Meski tergolong cepat menjadi mahasiswa, ia tak pernah mendapat ijazah perguruan Negeri. Dalam setiap kelasnya Ecole Polytecnique, Comte bersama seluruh kelasnya di keluarkan karena gagasan politik dan pemberontakan yang mereka lakukan. Pemecatan ini berpengaruh dalam karir akademis Comte. Tahun 1817 ia menjadi sekretaris (dan menjadi anak angkat) Saint-Simon, filsof yang 40 tahun lebih tua. Mereka bekerjasama sangat akrab selama beberapa tahun dan Comte menyatakan utang budinya kepada Saint-Simon, ia memberikan dorongan sangat besar kepada ku dalam studi filsafat yang memungkinkan diriku menciptakan pemikiran filsafat ku sendiri dan yang akan aku ikuti tanpa ragu selama hidup ku.
Comte terkenal mempunyai daya ingat yang luar biasa, berkat daya ingatnya ia mampu menceritakan kembali kata-kata yang tertulis di satu halaman buku yang sekali di baca kemampuan yang sedemikian rupa sehingga ia mampu mengungkapkan keseluruahan isi sebuah buku yang akan ditulisnya tanpa harus menulisnya. Kuliahnya di sajikan tanpa berbekal catatan, bila ia duduk untuk menulis buku, ia menuliskan segalanya dari ingatan. Tahun 1826 Comte membuat sebuah catatan-catatan yang kemudian menjadi bahan kuliah umum sebanyak 72 kali tentang pemikiran filsafatnya. Ceramah itu dilakukan dirumahnya sendiri kuliah itu menarik minat kalangan orang terpandang. Tetapi setelah jalan tiga kali kuliah itu terhenti karena comte mengalami gangguan syaraf. Sejak itu ia terus terserang ganggua mental. Di tahun1827 ia mencoba bunuh diri dengan mencebur ke sungai Saine, untungnya ia selamat.
Pada tahun 1823 ia diberi jabatan sebagai asisten dosen, tahun 1837 ia diberi pekerjaan tambahan akhlak untuk menguji. Comte berkosentrasi menulis 6 jilid buku yang membuatnya sangat terkenal, berjudul Cour de Philosophie Positive, yang akhirnya diterbitkan secara utuh pada 1842 jilid pertama terbit tahun1830. Pada 1844 jabatan asisten dosennya di perpanjang, tahun 1851 ia menyelesaikan 5 jilid yang berjudul System Politique Positive. Yang mengandung pemikiran lebih praktis dan menawarkan rencana besar mengorganisasi masyarakat. Dan setelah itu pada 5 september 1857 Comte meninggal dunia.
B. Perspektif Positivistis Comte Tentang Masyarakat
Meskipun Comte yang memberikan istilah”positivisme”, gagasan yang terkandung dalam kata itu bukan dari dia asalnya. Kaum positivis percaya bahwa masyarakat menggunakan bagian dari alam dan bahwa metode-metode penelitian dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukumnya, sudah tersebarluas dilingkungan dia hidup. Skeptisisme Comte yang berhubungan dengan usaha-usaha pembaruan besar-besaran serta penghargaanya terhadap tonggak-tonggak keteraturan tradisional mengakibatkan dia dimasukkan kategori orang konservatif.
Comte melihat masayarakat sebagai sesuatu yang keseluruhan organik yang kenyatannya lebih dari pada sekedar jumlah bagian yang tergantung. Comte menempatkan dunia ide sebagai sebagai pokok persoalan studi sosiologi, ia lebih menekankan ide keteraturan masyarakat (social order) dari pada berusaha melakukan penelitian empiris. Tetapi untuk mengerti kenyataan ini, metode penelitian empiris digunakan dengan keyakinan bahwa masyarakat merupakan sesuatu bagian dari alam seperti halnya gejala fisik. Andreski berpendapat, “pendirian Comte bahwa masayarakat merupakan bagian alam dan bahwa memperoleh pengetahuan tentang masayarakat menurut penggunaan metode-metode penelitian dari empiris dan ilmu alam lainya”. Merupakan sumbanganya yang tak terhinngga nilainya terhadap perkembangan sosiologi. Tentu saja keyakinan inilah, dan bukan substantifnya tentang masyarakat yang bernilai bagi usaha sosiologi sekarang ini.
Comte melihat perkembangan ilmu tentang masyarakat yang bersifat alamiah ini sebagai puncak suatu proses intelektual yang logis melalui mana semua ilmu-ilmu sudah melewatinya. Kemajuan ini mencakup perkembangan mulai dari bentuk-bentuk pemikiran teologis purba, penjelasan metafisik, sampai ke terbentuknya hukum-hukum ilmiah yang positif. Bidang sosiologi (atau fisika sosial) adalah paling akhir melewati tahap-tahap ini, karena pokok permasalahanya lebih kompleks dari pada ilmu fisika dan biologi.
Mengatasi cara-cara berfikir mutlak yang terdapat dalam tahap-tahap pra-posirtiv, menerima kenisbian pengatahuan kita serta terus menerus terbuka terhadap kenyataan-kenyataan baru, merupakan ciri khas yang membedakan pendekatan positiv yang digambarkan Comte.
Dalam konteks kemasyarakatan Comte, dapat dipahami bahwa tujuan utama sosiologinya ialah mengalami konstruksi kemasyarakatan masyarakat modern secara revolusioner (seperti menghentikan disorganisasi moral). Ia tertarik dengan organisasi masyarakat dalam konteks humanisme positivistik filsafahnya.
Sejak melakukan fondasi terhadap masyarakat, gagasan sosiologinya menekankan pada tuntutan moral. Ia berusaha mengembangkan ”fisika sosial” yang akan melahirkan hukum-hukum sosial dan reorganisasi sosial, sesuai dengan sistem Comte yang banyak bernilai dan dipandang sebagai hal yang sangat natural.
Menurut Comte, alam semesta diatur oleh hukum-hukum alam yang tak terlihat (invisable natural) sejalan dengan evolusi dan perkembangan alam pikiran atau nilai-nilai sosial yang dominan.
Comte juga membagi sistem sosial menjadi dua bagian penting, yaitu masyarakat dan hukum-hukum keberadaan manusia sebagai makhluk sosial dan yang kedua adalah dinamika sosial atau hukum-hukum perubahan sosial. Yang mendasari sistem ini adalah naluri kemanusiaan yang terdiri dari atas tiga faktor utama tersebut ialah:
1. Naluri-naluri pelestarian (naluri seksual maupun material)
2. Naluri-naluri perbaikan (dalm bidang militer dan industri)
3. Naluri sosial (kasih sayang, pemujaan dan cinta semesta )
Diantara ketiganya ada naluri kebanggaan dan kesombongan.
I. Metodologi
Menurut Comte, metode positif mengarah pada perkembangan kebenaran organis (kebenaran yang paling tinggi). Metode ini mengembangkan penggunaan observasi (penelitian), percobaan (exsperiment), serta perbandingan untuk memahami keseluruhan statisika dan dinamika sosial, metode-metode tersebut memberi gambaran terhadap hukum-hukum sosial melalui eksperimentasi, baik secara langsung maupun tak langsung, sebagai halnya evolusi masyarakat secara umum, dengan cara ini Comte sebagaimana metodologi yang mengarah perkembangan yang lebih luas terhadap model teorinya yang didasarkan organik dan natural, yaitu pada asumsi-asumsi organik dan natural.
II. Tipologi
Sebagaimana dikatakan sebelumnya, Comte membagi model masyarakat menjadi dua bagian utama, yaitu model masyarakat statis dan masyarakat yang dinamis yang menggambarkan struktur kelembagaan masyarakat dan prinsip perubahan social. Adapun unsur-unsur masyarakat statis meliputi:
1. Sifat-sifat sosial, yang didalamnya berisi tentang agama, seni, keluarga, kekayaan dan organisasi sosial
2. Sifat kemanusian, meliputi naluri, emosi, perilaku dan intelegensi
Sedangkan unsur-unsur masyarakat dinamis terdiri atas:
1. Perubahan social dan faktor-faktor yang behubungan dengan tingkatan kebosanan masyarakat, usia harapan hidup, perkembangan hidup
2. Tingkat perkembangan intelektual yang sangat cepat.
C. Hukum Tiga Tahap Comte tentang Proses Evolusi Manusia
Hukum tiga tahap merupakan usaha Comte untuk menjelaskan kemajuan evolusioner umat manusia dari masa peradaban perancis abad ke-19 yang sangat maju. Hukum ini, yang mungkin paling terkenal dari gagasan-gagasan teoritis pokok Comte tidak lagi diterima sebagai suatu penjelasan mengenai perubahan sejarah secara memadai. Juga terlalu luas dan umum sehingga tidak dapat benar-benar tunduk terhadap pemgujian empiris secara teliti, yang menurut Comte harus ada untuk mmbentuk hukum sosiologi.
Singkatnya, hukum itu menyatkan bahwa masyarakat (umat manusia) berkembang melalui tiga tahap utama. Tahap-tahap ini dtentukan menurut cara berfikir yang dominan teologis, metafisik, dan positive. (Ingat bahwa masing bidang-bdang ilmu melalui tahap-tahap ini juga). Lebih lagi, pengaruh cara berfikir yang berbeda-beda ini meluas kepola kelembagaan dan organisasi sosial masyarakat. Adi watak stuktur sosial masyarakat bergantung pada gaya etimologisnya atau pandangan dunia, atau cara mengenal dan menjelaskan gejala yang dominan.
• Comte menjelaskan hukum tiga tahap sebagai berikut:
Dari studi mengenai perkembangan inteligensi manusia, di segala penjuru dan melalui segala zaman, penemuan muncul dari suatu hukum dasar yang besar,… Inilah hukumnya: bahwa setiap konsepsi kita yang paling maju-setiap cabang pengetahuan kita-berturut-turut melalui tiga kondisi teoretis yang berbeda: teologis atau fiktif: metafisik atau abstrak; ilmiah atau positif. Dengan kata lain pikiran manusia pada dasarnya, dalam perkembangannya, menggunakan tiga metode berfilsafat yang karakternya sangat berbeda dan malah sangat bertentangan… yang pertama merupakan titik tolak yang harus ada dalam pemahaman manusia; Yang kedua suatu keadaan peralihan; dan yang ketiga adalah pemahaman dalam keadaan yang asli dan tak tergoyahkan.
• Karakter yang khusus dari ketiga tahap ini disajikan secara singkat sebagai berikut:
Dalam fase teologis, akal budi manusia, yang mencari kodrat dasar manusia, yakni sebab pertama dan sebab akhir (asal dan tujuan) dari segala akibat, pengetahuan absolute mengandaikan bahwa gejala dihasilkan oleh tindakan langsung dari hal-hal supernatural, Dalam fase metafisik, yang hanya merupakan suatu bentuk lain dari yang pertama, akal budi mengandaikan bukan hal sipranatural, melainkan kekuatan-kekuatan abstrak, hal-hal yang benar-benar nyata melekat pada semua benda (abstraksi-abstraksi yang dipersonifikasi), dan yang mampu menghasilkan semua gejala. Dalam fase terakhir, yakni fase positif, akal budi sudah meniggalkan pencarian yang sia-sia terhadap pengertian-pengertian absolute, asal dan tujuan alam semesta, serta sebab-sebab gejala, dan memusatkan perhatiannya pada studi tentang hukum-hukumnya yakni hubungan-hubungan urutan dan persamaannya yang tidak berubah. Penalaran dan pengamatan, digabumgkan secara tepat, merupat sarana-sarana pengetahuan ini.
Tahap teologis merupakan periode yang paling lama dalam sejarah manusia, dan untuk analisa yang lebih terperinci, Comte membaginya kedalam periode fetisisme, politisme, dan monoteisme,. Fetisisme, bentuk pikiran yang dominan dalam masyarakat primitive, meliputi kepercayaan bahwa semua bena memiliki kelengkapan kekuatan hidup sendiri. Akhirnya fetisisme diganti dengan kepercayaan akan sejumlah hal-hal supernatural yang meskipun berbeda dengan benda-benda alam, namun terus mengontrol semua gejala alam. Begitu pikiran manusia terus maju, kepercayaan akan banyak dewa itu diganti dengan kepercayaan akan satu yang tiggi. Katolisisme di abad pertengahan meperlihatkan puncak tahap monoteisme.
Tahap metafisik terutama merupakan tahap transisi antara tahap teologis dan positif. Tahap ini ditandai oleh suatu kepercayaan akan hukum-hukum alam yang asasi yang dapat ditemukan dengan akal budi. Protestantisme dan Deisme memperlihatkan penyesuaian yang berturut-turut dari semangat teologis ke munculnya semangat metafisik yang mantap. Satu manifestasi yang serupa dari semangat ini dinyatakan dalam Declaration of Independence: “ kita menganggap kebenara ini jelas dari dirinya sendiri…” Gagasan bahwa ada kebenaran tertentu yang asasi mengenai hukum alam yang jelas dengan sendirinya menurut pikiran manusia, sagat mendasar dalam cara berfikir metafisik.
Tahap positif ditandai oleh kepercayaan akan data empiris sebagai sumber pengetahuan terakhir. Tetapi pengetahuan selalu sementara sifatnya, tidak mutlak; semangat positivism memperlihatkan suatu keterbukan terus-menerus terhadap data baru atas dasar mana pengetahuan dapat ditinjau kembali dan dipeluas. Akal budi penting, seperti dalam periode metafisik, tetapi harus dipimpin oleh data empiris. Analisa rasional mengenai data empiris akhirnya akan memungkinkan manusia untuk memperoleh hukum-hukum dilihat sebagai uniformitas empiris lebih dari pada kemutlakan metafisik.
Metode positif memungkinkan seseorang untuk menemukan dan memahami hukum-hukum alam dan gejala-gejala sosial, sehingga mampu mengembangkan potensi intelekual dan tatanan moral yang akan menyatukan kemajuan dan keteraturan bertentangan dengan situasi kacau yang masih berlangsung sekarang ini, sosiologi harus merupakan ilmu yang terpadu dan menyatu, berdasarkan metode positif yang secara langsung memberi sumbangan terhadap evolusi sebuah tatanan moral. Oleh karena itu, Comte memandang seluruh pengetahuan sebagai ilmu sosial alam dalam pengertianya yang luas karena ia menggambarakan perkembangan konteks sosial, khususnya sebagai salah satu dari tiga tahapan intelektual tersebut.
D. Hubungan antara Tahap-Tahap Intelektual dan Organisasi Sosial
Argumentasi-argumentasi Comte untuk menjelaskan hubungan-hubungan secara terperinci menekankan bahwa dalam tahap teologis, dukungan dari otoritas religius yang mengesahkan adalah perlu menanamkan disiplin sosial yang perilaku untuk kegiatan militer. Kegiatan militer diperlukan hanya karena hal itu merupakan cara yang paling menarik dan paling sederhana untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan materil. Juga mentalitas teologis dan militer, seperti yang dianalis Comte, sangat bersifat mutlaki.
Selama periode teologis, keluarga merupakan satuan sosial yang dominan (meskipun ada kelompok-kelompok yang lebih besar yang didirikan untuk kegiatan militer, atau sebagai hasil dari pengadaan militer). Dalam periode metafisik Negara-negara menjadi suatu organisasi yang dominan. Comte optimis bahwa munculnya tahap positif, nasionalisme akan digantikan dangan keteraturan sosial yang meliputi humanitas seluruhnya. Terkandung dalam diskusi mengenai arti sosial dari ketiga fase ini. Adalah pengaruhnya terhadap perasaan manusia. Sehubungan dengan evolusi intelektual, ada evolusi perasaan yang dibatasi oleh lingakaran yang makin lama makin luas dengan mana individu menentukan ikatan-ikatan emosionalnya. Pada tahap awal manusia dikenal terutama dengan keluarganya; kemudian ikatan emosional meluas; akhirya manusia terasa terikat dengan humanitas keseluruhannya.
Comte mungkin mau menjelaskan bagaimana penjelasan-penjelasan religius mengenai berbagai gejala disebagian besar kalangan penduduk modern masih diberikan dengan cara ini. Tetapi kebanyakan ahli sosiologi agama masa kini akan mengemukaan bahwa pemikiran agama modern berorientasi dunia pengetahuan yang berbeda secara kualitatif dari ilmu pengetahuan ; miasalnya, ilmu berhubungan dengan penjelasan mengenai gejala empiris, tetapi agama berhubungan dengan pertanyaan tentang arti tujuan hidup, yang tidak biasa dijawab dengan metode-metode ilmiah.
Cepatnya perubahan dari satu tahap intelektual ke yang berikutnya, berlainan dalam periode sejarah yang berbrda-beda. Beberapa periode ditandai dengan stabilitas yang agak tinggi, apabila konsensus atas dasar kepercayaan dan pandangan-harmonis pandangan adalah relatif tinggi, dan organisasi sosial, struktur politik, cita-cita moral, dan kondisi-kondisi materil memperlihatkan suatu tingkat saling ketergantungan harmonis yang tinggi. Sebaliknya periode-periode dimana perubahan yang pesat dari suatu tahap (tahap kecil) ke tahap berikutnya sedeang terjadi, ditandai oleh kekacauan intlektual dan sosial.
Meskipun hukum kemajuan menjamin evolusi jangka panjang dari suatu tahap ke tahap berikutnya, berbagai faktor sekunder dapat mempercepat atau menghambat, misalnya pertumbuhn penduduk. Proses evolusi dapat dihambat oleh dominasi filsafat yang berkepanjangan, yang merupakan kiblat dari usaha-usaha kelompok konservatif untuk mengatasi kekacauan suatu periode transisi dengan mengemukakan kembali metode yang cocok dengan periode sebelumnya. juga dapat dihalangi oleh usaha untuk mengadakan perubahan yang demikian radikalnya sehingga mereka menghancurkan keteraturan sosial yang mendasar yang perlu untuk kemajuan intelektual atau sosial.
Comte sangat tajam dalam mencela mereka yang mau mengubah masyarakat tanpa secukupnya sadar akan batas-batas yang diberikan oleh hukum-hukum dasar mengenai kemajuan atau sumbangan-sumbangan yang bernilai secara sosial dari tahap-tahap sebelumnya. Mereka yang mau meningkatkan kemajuan tanpa sadar akan persyaratan-persyaratan keteraturan, sebenarnya mendukung bertahannya keadaan transisi anarkis.
E. Prinsip-prinsip Keteraturan Sosial
Analisa Comte mengenai keteraturan sosial dapat dibagi dalam dua fase. Pertama, usaha untuk menjelaskan keteraturan sosial secara empiris dengan menggunakan metode positif. Kedua, usaha untuk meningkatkan keteraturan sosial sebagai suatu cita-cita yang normatif dengan menggunakan metode-metode yang bukan tidak sesuai dengan positivism, tetapi yang menyagkut perasaan dan intelek.
Satu sumbangan sosial Comte yang penting dari tahap perkembangan pra-positif adalah bahwa mereka mementingkan konsensus intelektual. Konsensus terhadap kepercayaan-keparcayaan serta pandangan-pandangan dasar selalu merupakan dasar utama untuk solidaritas dalam masyarakat. Karen kebanyakan sejarah manusia berada di bawah dominasi cara berpikir teologis, tidak mengherankan kalau agama dilihat utama sebagai sumber solidaritas sosial dan konsensus. Selain ini isi kepercayaan agama mendorong individu untuk berdisiplin dalam mencapai tujuan yang mengatasi kepentingan individu dan meningkatkan perkembangan ikatan emosional yang mempersatukan individu dalam keteraturan sosial.
Pentingnya agama dalam mendukung solidaritas sosial dapat dilihat dalam kenyataan bahwa otoritas politik dan agama biasanya berhubungan erat. Singkatnya secara tradisional agama sudah merupakan institusi pokok yang mementingkan akulturism dari pada egoism.
Comte berpandangan bahwa, individu sedemikian besarnya dipengaruhi dan dibentuk oleh lingkungan sosial, sehingga satuan masyarakat yang asasi adalah bukan individu-individu, melainkan keluarga-keluarga. Keteraturan sosial juga bergantung pada pembagian pekerjaan dan kerja sama ekonomi.
Comte mengemukakan bahwa pemerintah merupakan suatu gejala sosial alamiah yang dapat diruntut bentuk dasarnya, sampai pada masyarakat-masyarakat primitive. Tetapi pemerintah akan meluas, begitu masyarakat menjadi menjadi lebih kompleks karena bertambahnya pembagian kerja.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Penjelasan dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa August Comte merupakan anak keluarga katolik yang terkenal dengan kepandaiaya dalam masalah filsafat positifistik.
Teori-teori comte merpakan contoh yng sama dri type mekanis eorik dan organik. Dalam menaggapi kekacaun politik dalam masanya, dalam posisi ada tradisi pencerahan filsafat, ia mengembangkan model naturalisik dan konservativ dari realitas sosial yang didasarkan pada sumsi determanistik dan anturlistik yang menyankut gejala sosial. Menurur ahli teori ini, sistem sosial terdiri dari statis dan dinamis yang didasarkan pada seperangakt nilai sosial terentu yang pada akhirnya ditemukan pada naluri kemanusian sebagai dasar dari tata aturan alam.
Struktur-struktur sosial sebga satu kesatuan yang berkembang melalui tiga tahapan utama, tahapan teologis, metafsis, dan pisitivistis sebagai proses peradaban dan pengaruh faktor-faktor tertentu, sepeti keboosanan, harapan hidup, sifat-sifat populasi, mengubah pondasi masyarakat dari tatanan naluri yang rendah menuju tatanan yang tinggi dan mengarah pada penekannan yang lebih bersifat intelektual dan positiv.
DAFTAR PUSTAKA
Johnson, Doyle Paul. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka
Kinloloch, Graham C. 2005. Perkembangan dan Paradigma Utama Teori Sosiologi. Bandung: Pustaka Setia
Ritzer, George. 1985. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: CV. Rajawali
Ritzer, George. Goodman, Douglas J. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Mengawali tinjuan kita mengenai tahap klasik dari teori sosiologi dengan Comte, merupakan suatu hal yang arbitrer. Banyak idenya sudah tidak dikembangkan lagi oleh pengikut-pengikutnya. Juga sosiologi masa kini mungkin merasa tidak berutang budi terhadap Comte sebanyak pada Emile Durkheim, yang mengikutinya selama empiris yang sudah dibayangkan Comte walaupun demikian, sumbangan Comte terhadap perkembangan sosiologi jauh lebih penting dari pada yang sering diketahui; secara kreatif dia menyusun sintesa dari banyak aliran pikiran yang bertentangan yang sudah dikembangakan oleh orang lain, dan dia sangat mengusulkan untuk mendirikan ilmu tentang masyarakat dengan suatu dasar empiris yang kuat (atau positif).
Dilihat secara keseluruhan karyanya mencerminkan banyak dilema dan ketegangan yang masih ada dalam usaha sosiologi misalnya, ketegangan antara stabilitas dan kemajuan, antara perspektif ilmiah deterministis dan perspektif moral yumanistik. Comte lah yang memberikan istilah “Sosiologi” untuk menggantikan istilah yang mulanya dinamakan “fisika sosial”, yang ditolaknya ketika Quitelet mulai menggunakan istilah ini untuk menggambarkan studi statistik yang dirintisnya sendiri.
RUMUSAN MASALAH
1. Siapakah Auguste Comte?
2. Teori apasajakah yang dikemukakan Auguste Comte?
3. Bagaimana pendapat Auguste Comte mengenai hubungan ntara tahap-tahap intelektual dengan orgnisasi sosial?
TUJUAN
Untuk mengetahui siapa Auguste Comte, memperjelas akan teori-teori yang dikemukakanya dan memberitahukan pembagian-pembagian tahap evolusi pola pikir manusia dalam masyarakat dan orgnisasi sosial.
BAB II
PEMBAHASAN
A. SKETSA BIOGRAFIS AUGUSTE COMTE
Auguste comte lahir di Mountpelier, perancis, 19 januari 1798. Orang tuannya berstatus kelas menengah dan ayahya kemudian menjadi pejabat lokal kantor pajak. Meski tergolong cepat menjadi mahasiswa, ia tak pernah mendapat ijazah perguruan Negeri. Dalam setiap kelasnya Ecole Polytecnique, Comte bersama seluruh kelasnya di keluarkan karena gagasan politik dan pemberontakan yang mereka lakukan. Pemecatan ini berpengaruh dalam karir akademis Comte. Tahun 1817 ia menjadi sekretaris (dan menjadi anak angkat) Saint-Simon, filsof yang 40 tahun lebih tua. Mereka bekerjasama sangat akrab selama beberapa tahun dan Comte menyatakan utang budinya kepada Saint-Simon, ia memberikan dorongan sangat besar kepada ku dalam studi filsafat yang memungkinkan diriku menciptakan pemikiran filsafat ku sendiri dan yang akan aku ikuti tanpa ragu selama hidup ku.
Comte terkenal mempunyai daya ingat yang luar biasa, berkat daya ingatnya ia mampu menceritakan kembali kata-kata yang tertulis di satu halaman buku yang sekali di baca kemampuan yang sedemikian rupa sehingga ia mampu mengungkapkan keseluruahan isi sebuah buku yang akan ditulisnya tanpa harus menulisnya. Kuliahnya di sajikan tanpa berbekal catatan, bila ia duduk untuk menulis buku, ia menuliskan segalanya dari ingatan. Tahun 1826 Comte membuat sebuah catatan-catatan yang kemudian menjadi bahan kuliah umum sebanyak 72 kali tentang pemikiran filsafatnya. Ceramah itu dilakukan dirumahnya sendiri kuliah itu menarik minat kalangan orang terpandang. Tetapi setelah jalan tiga kali kuliah itu terhenti karena comte mengalami gangguan syaraf. Sejak itu ia terus terserang ganggua mental. Di tahun1827 ia mencoba bunuh diri dengan mencebur ke sungai Saine, untungnya ia selamat.
Pada tahun 1823 ia diberi jabatan sebagai asisten dosen, tahun 1837 ia diberi pekerjaan tambahan akhlak untuk menguji. Comte berkosentrasi menulis 6 jilid buku yang membuatnya sangat terkenal, berjudul Cour de Philosophie Positive, yang akhirnya diterbitkan secara utuh pada 1842 jilid pertama terbit tahun1830. Pada 1844 jabatan asisten dosennya di perpanjang, tahun 1851 ia menyelesaikan 5 jilid yang berjudul System Politique Positive. Yang mengandung pemikiran lebih praktis dan menawarkan rencana besar mengorganisasi masyarakat. Dan setelah itu pada 5 september 1857 Comte meninggal dunia.
B. Perspektif Positivistis Comte Tentang Masyarakat
Meskipun Comte yang memberikan istilah”positivisme”, gagasan yang terkandung dalam kata itu bukan dari dia asalnya. Kaum positivis percaya bahwa masyarakat menggunakan bagian dari alam dan bahwa metode-metode penelitian dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukumnya, sudah tersebarluas dilingkungan dia hidup. Skeptisisme Comte yang berhubungan dengan usaha-usaha pembaruan besar-besaran serta penghargaanya terhadap tonggak-tonggak keteraturan tradisional mengakibatkan dia dimasukkan kategori orang konservatif.
Comte melihat masayarakat sebagai sesuatu yang keseluruhan organik yang kenyatannya lebih dari pada sekedar jumlah bagian yang tergantung. Comte menempatkan dunia ide sebagai sebagai pokok persoalan studi sosiologi, ia lebih menekankan ide keteraturan masyarakat (social order) dari pada berusaha melakukan penelitian empiris. Tetapi untuk mengerti kenyataan ini, metode penelitian empiris digunakan dengan keyakinan bahwa masyarakat merupakan sesuatu bagian dari alam seperti halnya gejala fisik. Andreski berpendapat, “pendirian Comte bahwa masayarakat merupakan bagian alam dan bahwa memperoleh pengetahuan tentang masayarakat menurut penggunaan metode-metode penelitian dari empiris dan ilmu alam lainya”. Merupakan sumbanganya yang tak terhinngga nilainya terhadap perkembangan sosiologi. Tentu saja keyakinan inilah, dan bukan substantifnya tentang masyarakat yang bernilai bagi usaha sosiologi sekarang ini.
Comte melihat perkembangan ilmu tentang masyarakat yang bersifat alamiah ini sebagai puncak suatu proses intelektual yang logis melalui mana semua ilmu-ilmu sudah melewatinya. Kemajuan ini mencakup perkembangan mulai dari bentuk-bentuk pemikiran teologis purba, penjelasan metafisik, sampai ke terbentuknya hukum-hukum ilmiah yang positif. Bidang sosiologi (atau fisika sosial) adalah paling akhir melewati tahap-tahap ini, karena pokok permasalahanya lebih kompleks dari pada ilmu fisika dan biologi.
Mengatasi cara-cara berfikir mutlak yang terdapat dalam tahap-tahap pra-posirtiv, menerima kenisbian pengatahuan kita serta terus menerus terbuka terhadap kenyataan-kenyataan baru, merupakan ciri khas yang membedakan pendekatan positiv yang digambarkan Comte.
Dalam konteks kemasyarakatan Comte, dapat dipahami bahwa tujuan utama sosiologinya ialah mengalami konstruksi kemasyarakatan masyarakat modern secara revolusioner (seperti menghentikan disorganisasi moral). Ia tertarik dengan organisasi masyarakat dalam konteks humanisme positivistik filsafahnya.
Sejak melakukan fondasi terhadap masyarakat, gagasan sosiologinya menekankan pada tuntutan moral. Ia berusaha mengembangkan ”fisika sosial” yang akan melahirkan hukum-hukum sosial dan reorganisasi sosial, sesuai dengan sistem Comte yang banyak bernilai dan dipandang sebagai hal yang sangat natural.
Menurut Comte, alam semesta diatur oleh hukum-hukum alam yang tak terlihat (invisable natural) sejalan dengan evolusi dan perkembangan alam pikiran atau nilai-nilai sosial yang dominan.
Comte juga membagi sistem sosial menjadi dua bagian penting, yaitu masyarakat dan hukum-hukum keberadaan manusia sebagai makhluk sosial dan yang kedua adalah dinamika sosial atau hukum-hukum perubahan sosial. Yang mendasari sistem ini adalah naluri kemanusiaan yang terdiri dari atas tiga faktor utama tersebut ialah:
1. Naluri-naluri pelestarian (naluri seksual maupun material)
2. Naluri-naluri perbaikan (dalm bidang militer dan industri)
3. Naluri sosial (kasih sayang, pemujaan dan cinta semesta )
Diantara ketiganya ada naluri kebanggaan dan kesombongan.
I. Metodologi
Menurut Comte, metode positif mengarah pada perkembangan kebenaran organis (kebenaran yang paling tinggi). Metode ini mengembangkan penggunaan observasi (penelitian), percobaan (exsperiment), serta perbandingan untuk memahami keseluruhan statisika dan dinamika sosial, metode-metode tersebut memberi gambaran terhadap hukum-hukum sosial melalui eksperimentasi, baik secara langsung maupun tak langsung, sebagai halnya evolusi masyarakat secara umum, dengan cara ini Comte sebagaimana metodologi yang mengarah perkembangan yang lebih luas terhadap model teorinya yang didasarkan organik dan natural, yaitu pada asumsi-asumsi organik dan natural.
II. Tipologi
Sebagaimana dikatakan sebelumnya, Comte membagi model masyarakat menjadi dua bagian utama, yaitu model masyarakat statis dan masyarakat yang dinamis yang menggambarkan struktur kelembagaan masyarakat dan prinsip perubahan social. Adapun unsur-unsur masyarakat statis meliputi:
1. Sifat-sifat sosial, yang didalamnya berisi tentang agama, seni, keluarga, kekayaan dan organisasi sosial
2. Sifat kemanusian, meliputi naluri, emosi, perilaku dan intelegensi
Sedangkan unsur-unsur masyarakat dinamis terdiri atas:
1. Perubahan social dan faktor-faktor yang behubungan dengan tingkatan kebosanan masyarakat, usia harapan hidup, perkembangan hidup
2. Tingkat perkembangan intelektual yang sangat cepat.
C. Hukum Tiga Tahap Comte tentang Proses Evolusi Manusia
Hukum tiga tahap merupakan usaha Comte untuk menjelaskan kemajuan evolusioner umat manusia dari masa peradaban perancis abad ke-19 yang sangat maju. Hukum ini, yang mungkin paling terkenal dari gagasan-gagasan teoritis pokok Comte tidak lagi diterima sebagai suatu penjelasan mengenai perubahan sejarah secara memadai. Juga terlalu luas dan umum sehingga tidak dapat benar-benar tunduk terhadap pemgujian empiris secara teliti, yang menurut Comte harus ada untuk mmbentuk hukum sosiologi.
Singkatnya, hukum itu menyatkan bahwa masyarakat (umat manusia) berkembang melalui tiga tahap utama. Tahap-tahap ini dtentukan menurut cara berfikir yang dominan teologis, metafisik, dan positive. (Ingat bahwa masing bidang-bdang ilmu melalui tahap-tahap ini juga). Lebih lagi, pengaruh cara berfikir yang berbeda-beda ini meluas kepola kelembagaan dan organisasi sosial masyarakat. Adi watak stuktur sosial masyarakat bergantung pada gaya etimologisnya atau pandangan dunia, atau cara mengenal dan menjelaskan gejala yang dominan.
• Comte menjelaskan hukum tiga tahap sebagai berikut:
Dari studi mengenai perkembangan inteligensi manusia, di segala penjuru dan melalui segala zaman, penemuan muncul dari suatu hukum dasar yang besar,… Inilah hukumnya: bahwa setiap konsepsi kita yang paling maju-setiap cabang pengetahuan kita-berturut-turut melalui tiga kondisi teoretis yang berbeda: teologis atau fiktif: metafisik atau abstrak; ilmiah atau positif. Dengan kata lain pikiran manusia pada dasarnya, dalam perkembangannya, menggunakan tiga metode berfilsafat yang karakternya sangat berbeda dan malah sangat bertentangan… yang pertama merupakan titik tolak yang harus ada dalam pemahaman manusia; Yang kedua suatu keadaan peralihan; dan yang ketiga adalah pemahaman dalam keadaan yang asli dan tak tergoyahkan.
• Karakter yang khusus dari ketiga tahap ini disajikan secara singkat sebagai berikut:
Dalam fase teologis, akal budi manusia, yang mencari kodrat dasar manusia, yakni sebab pertama dan sebab akhir (asal dan tujuan) dari segala akibat, pengetahuan absolute mengandaikan bahwa gejala dihasilkan oleh tindakan langsung dari hal-hal supernatural, Dalam fase metafisik, yang hanya merupakan suatu bentuk lain dari yang pertama, akal budi mengandaikan bukan hal sipranatural, melainkan kekuatan-kekuatan abstrak, hal-hal yang benar-benar nyata melekat pada semua benda (abstraksi-abstraksi yang dipersonifikasi), dan yang mampu menghasilkan semua gejala. Dalam fase terakhir, yakni fase positif, akal budi sudah meniggalkan pencarian yang sia-sia terhadap pengertian-pengertian absolute, asal dan tujuan alam semesta, serta sebab-sebab gejala, dan memusatkan perhatiannya pada studi tentang hukum-hukumnya yakni hubungan-hubungan urutan dan persamaannya yang tidak berubah. Penalaran dan pengamatan, digabumgkan secara tepat, merupat sarana-sarana pengetahuan ini.
Tahap teologis merupakan periode yang paling lama dalam sejarah manusia, dan untuk analisa yang lebih terperinci, Comte membaginya kedalam periode fetisisme, politisme, dan monoteisme,. Fetisisme, bentuk pikiran yang dominan dalam masyarakat primitive, meliputi kepercayaan bahwa semua bena memiliki kelengkapan kekuatan hidup sendiri. Akhirnya fetisisme diganti dengan kepercayaan akan sejumlah hal-hal supernatural yang meskipun berbeda dengan benda-benda alam, namun terus mengontrol semua gejala alam. Begitu pikiran manusia terus maju, kepercayaan akan banyak dewa itu diganti dengan kepercayaan akan satu yang tiggi. Katolisisme di abad pertengahan meperlihatkan puncak tahap monoteisme.
Tahap metafisik terutama merupakan tahap transisi antara tahap teologis dan positif. Tahap ini ditandai oleh suatu kepercayaan akan hukum-hukum alam yang asasi yang dapat ditemukan dengan akal budi. Protestantisme dan Deisme memperlihatkan penyesuaian yang berturut-turut dari semangat teologis ke munculnya semangat metafisik yang mantap. Satu manifestasi yang serupa dari semangat ini dinyatakan dalam Declaration of Independence: “ kita menganggap kebenara ini jelas dari dirinya sendiri…” Gagasan bahwa ada kebenaran tertentu yang asasi mengenai hukum alam yang jelas dengan sendirinya menurut pikiran manusia, sagat mendasar dalam cara berfikir metafisik.
Tahap positif ditandai oleh kepercayaan akan data empiris sebagai sumber pengetahuan terakhir. Tetapi pengetahuan selalu sementara sifatnya, tidak mutlak; semangat positivism memperlihatkan suatu keterbukan terus-menerus terhadap data baru atas dasar mana pengetahuan dapat ditinjau kembali dan dipeluas. Akal budi penting, seperti dalam periode metafisik, tetapi harus dipimpin oleh data empiris. Analisa rasional mengenai data empiris akhirnya akan memungkinkan manusia untuk memperoleh hukum-hukum dilihat sebagai uniformitas empiris lebih dari pada kemutlakan metafisik.
Metode positif memungkinkan seseorang untuk menemukan dan memahami hukum-hukum alam dan gejala-gejala sosial, sehingga mampu mengembangkan potensi intelekual dan tatanan moral yang akan menyatukan kemajuan dan keteraturan bertentangan dengan situasi kacau yang masih berlangsung sekarang ini, sosiologi harus merupakan ilmu yang terpadu dan menyatu, berdasarkan metode positif yang secara langsung memberi sumbangan terhadap evolusi sebuah tatanan moral. Oleh karena itu, Comte memandang seluruh pengetahuan sebagai ilmu sosial alam dalam pengertianya yang luas karena ia menggambarakan perkembangan konteks sosial, khususnya sebagai salah satu dari tiga tahapan intelektual tersebut.
D. Hubungan antara Tahap-Tahap Intelektual dan Organisasi Sosial
Argumentasi-argumentasi Comte untuk menjelaskan hubungan-hubungan secara terperinci menekankan bahwa dalam tahap teologis, dukungan dari otoritas religius yang mengesahkan adalah perlu menanamkan disiplin sosial yang perilaku untuk kegiatan militer. Kegiatan militer diperlukan hanya karena hal itu merupakan cara yang paling menarik dan paling sederhana untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan materil. Juga mentalitas teologis dan militer, seperti yang dianalis Comte, sangat bersifat mutlaki.
Selama periode teologis, keluarga merupakan satuan sosial yang dominan (meskipun ada kelompok-kelompok yang lebih besar yang didirikan untuk kegiatan militer, atau sebagai hasil dari pengadaan militer). Dalam periode metafisik Negara-negara menjadi suatu organisasi yang dominan. Comte optimis bahwa munculnya tahap positif, nasionalisme akan digantikan dangan keteraturan sosial yang meliputi humanitas seluruhnya. Terkandung dalam diskusi mengenai arti sosial dari ketiga fase ini. Adalah pengaruhnya terhadap perasaan manusia. Sehubungan dengan evolusi intelektual, ada evolusi perasaan yang dibatasi oleh lingakaran yang makin lama makin luas dengan mana individu menentukan ikatan-ikatan emosionalnya. Pada tahap awal manusia dikenal terutama dengan keluarganya; kemudian ikatan emosional meluas; akhirya manusia terasa terikat dengan humanitas keseluruhannya.
Comte mungkin mau menjelaskan bagaimana penjelasan-penjelasan religius mengenai berbagai gejala disebagian besar kalangan penduduk modern masih diberikan dengan cara ini. Tetapi kebanyakan ahli sosiologi agama masa kini akan mengemukaan bahwa pemikiran agama modern berorientasi dunia pengetahuan yang berbeda secara kualitatif dari ilmu pengetahuan ; miasalnya, ilmu berhubungan dengan penjelasan mengenai gejala empiris, tetapi agama berhubungan dengan pertanyaan tentang arti tujuan hidup, yang tidak biasa dijawab dengan metode-metode ilmiah.
Cepatnya perubahan dari satu tahap intelektual ke yang berikutnya, berlainan dalam periode sejarah yang berbrda-beda. Beberapa periode ditandai dengan stabilitas yang agak tinggi, apabila konsensus atas dasar kepercayaan dan pandangan-harmonis pandangan adalah relatif tinggi, dan organisasi sosial, struktur politik, cita-cita moral, dan kondisi-kondisi materil memperlihatkan suatu tingkat saling ketergantungan harmonis yang tinggi. Sebaliknya periode-periode dimana perubahan yang pesat dari suatu tahap (tahap kecil) ke tahap berikutnya sedeang terjadi, ditandai oleh kekacauan intlektual dan sosial.
Meskipun hukum kemajuan menjamin evolusi jangka panjang dari suatu tahap ke tahap berikutnya, berbagai faktor sekunder dapat mempercepat atau menghambat, misalnya pertumbuhn penduduk. Proses evolusi dapat dihambat oleh dominasi filsafat yang berkepanjangan, yang merupakan kiblat dari usaha-usaha kelompok konservatif untuk mengatasi kekacauan suatu periode transisi dengan mengemukakan kembali metode yang cocok dengan periode sebelumnya. juga dapat dihalangi oleh usaha untuk mengadakan perubahan yang demikian radikalnya sehingga mereka menghancurkan keteraturan sosial yang mendasar yang perlu untuk kemajuan intelektual atau sosial.
Comte sangat tajam dalam mencela mereka yang mau mengubah masyarakat tanpa secukupnya sadar akan batas-batas yang diberikan oleh hukum-hukum dasar mengenai kemajuan atau sumbangan-sumbangan yang bernilai secara sosial dari tahap-tahap sebelumnya. Mereka yang mau meningkatkan kemajuan tanpa sadar akan persyaratan-persyaratan keteraturan, sebenarnya mendukung bertahannya keadaan transisi anarkis.
E. Prinsip-prinsip Keteraturan Sosial
Analisa Comte mengenai keteraturan sosial dapat dibagi dalam dua fase. Pertama, usaha untuk menjelaskan keteraturan sosial secara empiris dengan menggunakan metode positif. Kedua, usaha untuk meningkatkan keteraturan sosial sebagai suatu cita-cita yang normatif dengan menggunakan metode-metode yang bukan tidak sesuai dengan positivism, tetapi yang menyagkut perasaan dan intelek.
Satu sumbangan sosial Comte yang penting dari tahap perkembangan pra-positif adalah bahwa mereka mementingkan konsensus intelektual. Konsensus terhadap kepercayaan-keparcayaan serta pandangan-pandangan dasar selalu merupakan dasar utama untuk solidaritas dalam masyarakat. Karen kebanyakan sejarah manusia berada di bawah dominasi cara berpikir teologis, tidak mengherankan kalau agama dilihat utama sebagai sumber solidaritas sosial dan konsensus. Selain ini isi kepercayaan agama mendorong individu untuk berdisiplin dalam mencapai tujuan yang mengatasi kepentingan individu dan meningkatkan perkembangan ikatan emosional yang mempersatukan individu dalam keteraturan sosial.
Pentingnya agama dalam mendukung solidaritas sosial dapat dilihat dalam kenyataan bahwa otoritas politik dan agama biasanya berhubungan erat. Singkatnya secara tradisional agama sudah merupakan institusi pokok yang mementingkan akulturism dari pada egoism.
Comte berpandangan bahwa, individu sedemikian besarnya dipengaruhi dan dibentuk oleh lingkungan sosial, sehingga satuan masyarakat yang asasi adalah bukan individu-individu, melainkan keluarga-keluarga. Keteraturan sosial juga bergantung pada pembagian pekerjaan dan kerja sama ekonomi.
Comte mengemukakan bahwa pemerintah merupakan suatu gejala sosial alamiah yang dapat diruntut bentuk dasarnya, sampai pada masyarakat-masyarakat primitive. Tetapi pemerintah akan meluas, begitu masyarakat menjadi menjadi lebih kompleks karena bertambahnya pembagian kerja.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Penjelasan dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa August Comte merupakan anak keluarga katolik yang terkenal dengan kepandaiaya dalam masalah filsafat positifistik.
Teori-teori comte merpakan contoh yng sama dri type mekanis eorik dan organik. Dalam menaggapi kekacaun politik dalam masanya, dalam posisi ada tradisi pencerahan filsafat, ia mengembangkan model naturalisik dan konservativ dari realitas sosial yang didasarkan pada sumsi determanistik dan anturlistik yang menyankut gejala sosial. Menurur ahli teori ini, sistem sosial terdiri dari statis dan dinamis yang didasarkan pada seperangakt nilai sosial terentu yang pada akhirnya ditemukan pada naluri kemanusian sebagai dasar dari tata aturan alam.
Struktur-struktur sosial sebga satu kesatuan yang berkembang melalui tiga tahapan utama, tahapan teologis, metafsis, dan pisitivistis sebagai proses peradaban dan pengaruh faktor-faktor tertentu, sepeti keboosanan, harapan hidup, sifat-sifat populasi, mengubah pondasi masyarakat dari tatanan naluri yang rendah menuju tatanan yang tinggi dan mengarah pada penekannan yang lebih bersifat intelektual dan positiv.
DAFTAR PUSTAKA
Johnson, Doyle Paul. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka
Kinloloch, Graham C. 2005. Perkembangan dan Paradigma Utama Teori Sosiologi. Bandung: Pustaka Setia
Ritzer, George. 1985. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: CV. Rajawali
Ritzer, George. Goodman, Douglas J. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana
Kamis, 14 April 2011
1. Socrates(470-399 SM)
Posisi Socrates bagi filsafat Dunia sungguh unik. Unik sebab keberadaannya bagi filsafat melahirkan implikasi yang seakan paradoks. Paradoksi tersebut tercermin dalam dua gambaran kata, yakni signifikan namun sekaligus membingungkan. Signifikan karena pemikirannya dinilai secara langsung berpengaruh kepada muridnya Plato, dan Plato adalah tokoh penting bagi perkembangan filsafat selanjutnya. Membingungkan sebab dari Socrates tidak ditemukan bukti tertulis apapun yang bisa menjelaskan bagaimana sesungguhnya pemikiran ia yang orisinil.[1] Semua tentang Socrates ditemukan dalam catatan murid-muridnya seperti Plato, Xenophanes, Aristoteles dan Aristophanes.[2]
Ada catatan menarik dalam bukunya Gregory Vlastos, Socrates: Ironist and Moral Philosopher. Di dalam buku ini dijelaskan bahwa tokoh Socrates bisa jadi memiliki dua pengertian berbeda. Pertama, Socrates sebagai tokoh atau individu yang faktual dalam sejarah. Kedua, Socrates sebagai tokoh konseptual bayangan Plato dengan segenap sistem filsafatnya. Di katakan dalam buku tersebut bahwa buku catatan Dialog Plato dapat dikelompokkan menjadi dua. Pertama, dialog-dialog elenctic (elenctic dialogues) yakni; Apology, Charmides, Crito, Euthyphro, Gorgias, Hippias Minor, Ion, Laches, Protagoras dan Republic. Kedua, dialog-dialog transisi (transitional dialogues) yakni; Euthydemus, Hippias Major, Lysis, Menexenus dan Meno. Kelompok dialog pertama banyak menggambarkan Socrates sebagai pribadi dalam sejarah, sedangkan kelompok kedua mengkonsepkan Socrates sebagai konsep dan tokoh rekaan bayangan Plato.[3]
Socrates menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Athena. Hampir seluruh hidupnya tersebut diabdikan bagi negara, masyarakat dan filsafat. Yang mengesankan dari Socrates adalah bahwa ia tidak menjadikan pengajaran tentang kebijaksanaan kepada masyarakat sebagai profesi untuk mencari penghasilan. Berbeda dengan kebanyakan kaum sofis. Hal inilah yang menjadikan betapa Plato dan murid-muridnya yang lain begitu menaruh hormat secara pribadi kepada Socrates.
Yang terpenting yang dianggap sebagai peninggalan Socrates adalah metode kefilsafatan dan epistemologi. Metode kefilsafatan Socrates dikenal sebagai metode elenchos. Metode ini berupa dialog dengan menanyakan sejumlah daftar pertanyaan dan mempersoalkan kembali jawaban dari lawan bicara. Kebanyakan tema dialog yang diajukan pada saat itu adalah tentang keadilan dan kebaikan. Berikutnya metode ini dikenal sebagai meutika tekne atau intellectual midwife yakni metode yang mirip dengan teknik bidan dalam membantu kelahiran. Bahwa kebenaran yang datang tidak datang dari orang lain tetapi datang dari setiap individu itu sendiri. Sebagai catatan, banyak yang berpendapat bahwa metode Socrates ini diinspirasi oleh Ibu Socrates, Phaenarete yang saat hidup berprofesi sebagai bidan.
Metode Socrates juga dikenal sebagai metode percakapan negatif. Negatif karena hampir semua isi pertanyaan adalah eliminasi atau pemojokan dari kepercayaan-kepercayaan masa lalu seseorang. Tujuan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan ini tidak lain adalah agar seseorang senantiasa menguji keyakinan dan pengetahuannya sendiri. Semacam metode verifikasi untuk mengukur validitas pengetahuan. Dia pernah berkata, “saya tahu anda tidak akan menganggap saya, akan tetapi manusia yang hebat adalah manusia yang mampu mempertanyakan tentang dirinya sendiri dan orang lain.”[4]
Tidak ada yang tahu persis kenapa Socrates meninggal secara tragis dengan meminum racunnya sendiri akibat hukuman. Banyak polemik menyangkut fakta ini. Banyak yang berpendapat bahwa Socrates dihukum oleh pengadilan Athena sebab ia cenderung memuji Sparta dan tidak loyal kepada demokrasi yang dianut Athena. Pendapat lain menyatakan bahwa dia dianggap meracuni pikiran-pikiran masyarakat Athena mengenai isu-isu moral dan kepercayaan beragama. Sehingga diputuskan bahwa melalui metode dialektika-negatifnya, Socrates dianggap berbahaya dengan wabah keragu-raguan bagi generasi Athena berikutnya. Socrates dihukum dan secara terhormat memilih mati dengan keyakinannya yang tetap di genggaman.
2. Plato (428-347 SM)
Plato adalah murid terbaik Socrates. Dilahirkan di Athena dari keluarga bangsawan. Namun karena kedekatannya dengan Socrates dan pemikirannya, maka sama sekali ia tidak tertarik dengan dunia politik. Pasca kematian Socrates karena pengadilan yang janggal, Plato mengembara ke beberapa tempat sekedar mengekspresikan kekecewaannya terhadap pemerintahan Athena. Ada yang mengatakan ia berkelana ke Sisilia dan Italia, bahkan hingga ke Mesir.[5]
Setelah lama berkelana, ia pun kembali ke Athena dan mulai merintis mendirikan Akademi. Akademi disebut-sebut sebagai model Universitas pertama di Dunia.
Plato dikenal menghasilkan banyak catatan kefilsafatan yang berbentuk dialog-dialog. Dialog-dialog yang terkenal adalah; Apology, Charmides, Crito, Euthyphro, Gorgias, Hippias Minor, Ion, Laches, Protagoras, Republic, Phaedo, Symposium, Timaeus, Euthydemus, Hippias Major, Lysis, Menexenus dan Meno.
Metafisika Plato yang terkenal adalah apa yang juga dipikirkan oleh Socrates, bahwa kenyataan ini tersusun dari dua hal yang tidak bisa didamaikan, dunia material dan dunia spiritual. Dunia material baginya adalah bayangan dunia yang sesungguhnya, dunia spiritual. Menurut Plato, “kebanyakan manusia bahagia dengan hidup tanpa perenungan”, eu a-mousoi. Hal ini ironis, sebab kualitas hidup tertinggi adalah pada saat manusia menutup mata dan mampu keluar dari kungkungan dunia material. Plato dengan fasih mengumpamakannya dengan kisah manusia gua yang selamanya hanya akan melihat bayangan kecuali dia berjuang membebaskan diri untuk ke luar gua.[6]
Teori tentang “bentuk” Plato juga diinspirasi oleh Socrates. Bentuk adalah arketip atau abstraksi dari pengalam fisik yang terjadi di sekitar manusia. Pengalaman fisik serba rusak dan berubah, namun bentuk tidak bisa rusak atau berubah.
Di dalam epistemologi, Plato berpendapat bahwa pengetahuan sejatinya adalah kepercayaan benar yang telah mengalami proses pembenaran atau justifikasi. Pengetahuan adalah pemahaman menyeluruh tentang “bentuk” yang tidak berubah dan hubungan antara satu bentuk dengan bentuk lainnya. Sama seperti Socrates, Plato sepakat dengan konsep pengetahuan rekoleksi atau anamnesis. Bahwa jiwa itu abadi dan tidak punah. Jiwa yang abadi ini berinkarnasi kepada tubuh-tubuh lain yang akan dilahirkan. Setiap manusia telah mempunyai pengetahuannya sendiri tentang bentuk yang tak berubah, hanya saja ia melupakan pengetahuan tersebut dikarenakan shock saat kelahiran. Dunia pengalaman dan dunia fisik hanya membantu manusia mengingatkan pengetahuan yang sebenarnya pernah ia miliki.
3. Aristoteles (384-322 BC)
Aristoteles adalah tokoh besar dengan pemikiran besar. Dia adalah murid Plato dan Socrates, guru dan mentor Alexander the Great. Belakangan diketahui bahwa Aristoteles juga merupakan tutor bagi Raja Firaun Ptolemy I Soter di Mesir dan Raja Cassander di Babilonia. Bersama Plato dan Socrates, Aristoteles adalah tokoh filsafat yang sangat penting bagi dunia Barat dan Dunia. Signifikansi Aristoteles disebabkan pemikirannya yang lengkap dan luas tentang semua hal, mulai dari moral, estetika, logika, sains, politik hingga metafisika.
Fisika Aristoteles mengobarkan intelektual masa pertengahan dan menginspirasi masa renaissans terus kembali dikutip oleh fisika klasik Newton.[7] Observasinya tentang ilmu hewan dan logika bahkan masih relevan di masa abad ke-19 M. Metafisika Aristoteles mempengaruhi hampir semua agama, masa skolastik kekristenan, hingga etika modern. Praktis, semua yang pernah dibangun Aristoteles, masih relevan menjadi bahan kajian intelektual di masa kini.
Aristoteles dilahirkan di Stageira dalam keluarga bangsawan pembantu Amyntas Raja Makedonia. Ia dididik secara baik oleh lingkungan aristokrasi Makedonia. Pada usia 18 mulai bergabung belajar di Akademi Plato. Pada tahun 335 SM, ia mendirikan sekolahnya sendiri, Lyceum di Athena.
Di dalam logika, Aristoteles terkenal dengan penemuan logika formalnya. Menurut Kant, logika Aristoteles identik dengan inferensi deduktif. Sebenarnya, Aristoteles menyebut logikanya sendiri dengan “analitik”. Dan dia memaksudkan pengertian logika sebagai dialektika. Pemikiran Aristoteles khusus tentang logika terwadahi dalam buku-bukunya yang tergabung dalam Organon. Organon tersebut tersusun dari 6 bagian yakni Categories, On Interpretation, Prior Analytics, Posterior Analytics, Topics dan On Sophistical Refutations.
Dialektika atau metode penemuan kefilsafatan Aristoteles yang aplikatif memuat tiga tahapan:
a) Peneliti harus mengumpulkan data yang bisa diamati atau tampak (fenomena). Verifikasi fenomena tidak hanya diukur lewat observasi empiris, namun juga harus bisa dipertanggung jawabkan secara luas dan berdasarkan otoritas keumuman universal.
b) Data yang terkumpul mulai dihubungkan satu sama lain dan jika terdapat kejanggalan dalam pola hubungannya (paradoks maupun kontradiksi), maka peneliti harus memecahkan kejanggalan tersebut.
c) Jika kejanggalan tetap tidak bisa diselesaikan, maka peneliti berhak merevisi data. Merevisi berarti boleh mempertahankan temuan yang relevan dan berhak membuang temuan yang tidak relevan.[8]
Aristoteles, sama seperti Plato, berusaha menemukan prinsip universal atas pengetahuan. Berbeda dengan Plato yang menyatakan bahwa yang universal adalah yang melampaui benda partikular dan bersifat prototipe atau exemplar, menurut Aristoteles, yang universal ditemukan dalam setiap yang partikular. Aristoteles menyebutnya sebagai esensi, atau inti benda-benda. Hal inilah yang membedakan Aristoteles yang realis dari Plato yang idealis.
Di dalam pembagian Aristoteles, sains terkelompokkan dalam tiga rumpun; teoritis, praktis dan puitis. Sains teoritis adalah matematika, fisika dan metafisika. Sains praktis adalah etika dan politik. Sedangkan sains puitis adalah puisi dan seni lainnya. Istilah sains yang dimaksudkan waktu itu berbeda dengan konsep sains yang berkembang di masa sekarang.
Di dalam fisika, Aristoteles menambahkan elemen ether untuk melengkapi 4 elemen yang pernah diperkenalkan oleh Democritus atau Empedocles tentang api, air, udara dan tanah. Ether adalah subtansi rohani yang berfungsi mengangkat ruang angkasa tempat bintang-bintang dan planet-planet.
SUMBER BACAAN
Donal M. Borchert, ed.all. The Encyclopedia of Philosophy Supplement (New York: Simon & Schuster Macmillan, 1996).
Ted Honderich, ed.all. The Oxford Companion to Philosophy (Oxford: Oxford University Press, 1995).
http://en.wikipedia.org/wiki/Socrates.
http://en.wikipedia.org/wiki/Plato
http://en.wikipedia.org/wiki/Aristotle
Posisi Socrates bagi filsafat Dunia sungguh unik. Unik sebab keberadaannya bagi filsafat melahirkan implikasi yang seakan paradoks. Paradoksi tersebut tercermin dalam dua gambaran kata, yakni signifikan namun sekaligus membingungkan. Signifikan karena pemikirannya dinilai secara langsung berpengaruh kepada muridnya Plato, dan Plato adalah tokoh penting bagi perkembangan filsafat selanjutnya. Membingungkan sebab dari Socrates tidak ditemukan bukti tertulis apapun yang bisa menjelaskan bagaimana sesungguhnya pemikiran ia yang orisinil.[1] Semua tentang Socrates ditemukan dalam catatan murid-muridnya seperti Plato, Xenophanes, Aristoteles dan Aristophanes.[2]
Ada catatan menarik dalam bukunya Gregory Vlastos, Socrates: Ironist and Moral Philosopher. Di dalam buku ini dijelaskan bahwa tokoh Socrates bisa jadi memiliki dua pengertian berbeda. Pertama, Socrates sebagai tokoh atau individu yang faktual dalam sejarah. Kedua, Socrates sebagai tokoh konseptual bayangan Plato dengan segenap sistem filsafatnya. Di katakan dalam buku tersebut bahwa buku catatan Dialog Plato dapat dikelompokkan menjadi dua. Pertama, dialog-dialog elenctic (elenctic dialogues) yakni; Apology, Charmides, Crito, Euthyphro, Gorgias, Hippias Minor, Ion, Laches, Protagoras dan Republic. Kedua, dialog-dialog transisi (transitional dialogues) yakni; Euthydemus, Hippias Major, Lysis, Menexenus dan Meno. Kelompok dialog pertama banyak menggambarkan Socrates sebagai pribadi dalam sejarah, sedangkan kelompok kedua mengkonsepkan Socrates sebagai konsep dan tokoh rekaan bayangan Plato.[3]
Socrates menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Athena. Hampir seluruh hidupnya tersebut diabdikan bagi negara, masyarakat dan filsafat. Yang mengesankan dari Socrates adalah bahwa ia tidak menjadikan pengajaran tentang kebijaksanaan kepada masyarakat sebagai profesi untuk mencari penghasilan. Berbeda dengan kebanyakan kaum sofis. Hal inilah yang menjadikan betapa Plato dan murid-muridnya yang lain begitu menaruh hormat secara pribadi kepada Socrates.
Yang terpenting yang dianggap sebagai peninggalan Socrates adalah metode kefilsafatan dan epistemologi. Metode kefilsafatan Socrates dikenal sebagai metode elenchos. Metode ini berupa dialog dengan menanyakan sejumlah daftar pertanyaan dan mempersoalkan kembali jawaban dari lawan bicara. Kebanyakan tema dialog yang diajukan pada saat itu adalah tentang keadilan dan kebaikan. Berikutnya metode ini dikenal sebagai meutika tekne atau intellectual midwife yakni metode yang mirip dengan teknik bidan dalam membantu kelahiran. Bahwa kebenaran yang datang tidak datang dari orang lain tetapi datang dari setiap individu itu sendiri. Sebagai catatan, banyak yang berpendapat bahwa metode Socrates ini diinspirasi oleh Ibu Socrates, Phaenarete yang saat hidup berprofesi sebagai bidan.
Metode Socrates juga dikenal sebagai metode percakapan negatif. Negatif karena hampir semua isi pertanyaan adalah eliminasi atau pemojokan dari kepercayaan-kepercayaan masa lalu seseorang. Tujuan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan ini tidak lain adalah agar seseorang senantiasa menguji keyakinan dan pengetahuannya sendiri. Semacam metode verifikasi untuk mengukur validitas pengetahuan. Dia pernah berkata, “saya tahu anda tidak akan menganggap saya, akan tetapi manusia yang hebat adalah manusia yang mampu mempertanyakan tentang dirinya sendiri dan orang lain.”[4]
Tidak ada yang tahu persis kenapa Socrates meninggal secara tragis dengan meminum racunnya sendiri akibat hukuman. Banyak polemik menyangkut fakta ini. Banyak yang berpendapat bahwa Socrates dihukum oleh pengadilan Athena sebab ia cenderung memuji Sparta dan tidak loyal kepada demokrasi yang dianut Athena. Pendapat lain menyatakan bahwa dia dianggap meracuni pikiran-pikiran masyarakat Athena mengenai isu-isu moral dan kepercayaan beragama. Sehingga diputuskan bahwa melalui metode dialektika-negatifnya, Socrates dianggap berbahaya dengan wabah keragu-raguan bagi generasi Athena berikutnya. Socrates dihukum dan secara terhormat memilih mati dengan keyakinannya yang tetap di genggaman.
2. Plato (428-347 SM)
Plato adalah murid terbaik Socrates. Dilahirkan di Athena dari keluarga bangsawan. Namun karena kedekatannya dengan Socrates dan pemikirannya, maka sama sekali ia tidak tertarik dengan dunia politik. Pasca kematian Socrates karena pengadilan yang janggal, Plato mengembara ke beberapa tempat sekedar mengekspresikan kekecewaannya terhadap pemerintahan Athena. Ada yang mengatakan ia berkelana ke Sisilia dan Italia, bahkan hingga ke Mesir.[5]
Setelah lama berkelana, ia pun kembali ke Athena dan mulai merintis mendirikan Akademi. Akademi disebut-sebut sebagai model Universitas pertama di Dunia.
Plato dikenal menghasilkan banyak catatan kefilsafatan yang berbentuk dialog-dialog. Dialog-dialog yang terkenal adalah; Apology, Charmides, Crito, Euthyphro, Gorgias, Hippias Minor, Ion, Laches, Protagoras, Republic, Phaedo, Symposium, Timaeus, Euthydemus, Hippias Major, Lysis, Menexenus dan Meno.
Metafisika Plato yang terkenal adalah apa yang juga dipikirkan oleh Socrates, bahwa kenyataan ini tersusun dari dua hal yang tidak bisa didamaikan, dunia material dan dunia spiritual. Dunia material baginya adalah bayangan dunia yang sesungguhnya, dunia spiritual. Menurut Plato, “kebanyakan manusia bahagia dengan hidup tanpa perenungan”, eu a-mousoi. Hal ini ironis, sebab kualitas hidup tertinggi adalah pada saat manusia menutup mata dan mampu keluar dari kungkungan dunia material. Plato dengan fasih mengumpamakannya dengan kisah manusia gua yang selamanya hanya akan melihat bayangan kecuali dia berjuang membebaskan diri untuk ke luar gua.[6]
Teori tentang “bentuk” Plato juga diinspirasi oleh Socrates. Bentuk adalah arketip atau abstraksi dari pengalam fisik yang terjadi di sekitar manusia. Pengalaman fisik serba rusak dan berubah, namun bentuk tidak bisa rusak atau berubah.
Di dalam epistemologi, Plato berpendapat bahwa pengetahuan sejatinya adalah kepercayaan benar yang telah mengalami proses pembenaran atau justifikasi. Pengetahuan adalah pemahaman menyeluruh tentang “bentuk” yang tidak berubah dan hubungan antara satu bentuk dengan bentuk lainnya. Sama seperti Socrates, Plato sepakat dengan konsep pengetahuan rekoleksi atau anamnesis. Bahwa jiwa itu abadi dan tidak punah. Jiwa yang abadi ini berinkarnasi kepada tubuh-tubuh lain yang akan dilahirkan. Setiap manusia telah mempunyai pengetahuannya sendiri tentang bentuk yang tak berubah, hanya saja ia melupakan pengetahuan tersebut dikarenakan shock saat kelahiran. Dunia pengalaman dan dunia fisik hanya membantu manusia mengingatkan pengetahuan yang sebenarnya pernah ia miliki.
3. Aristoteles (384-322 BC)
Aristoteles adalah tokoh besar dengan pemikiran besar. Dia adalah murid Plato dan Socrates, guru dan mentor Alexander the Great. Belakangan diketahui bahwa Aristoteles juga merupakan tutor bagi Raja Firaun Ptolemy I Soter di Mesir dan Raja Cassander di Babilonia. Bersama Plato dan Socrates, Aristoteles adalah tokoh filsafat yang sangat penting bagi dunia Barat dan Dunia. Signifikansi Aristoteles disebabkan pemikirannya yang lengkap dan luas tentang semua hal, mulai dari moral, estetika, logika, sains, politik hingga metafisika.
Fisika Aristoteles mengobarkan intelektual masa pertengahan dan menginspirasi masa renaissans terus kembali dikutip oleh fisika klasik Newton.[7] Observasinya tentang ilmu hewan dan logika bahkan masih relevan di masa abad ke-19 M. Metafisika Aristoteles mempengaruhi hampir semua agama, masa skolastik kekristenan, hingga etika modern. Praktis, semua yang pernah dibangun Aristoteles, masih relevan menjadi bahan kajian intelektual di masa kini.
Aristoteles dilahirkan di Stageira dalam keluarga bangsawan pembantu Amyntas Raja Makedonia. Ia dididik secara baik oleh lingkungan aristokrasi Makedonia. Pada usia 18 mulai bergabung belajar di Akademi Plato. Pada tahun 335 SM, ia mendirikan sekolahnya sendiri, Lyceum di Athena.
Di dalam logika, Aristoteles terkenal dengan penemuan logika formalnya. Menurut Kant, logika Aristoteles identik dengan inferensi deduktif. Sebenarnya, Aristoteles menyebut logikanya sendiri dengan “analitik”. Dan dia memaksudkan pengertian logika sebagai dialektika. Pemikiran Aristoteles khusus tentang logika terwadahi dalam buku-bukunya yang tergabung dalam Organon. Organon tersebut tersusun dari 6 bagian yakni Categories, On Interpretation, Prior Analytics, Posterior Analytics, Topics dan On Sophistical Refutations.
Dialektika atau metode penemuan kefilsafatan Aristoteles yang aplikatif memuat tiga tahapan:
a) Peneliti harus mengumpulkan data yang bisa diamati atau tampak (fenomena). Verifikasi fenomena tidak hanya diukur lewat observasi empiris, namun juga harus bisa dipertanggung jawabkan secara luas dan berdasarkan otoritas keumuman universal.
b) Data yang terkumpul mulai dihubungkan satu sama lain dan jika terdapat kejanggalan dalam pola hubungannya (paradoks maupun kontradiksi), maka peneliti harus memecahkan kejanggalan tersebut.
c) Jika kejanggalan tetap tidak bisa diselesaikan, maka peneliti berhak merevisi data. Merevisi berarti boleh mempertahankan temuan yang relevan dan berhak membuang temuan yang tidak relevan.[8]
Aristoteles, sama seperti Plato, berusaha menemukan prinsip universal atas pengetahuan. Berbeda dengan Plato yang menyatakan bahwa yang universal adalah yang melampaui benda partikular dan bersifat prototipe atau exemplar, menurut Aristoteles, yang universal ditemukan dalam setiap yang partikular. Aristoteles menyebutnya sebagai esensi, atau inti benda-benda. Hal inilah yang membedakan Aristoteles yang realis dari Plato yang idealis.
Di dalam pembagian Aristoteles, sains terkelompokkan dalam tiga rumpun; teoritis, praktis dan puitis. Sains teoritis adalah matematika, fisika dan metafisika. Sains praktis adalah etika dan politik. Sedangkan sains puitis adalah puisi dan seni lainnya. Istilah sains yang dimaksudkan waktu itu berbeda dengan konsep sains yang berkembang di masa sekarang.
Di dalam fisika, Aristoteles menambahkan elemen ether untuk melengkapi 4 elemen yang pernah diperkenalkan oleh Democritus atau Empedocles tentang api, air, udara dan tanah. Ether adalah subtansi rohani yang berfungsi mengangkat ruang angkasa tempat bintang-bintang dan planet-planet.
SUMBER BACAAN
Donal M. Borchert, ed.all. The Encyclopedia of Philosophy Supplement (New York: Simon & Schuster Macmillan, 1996).
Ted Honderich, ed.all. The Oxford Companion to Philosophy (Oxford: Oxford University Press, 1995).
http://en.wikipedia.org/wiki/Socrates.
http://en.wikipedia.org/wiki/Plato
http://en.wikipedia.org/wiki/Aristotle
AGAMA YUNANI KUNO
A. PENDAHULUAN
Seperti halnya agama bangsa Babilonia, agama bangsa Yunani Kuno juga termasuk jenis Agama Ardli yang dibangun (diciptakan) oleh suatu bangsa, maka sifat-sifat subjektivitas, kebudayaan dan alam lingkungan bangsa Yunani pada zamannya akan mewarnai agama yang dibangunnya. Untuk itu sebelum kita memasuki pada persoalan inti (pengkajian tentang agama bangsa Yunani Kuno) terlebih dahulu kita perlu sejarah bangun jatuhnya peradaban, kondisi sosial politik kerajaan Yunani, dan peninggalan peradaban Yunani Kuno. Dengan mengetahui sejarah bangun jatuhnya peradaban, kondisi sosial politik, dan peninggalan peradaban dari Yunani Kuno, berarti kita telah memiliki rujukan sebagai tempat pengembalian permasalahan yang sekitarnya tak terpecahkan dalam pembahasan.
B. SEJARAH BANGUN JATUHNYA PERADABAN YUNANI KUNO
Gambar 1. Wilayah Yunani
Sumber: Karen Amstrong, The Great Transformation, (Bandung : Mizan Media Utama, 2007), 119.
Sekitar tahun 3000 sampai dengan tahun 1500 SM di Pulau Kreta dan di Mikene (Mycenaean: Yunani bagian selatan) telah tumbuh dan berkembang kebudayaan yang berarti. Orang-orang Kreta berasal dari Asia Kecil dan orang-orang Mikene dari Eropa bagian utara.
Pembauran antara orang-orang yang berasal dari Pulau Kreta dan orang-orang Mikene membentuk kebudayaan Laut Aegea ini lebih dikenal dengan kebudayaan Minoa (berasal dari kata Minos, yaitu Raja Kreta). Karena alam lingkungan yang memiliki lautan, maka kebudayaan Minoa yang berarti adalah kebudayaan yang berhubungan dengan maritim dan bangunan gedung-gedung di kota.
Bangsa Yunani adalah orang Indo Eropa, yang telah mulai bermukim di wilayah itu sekitar tahun 2000SM. Seperti bangsa Aria di India, mereka tidak mempunyai kenangan tentang stepa, dan berasumsi bahwa leluhur mereka telah sejak awal tinggal di Yunani. Tetapi, mereka bicara dengan dialek Indo-Eropa dan memiliki beberapa budaya serta kebiasaan agama yang sama dengan Indo-Aria. Api dipandang penting dalam kultus Yunani, dan orang Yunani juga sangat senang berkompetisi.
Kehidupan masyarakat Yunani yang mendiami wilayah beriklim mediteranian yang selalu hangat dan segar, memungkinkan bersikap optimis dan berwatak riang. Suasana langit yang terang tanpa banyak awan di daerah Attica (Athena) juga menyebabkan semangat penduduknya tinggi dan kreasinya menonjol. Itu sebabnya di Athena berkembang pesat kebudayaan baik di bidang seni maupun ilmu pengetahuan dan filsafat.
Masa akhir kejayaan Yunani dikarenakan oleh dua sebab, di antaranya:
1.) Perang Peloponesos (431-404 SM)
Disebabkan karena polis Athena yang memimpin persekutuan polis-polis di jazirah Attica (disebut liga Delos) memiliki pengaruh yang terlalu kuat baik dibidang politik dan ekonomi Yunani sehingga banyak polis yang khawatir menjadi sasaran ekspansi dan dikuasai Athena. Keadaan ini menyebabkan Sparta memnjadi pemimpin Liga Peloponesos bangkit memimpin polis-polis lain menghadapi Athena (perang saudara).
2.) Yunani dikuasai oleh Aleksander Agung dari Macedonia
Perang Peloponesos mengakibatkan Yunani terpecah-pecah dan semakin lemah. Dengan mudah pada tahun 338 SM raja Philipus dari Macedonia dapat menaklukkan Yunani. Philipus terbunuh dan digantikan oleh putranya Aleksander Agung yang memerintah pada tahun 336-323 SM.
Cita-cita Aleksander adalah menguasai kerajaan dunia pada waktu itu yang meliputi Eropa (Yunani), Afrika (Mesir), dan Asia (Mesopotamia dan Persia). Untuk mewujudkan cita-cita tersebut Aleksander memimpin pasukannya melakukan berbagai penaklukan.
Di setiap daerah yang diduduki raja menganjurkan prajuritnya menikahi putri setempat. Aleksander menikahi Roxana, putri Raja Darius III dari Persia, juga putri Persia lain yang bernama Stateira. Di wilayah kekuasaannya raja memadukan budaya setempat dengan budaya baru disebut Hellenisme.
Hellena (Helenis) atau Hella (Hellas) adalah sebutan baru bagi orang-orang Yunani. Kata ’Helenis’ yang merupakan nama umum baru orang-orang Yunani, berarti ’penduduk kota Hellas’. Sementara ’hellas’ sendiri adalah sebuah distrik di Yunani tengah yang mempunyai banyak kuil seperti kuil Artemis di Athena dekat Thermopylae, kuil dewa Bumi, kuil dewa Apollo, dan kuil dea Dionysos di Delphi.
Periode Hellenistik bermula pada 323 SM, ditandai dengan berakhirnya penaklukan Aleksander Agung, dan diakhiri dengan penaklukan Yunani oleh Republik Romawi pada 146 SM. Meskipun demikian berdirinya kekuasaan Romawi tidak memutuskan kesinambungan sistem sosial kemasyarakatan dan budaya Yunani, yang tetap tidak berubah hingga bangkitnya agama Kristen, yang menandai runtuhnya kemerdekaan politik Yunani.
C. KONDISI SOSIAL POLITIK KERAJAAN YUNANI
Abad kedelapan merupakan periode yang menakjubkan di Yunani. Dalam rentang waktu yang relatif singkat, orang Yunani keluar dari zaman kegelapan dan meletakkan fondasi bagi budaya mereka yang unik. Perkembangan abad kedelapan yang paling penting adalah penciptaan polis, yaitu negara-kota yang kecil dan berdiri sendiri, tempat para warganya belajar seni pemerintahan mandiri.
Yunani tidak pernah memiliki sistem pemerintahan sentralisasi melainkan desentralisasi, karena tiap-tiap polis mengembangkan sistem pemerintahan masing-masing. Dua polis terkemuka di Yunani adalah:
1.) Sparta
Konstitusi Sparta membagi masyarakat menjadi tiga golongan: ”citizens” atau orang-orang Sparta yang jumlahnya 5-10% dari seluruh penduduk. Mereka terdiri dari para penguasa dan tentara. ”kaum Helot”, merupakan sebagian besar dari penduduk yang bekerja sebagai petani, buruh tani, dan pelayan dari orang-orang Sparta. ”Peiroikoi” yaitu yang tinggal di pinggiran kota, hidup sebagai petani, pedagang dan bekerja di pertambangan.
Sistem pemerintahan Sparta bersifat militeris, dengan mengutamakan latihan kemiliteran disiplin yang keras bagi masyarakat. Pemerintahan Sparta dijalankan oleh 2 orang raja yang absolut dan turun-temurun. Selain raja, ada jabatan ephor selaku penasehat yang berjumlah 5 orang. Lembaga yang lain beranggotakan 28 orang atau lebih, disebut Gereousia. Gereousia memiliki hak veto terhadap undang-undang yang diajukan oleh DPR. Anggota DPR adalah semua laki-laki warga kota Sparta yang berusia 30 tahun atau lebih, mereka bersidang di setiap bulan purnama. Dapat dikatakan Sparta merupakan dunia laki-laki. Laki-laki berperan sebagai tentara pembuat hukum dan peraturan. Kegiatan wanita terbatas sebagai istri, ibu dan pengatur rumah tangga.
2.) Athena
Kehidupan di Athena berbeda dengan di Sparta. Jika warga Sparta mempunyai kewajiban untuk tugas-tugas pemerintahan negara, maka warga Athena dalam suasana demokrasi memiliki kemedekaan berpikir, berpendapat serta maju dalam bidang politik, ekonomi, seni bangunan, maupun seni sastra. Sistem pemerintahan di Athena mengenal beberapa lembaga antara lain:
a.) Archon, yaitu pelaksana pemerintahan berjumlah 9 orang.
b.) Aeropagos, yaitu dewan yang mengawasi pelaksanaan pemerintahan archon, sekaligus merangkap sebagai mahkamah agung.
c.) Boule, semacam DPR yang memiliki tugas menetapkan archon, meminta pertanggung jawaban archon, dan menghukum archon.
d.) Dalam bidang pertahanan dan keamanan dipegang oleh 10 orang ahli siasat perang yang menguasai angkatan darat dan angkatan laut.
Untuk menjaga kehidupan yang demokratis maka ada kebiasaan untuk mengasingkan atau mengucilkan seorang penguasa yang pada 1 tahap dalam pemerintahannya telah dicurigai berusaha menjadi penguasa mutlak yang dapat membahayakan negara. Tindakan pengucilan disebut ”Ostrakisme”.
D. PENINGGALAN PERADABAN YUNANI KUNO
1. Sastra
Pada masa Homer, telah menciptakan dua puisi yaitu yang terkenal dengan Iliad dan Odyssey. Iliad menggambarkan satu insiden kecil tentang perang Troya-sebuah pertikaian, benturan ego yang sengit, antara Agamemnon, raja Myceneae dan pemimpin tentara Yunani, dan Achilles, kapten salah satu skuadronnya. Ketika merasa kehormatannya telah diserang, Achilles menggoyahkan kepentingan seluruh Yunani dengan menarik semua anak buahnya dari keributan itu. Dalam konflik yang kemudian merebak, teman baik Achilles, Patroclus, terbunuh secara tragis oleh Hector, putra Raja Priam dari Troy. Odyssey berlatarkan seusai perang dan mendeskripsikan sepuluh tahun perjalanan Odysseus, yang harus bepergian menembus berbagai negara asing hingga dia akhirnya bersatu kembali dengan istrinya, Ithaca. Iliad dan Odyssey telah disebut sebagai Alkitab Yunani karena ideal-ideal dan nilai-nilainya menjejakkan kesan yang tak terhapuskan pada budaya Hellenik.
2. Seni bangunan
Pada awalnya seni patung/ pahat Yunani menghasilkan patung seperti bangsa Mesir, kemudian dikembangkan menjadi lebih hidup dengan gaya naturalis. Seni pahat menghasilkan berbagai patung para dea maupun tokh yang terkenal, misalnya Dewa Zeus, Perikles, Plato, Aristoteles, dan lain-lain. Terdapat pula kuil Parthenon, yang dipersembahkan kepada Dewa Athena.
Gambar 2. Kuil Pathenon
Sumber: http//www.wikipedia.com
4. Filsafat
Beberapa ahli filsafat Yunani adalah:
a. Socrates (469-399 SM). Ajarannya tentang filsafat etika dan kesusilaan dengan logika sebagai dasar untuk membahasnya. Socrates mengajarkan agar manusia dapat membedakan yang baik dan yang buruk, benar atau salah, adil atau tidak adil. Ajarannya ditujukan kepada anak muda yang diajaknya berdiskusi. Ia akhirnya dihukum mati dengan minum racun karena tuduhan telah merombak dasar-dasar etika masyarakat Yunani kuno, serta tidak percaya kepada dewa-dewa yang disembah masyarakat.
b. Plato (427-347 SM). Ajaran filsafatnya disebut filsafat ide. Ia menulis banyak buku, salah satunya berjudul ”Republika”. Dalam buku tersebut diuraikan tentang kebahagiaan hidup yang dapat dicapai bila manusia bekerja dengan wataknya dan wanita diangkat pusat derajatnya. Plato juga mendirikan Acadermus.
5. Ilmu Pengetahuan
Kemajuan bangsa Yunani dibidang ilmu pengetahuan dapat dilihat dari deretan ilmuwan sebagai berikut:
a. Pythagoras, ahli matematika yang melahirkan dalil untuk segitiga siku-siku.
b. Hipokrates, bapak kedokteran. Hipokrates dapat menyebutkan timbulnya penyakit dan cara mengobatinya. Yang ditulis dalam buku berjudul ”Aphorismen” dan ”Prognose”. Sumbangannya yang terkenal adalah sumpah dokter yang berkembang sekarang.
c. Archimedes, menciptakan teori gravitasi dan teori benda mengapung.
d. Thales, berpendapat bahwa alam fisik terdiri dari satu bahan dasar yaitu air.
e. Demokritus, ahli atom.
f. Euclid, ahli ilmu ukur.
g. Herodotus, bapak sejarah yang pertama kali mengembangkan sejarah tertulis.
6. Abjad Yunani
Abjad Yunani telah digunakan untuk menuliskan bahasa Yunani sejak akhir abad ke-9 SM atau awal abad ke-8 SM. Abjad Yunani Ini merupakan tulisan alfabet tertua yang masih digunakan sekarang. Huruf-huruf ini juga digunakan untuk mewakili angka Yunani (nomor), sejak abad ke-2 SM.
E. AJARAN AGAMA YUNANI KUNO
1. Mitos
Selain percaya pada para dewa, orang Yunani juga percaya dalam kelangsungan hidup jiwa (psuche), setelah kehidupan tubuh berakhir. Jiwa yang yang mengalami kematian, setelah perjalanan panjang melalui lembah air besar, mencapai bawah (neraka), yang merupakan tempat yang gelap dan sedih, dimana jiwa orang mati yang ada di bayangan samar-samar dan substansial. Jauh di bawah alam kematian, adalah wilayah Tartaores, dimana orang fasik menderita hukuman. Seseorang tentu saja mencapai Elysium, yang merupakan tempat musim semi abadi. Orang-orang Yunani juga percaya pada roh-roh orang mati yang berbahaya, yang dikenal dengan keres.
2. Ritual
Ritual Dionisia diamati untuk ketuhanan fertilitas, Dionysus, dalam bentuk senang dan kekerasansakramental umumnya diselenggarakan di temapat-tempat terpencil di pegunungan., sehingga pecandu dapat menikmati menari liar dengan anggur dan musik. Ritual ini termasuk makan daging mentah dari hewan yang diidentikkan dengan Dionysus. Irama musik, sinar dari obor, yang berayun mengiringi tarian dan makan daging dengan anggur memberikan kegilaan malam pesta pora kekuatan untuk meningkatkan kesadaran untuk realisasi ketuhanan.
Pengorbanan adalah wajib sebelum semua perang dan perjanjian dilakukan. Untuk dewa Olympia, korban dianggap sebagai hadiah yang tepat dan bukti kepatuhan. Setiap dewa memilih hewan tertentu untuk kurban seperti sapi untuk Hera, sapi untuk Athena, banteng untuk Zeus, babi dan anjing untuk Demeter dan Herates, dan kuda untuk Poseidon. Korban diminta untuk bebas dari cacat fisik, karena kalu tidak, dewa itu mungkin tidak akan senang.
4. Festival
Peranan festival menambah warna kehidupan beragama, politik, dan budaya masyarakat Yunani. Beberapa festival dijelaskan sebagai berikut:
a. Antheresia: seolah-olah didedikasikan untuk Dionysus, ini adalah festival musim semi pencabutan dan keengganan dari hantu melalui ritual pengorbanan manusia digabungkan dengan ritual pengorbanan hewan. Ritual berlangsung selama tiga hari. Pada hari pertama disebut pithogia, atau hari roh yang baik, tong-tong anggur dibuka dan ditawarkan sebagai persembahan kepada dewa kemudian diminum dengan bersuka ria dalam proses kontes minum. Kontes berlanjut pada hari kedua dikenal sebagai Choes dan pada hari ketiga yang dikenal sebagai Chytroi. Adapun tujuan utama dari festival adalah untuk menyingkirkan hantu dengan cara pendamaian.
b. Thargelia: ini adalah festival musim panas awal pengumpulan buah pertama dari panen. Penawaran tersebut adalah semacam hadiah yang diberikan kepada dewa.
c. Thesmophoria: ini adalah festival kuno purbakala yang dilakukan oleh perempuan di akhir musim gugur pada kesempatan kegiatan menabur. Ini melibatkan kebangkitan dari beberapa babi, dan menaburkan daging busuk di ladang sebagai formula ajaib untuk menjamin kesuburan tanah.
d. Panathenaeaa: festival ini dirayakan pada musim panas setiap tahun, tetapi setiap perayaan tahun keempat dilakukan secara spektakuler dan indah. Diikuti oleh prosesi obor, kontes atletik, pertarungan dan bacaan bardic adalah acara yang paling populer dalam festival.
e. Olimpiade: ini adalah festival besar Zeus, diadakan setiap musim panas keempat di sisi Alpheius, sungai dekat kuil dewa. Perayaan berlangsung selama lima hari, persembahan anggur kepada dewa dan pengorbanan ditawarkan di altar Zeus.
F. DEWA-DEWA YUNANI KUNO
Bangsa Yunani Kuno pada fase pertama dan sebelum mengenal dewa, kehidupan rohaniahnya separti bangsa-bangsa lain, pertama bangsa itu memuja dan menyembah daya-daya alam, totem-totem, roh nenek moyang dan kler atau pimpinan tertinggi dari anggota keturunan. Daya-daya alam mereka puja dan sembah agar tidak mengganggu dan mencelakakan dirinya, bahkan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan mereka.
Selain daya-daya alam, bangsa Yunani pada masa purbanya juga memuja dan menyembah totem tombuh-tumbuhan dan totem hewan. Pemujaan terhadap nenek moyang juga dilakukan oleh mereka. Mereka memuja dan menyembah kepada roh nenek moyang yang dimaksudkan, pertama sebagai rasa terima kasih tentang jasa-jasa yang diberikan pada waktu mereka hidup di dunia, kedua agar selalu memberi perlindungan kepada mereka dan ketiga, selalu memberi petunjuk mengenai masalah-masalah yang akan terjadi pada kehidupan manusia.
Dalam dunia Yunani tidak ada tuhan pencipta yang maha penyayang dan tidak ada titah ilahi pada titik awal waktu. Yang ada hanyalah kebencian dan konflik tanpa ampun. Pada awalnya, demikian dikisahkan, ada dua kekuatan asali: Chaos dan Gaia (Bumi). Mereka terlalu kejam untuk berprokreasi sehingga mereka menghasilkan keturunan secara sendiri-sendiri. Gaia menghasilkan Uranus (Langit), Tuhan Langit, dan kemudian melahirkan lautan, sungai-sungai, perbukitan, pegunungan di dunia kita. Kemudian Gaia dan Uranus berpadu, dan Gaia melahirkan enam putra dan enam putri. Inilah para Titan, ras pertama dewa-dewa.
Sementara itu, Chaos, kekuatan asali kedua, telah melahirkan keturunan-keturunannya yang mengerikan pula: Erebus (”Tempat Gelap”, di retakan bumi yang terdalam) dan Malam. Malam kemudian menghasilkan anak-anak perempuan yang mencakup Nasib (Moirai), Ruh Maut (Keres), dan tiga Pembalas Dendam (Erinyes). Erinyes yang paling menakutkan; Orang Yunani menggambarkan mereka sebagai penyihir perempuan yang menjijikkan, berkalungkan ular, merangkak dengan empat kaki untuk membaui mangsa mereka, merenguh dan melonglong seperti anjing. Sebuah mitos mengatakan mereka lahir dari tetesan darah yang jatuh di bumi ketika Kronus memotong kemaluan Uranus. Jadi mereka lebih mereka lebih tua daripada keluarga Olympian, dan kekejaman keluarga telah tertorehkan pada wujud mereka sendiri.
Gambar 3. Silsilah Dewa-dewa Yunani
Sumber: Karen Amstrong, The Great Transformation, (Bandung : Mizan Media Utama, 2007), 64.
Gambar 4. Silsilah dewa-dewa Yunani
Sumber: Karen Amstrong, The Great Transformation, (Bandung : Mizan Media Utama, 2007), 65.
Beberapa Dewa Yunani yang terpenting adalah :
1. Zeus: Dewa langit, yang menguasai langit, badai, hujan, dan musim kemarau, juga melindungi tamu keluarga dan menjaga rumah.
2. Poseidon (Neptunus): Dewa Laut; Dewa kuda dan yang penyebab sesuatu dari gempa bumi.
3. Hades dan Pluto: Dewa Dunia Bawah.
4. Demeter: Dewi panen.
5. Hera: Dewi Perkawinan; permaisuri Zeus.
6. Athena (Minerva): Dewa Keberanian dan Kemenangan.
7. Apollo: Dewa Malapetaka serta Pemurnian, juga Dewa Gembala, serta Dewa Matahari yang di puja oleh para penyair dan penyanyi.
8. Ares: Dewa Perang.
9. Themis: Dewa Keadilan.
10. Eros: Mereka adalah Dewa Gairah Seksual.
11. Aphrodite (Venus):
12. Nemesis: Dewa Keadilan.
13. Daimon: Semangat yang baik yang melindungi ketahanan rumah.
14. Dioscuri: Dewa Perayaan-perayaan.
15. Apollo Agyieus: Dewa Bina Marga, yang membawa keberuntungan.
Terdapat beberapa dewa lain di dalam buku ”Ancient and Indian”:
16. Hermes: Dewa Pelindung Ternak.
17. Hephaetus: Dewa Api dan pelindung pengrajin.
18. Dewi Rumah dan Perapian.
19. Dionysus/Zagreus: Dewa Anggur, Kehidupan Kesuburan, dan Kegembiraan.
Orang Yunani mengkategorikan dewa mereka ke dalam dua kelompok, yaitu para Dewa Olympian (alam surgawi) dan pada Dewa Chthonian (yang hidup jauh di kedalaman bumi). Para dewa Olympian tinggal di gunung Olympus, yang berada di Yunani Utara. Mereka diyakini sebagai ’surga’, karena mereka tinggal di tempat tertinggi dan peduli pada alam yang lebih tinggi.
Sedangkan Dewa Chthonian adalah semua dewa lain, yang tidak berasal dari keluarga Olympian (Demeter dan Dionysus). Istilah Yunani ”Chthonian” secara harfiah berarti ”orang-orang bumi”. Ungkapan ”orang-orang bumi” tidak berarti bahwa para dewa, yang termasuk ke dalam kelompoknya adalah kekuatan jahat atau musuh para dewa. Para Dewa Chthonian tidak dapat diidentifikasi dengan musuh bumi, kelahiran para dewa dalam mitologi Yunani, yaitu para raksasa dan monster. Para dewa Chthonian dianggap ’duniawi’ karena mereka menduduki alam bawah tanah dan terlibat dengan kesuburan bumi, alam dan kematian dan alam serupa yang terkait dengan dunia bawah.
1.) DEWA CHTHONIAN MINOR (kecil)
Dalam mitologi Yunani, kita menemukan sejumlah dewa Chthonian kecil.. ada gemuruh-dewa, Zeus Chthous, yang mengutus hujan dan kesuburan bumi. Seringkali ia digambarkan sebagai ular. Kita bisa menyebutkan Hades, dewa dunia kematian. Dia dianggap tak terkalahkan. Ketika ia memasuki hidup seseorang, tidak ada yang bisa menang atas Hades. Seringkali ia diidentikkan dengan Pluto, dewa kekayaan, sebagai harta yang tersembunyi di dalam tanah. Makhluk yang paling terkenal adalah Heroes (pahlawan). Mereka diakui sebagai manusia yang kuat yang tinggal di bumi. Orang Yunani percaya bahwa meskipun mereka mati, mereka memiliki kekuatan untuk membantu manusia yang masih hidup di bumi. Heracles merupakan salah satu pahlawan terkenal Yunani.
2.) MAKHLUK SPIRITUAL LAINNYA
Di luar Dewa Olympian dan Dewa Chthonian, ada dewa lain yang cukup penting karena tempat mereka dalam mitologi Yunani. Dewa ini tidak termasuk dalam kategori di atas, tetapi mereka muncul dalam mitologi Yunani dan sastra. Helios dewa matahari, yang bergerak di kolong surga. Eos adalah dewi fajar. Aeolus adalah dewa angin. Pan adalah dewa pastronal yang melindungi kawanan. Dia digambarkan dengan telinga kambing, jenggot dan alis bertanduk.
Selain percaya pada para dewa, orang Yunani percaya bahwa alam dipenuhi dengan berbagai macam makhluk ghaib, seperti Styr, Sileni, dan Peri. Ada jenis yang berbeda yang menjadi pengikut Artemis: peri gunung (Oreads), peri pohon (Dryads) dan peri mata air (Naiads). Selain itu ada yang setengah kuda dan setengah laki-laki.
G. KESIMPULAN
Masyarakat Yunani adalah masyarakat dengan peradaban yang cukup maju pada saat itu. Banyak peninggalan-peninggalan dari bangsa Yunani kuno yang masih dikenang dan dikembangkan sampai sekarang. Seperti bangunan sejarah, tulisan, filsafat, dan ilmu pengetahuan.
Dalam hal beragama, masyarakat Yunani kuno mempercayai banyak dewa (Politeisme). Mereka percaya bahwa alam semesta yang mereka tempati ada yang menguasai. Pemujaan dengan persembahan korban pun dilakukan untuk menghormati dan membuat para dewa senang, dan sebagai rasa syukur terhadap pemberian yang telah diberikan oleh para dewa.
DEWA-DEWA YUNANI KUNO
Gambar 5 dan 6. Dewa Athena dan Dewa Apollo
Sumber: rahmatmessidona10.blogspot.com
Demeter Apollo
Gambar 7. Dewa Hermes Gambar 8. Dewa Demeter
Sumber: unik.supersun.com Sumber: ulax.wordpress.com
Gambar 9. Dewa Hephaestus Gambar 10. Dewa Ares
Sumber: sman11mks.com Sumber: yasirmaster.blogspot.com
Gambar 11. Dewa Aphrodite Gambar 12. Dewa Dionysus
Sumber: gaulbox.com Sumber: tidak-selalu.blogspot.com
Gambar 13 dan 14. Dewa Artemis dan Dewa Hestia
Sumber: pernahkahkaumendengar.com
Gambar 15. Dewa Hades Gambar 16. Dewa Hera
Sumber: noretz-area.blogspot.com Sumber: abufatih.blogspot.com
Gambar 17. Dewa Poseidon Gambar 18. Dewa Zeus
Sumber: bomi-tuntungan.blogspot.com Sumber: titathatia.blogspot.com
DAFTAR PUSTAKA
A. George, Vensus, Paths to The Divine: Ancient and Indian, Washington D.C: The Concil for Research in Values and Philosophy, , 2008
Ahmed, Moinuddin, Religions of All Mankind, Delhi: Kitab Bhavan, 1784
Amstrong, Karen, The Great Transformation, Bandung: Mizan Media Utama, 2007
Sukardji, K., Agama-agama yang Berkembang di Dunia dan Pemeluknya, Bandung: Angkasa Bandung, 1993
Toynbee, Arnold, Sejarah Umat Manusia, Jakarta: Pustaka Pelajar, 2004
http//www.wikipedia.com
http//www.scribd.com/dos/29765448/PERADABAN-YUNANI-KUNO-Tembolok.
http//prayudi.wordpress.com/.../abjad-yunani-dan-notasi-ilmiah/-Tembolok-Mirip.
http//titathatia.blogspot.com
http// yasirmaster.blogspot.com
http// rahmatmessidona10.blogspot.com
http// bomi-tuntungan.blogspot.com
http// noretz-area.blogspot.com
http// abufatih.blogspot.com
A. PENDAHULUAN
Seperti halnya agama bangsa Babilonia, agama bangsa Yunani Kuno juga termasuk jenis Agama Ardli yang dibangun (diciptakan) oleh suatu bangsa, maka sifat-sifat subjektivitas, kebudayaan dan alam lingkungan bangsa Yunani pada zamannya akan mewarnai agama yang dibangunnya. Untuk itu sebelum kita memasuki pada persoalan inti (pengkajian tentang agama bangsa Yunani Kuno) terlebih dahulu kita perlu sejarah bangun jatuhnya peradaban, kondisi sosial politik kerajaan Yunani, dan peninggalan peradaban Yunani Kuno. Dengan mengetahui sejarah bangun jatuhnya peradaban, kondisi sosial politik, dan peninggalan peradaban dari Yunani Kuno, berarti kita telah memiliki rujukan sebagai tempat pengembalian permasalahan yang sekitarnya tak terpecahkan dalam pembahasan.
B. SEJARAH BANGUN JATUHNYA PERADABAN YUNANI KUNO
Gambar 1. Wilayah Yunani
Sumber: Karen Amstrong, The Great Transformation, (Bandung : Mizan Media Utama, 2007), 119.
Sekitar tahun 3000 sampai dengan tahun 1500 SM di Pulau Kreta dan di Mikene (Mycenaean: Yunani bagian selatan) telah tumbuh dan berkembang kebudayaan yang berarti. Orang-orang Kreta berasal dari Asia Kecil dan orang-orang Mikene dari Eropa bagian utara.
Pembauran antara orang-orang yang berasal dari Pulau Kreta dan orang-orang Mikene membentuk kebudayaan Laut Aegea ini lebih dikenal dengan kebudayaan Minoa (berasal dari kata Minos, yaitu Raja Kreta). Karena alam lingkungan yang memiliki lautan, maka kebudayaan Minoa yang berarti adalah kebudayaan yang berhubungan dengan maritim dan bangunan gedung-gedung di kota.
Bangsa Yunani adalah orang Indo Eropa, yang telah mulai bermukim di wilayah itu sekitar tahun 2000SM. Seperti bangsa Aria di India, mereka tidak mempunyai kenangan tentang stepa, dan berasumsi bahwa leluhur mereka telah sejak awal tinggal di Yunani. Tetapi, mereka bicara dengan dialek Indo-Eropa dan memiliki beberapa budaya serta kebiasaan agama yang sama dengan Indo-Aria. Api dipandang penting dalam kultus Yunani, dan orang Yunani juga sangat senang berkompetisi.
Kehidupan masyarakat Yunani yang mendiami wilayah beriklim mediteranian yang selalu hangat dan segar, memungkinkan bersikap optimis dan berwatak riang. Suasana langit yang terang tanpa banyak awan di daerah Attica (Athena) juga menyebabkan semangat penduduknya tinggi dan kreasinya menonjol. Itu sebabnya di Athena berkembang pesat kebudayaan baik di bidang seni maupun ilmu pengetahuan dan filsafat.
Masa akhir kejayaan Yunani dikarenakan oleh dua sebab, di antaranya:
1.) Perang Peloponesos (431-404 SM)
Disebabkan karena polis Athena yang memimpin persekutuan polis-polis di jazirah Attica (disebut liga Delos) memiliki pengaruh yang terlalu kuat baik dibidang politik dan ekonomi Yunani sehingga banyak polis yang khawatir menjadi sasaran ekspansi dan dikuasai Athena. Keadaan ini menyebabkan Sparta memnjadi pemimpin Liga Peloponesos bangkit memimpin polis-polis lain menghadapi Athena (perang saudara).
2.) Yunani dikuasai oleh Aleksander Agung dari Macedonia
Perang Peloponesos mengakibatkan Yunani terpecah-pecah dan semakin lemah. Dengan mudah pada tahun 338 SM raja Philipus dari Macedonia dapat menaklukkan Yunani. Philipus terbunuh dan digantikan oleh putranya Aleksander Agung yang memerintah pada tahun 336-323 SM.
Cita-cita Aleksander adalah menguasai kerajaan dunia pada waktu itu yang meliputi Eropa (Yunani), Afrika (Mesir), dan Asia (Mesopotamia dan Persia). Untuk mewujudkan cita-cita tersebut Aleksander memimpin pasukannya melakukan berbagai penaklukan.
Di setiap daerah yang diduduki raja menganjurkan prajuritnya menikahi putri setempat. Aleksander menikahi Roxana, putri Raja Darius III dari Persia, juga putri Persia lain yang bernama Stateira. Di wilayah kekuasaannya raja memadukan budaya setempat dengan budaya baru disebut Hellenisme.
Hellena (Helenis) atau Hella (Hellas) adalah sebutan baru bagi orang-orang Yunani. Kata ’Helenis’ yang merupakan nama umum baru orang-orang Yunani, berarti ’penduduk kota Hellas’. Sementara ’hellas’ sendiri adalah sebuah distrik di Yunani tengah yang mempunyai banyak kuil seperti kuil Artemis di Athena dekat Thermopylae, kuil dewa Bumi, kuil dewa Apollo, dan kuil dea Dionysos di Delphi.
Periode Hellenistik bermula pada 323 SM, ditandai dengan berakhirnya penaklukan Aleksander Agung, dan diakhiri dengan penaklukan Yunani oleh Republik Romawi pada 146 SM. Meskipun demikian berdirinya kekuasaan Romawi tidak memutuskan kesinambungan sistem sosial kemasyarakatan dan budaya Yunani, yang tetap tidak berubah hingga bangkitnya agama Kristen, yang menandai runtuhnya kemerdekaan politik Yunani.
C. KONDISI SOSIAL POLITIK KERAJAAN YUNANI
Abad kedelapan merupakan periode yang menakjubkan di Yunani. Dalam rentang waktu yang relatif singkat, orang Yunani keluar dari zaman kegelapan dan meletakkan fondasi bagi budaya mereka yang unik. Perkembangan abad kedelapan yang paling penting adalah penciptaan polis, yaitu negara-kota yang kecil dan berdiri sendiri, tempat para warganya belajar seni pemerintahan mandiri.
Yunani tidak pernah memiliki sistem pemerintahan sentralisasi melainkan desentralisasi, karena tiap-tiap polis mengembangkan sistem pemerintahan masing-masing. Dua polis terkemuka di Yunani adalah:
1.) Sparta
Konstitusi Sparta membagi masyarakat menjadi tiga golongan: ”citizens” atau orang-orang Sparta yang jumlahnya 5-10% dari seluruh penduduk. Mereka terdiri dari para penguasa dan tentara. ”kaum Helot”, merupakan sebagian besar dari penduduk yang bekerja sebagai petani, buruh tani, dan pelayan dari orang-orang Sparta. ”Peiroikoi” yaitu yang tinggal di pinggiran kota, hidup sebagai petani, pedagang dan bekerja di pertambangan.
Sistem pemerintahan Sparta bersifat militeris, dengan mengutamakan latihan kemiliteran disiplin yang keras bagi masyarakat. Pemerintahan Sparta dijalankan oleh 2 orang raja yang absolut dan turun-temurun. Selain raja, ada jabatan ephor selaku penasehat yang berjumlah 5 orang. Lembaga yang lain beranggotakan 28 orang atau lebih, disebut Gereousia. Gereousia memiliki hak veto terhadap undang-undang yang diajukan oleh DPR. Anggota DPR adalah semua laki-laki warga kota Sparta yang berusia 30 tahun atau lebih, mereka bersidang di setiap bulan purnama. Dapat dikatakan Sparta merupakan dunia laki-laki. Laki-laki berperan sebagai tentara pembuat hukum dan peraturan. Kegiatan wanita terbatas sebagai istri, ibu dan pengatur rumah tangga.
2.) Athena
Kehidupan di Athena berbeda dengan di Sparta. Jika warga Sparta mempunyai kewajiban untuk tugas-tugas pemerintahan negara, maka warga Athena dalam suasana demokrasi memiliki kemedekaan berpikir, berpendapat serta maju dalam bidang politik, ekonomi, seni bangunan, maupun seni sastra. Sistem pemerintahan di Athena mengenal beberapa lembaga antara lain:
a.) Archon, yaitu pelaksana pemerintahan berjumlah 9 orang.
b.) Aeropagos, yaitu dewan yang mengawasi pelaksanaan pemerintahan archon, sekaligus merangkap sebagai mahkamah agung.
c.) Boule, semacam DPR yang memiliki tugas menetapkan archon, meminta pertanggung jawaban archon, dan menghukum archon.
d.) Dalam bidang pertahanan dan keamanan dipegang oleh 10 orang ahli siasat perang yang menguasai angkatan darat dan angkatan laut.
Untuk menjaga kehidupan yang demokratis maka ada kebiasaan untuk mengasingkan atau mengucilkan seorang penguasa yang pada 1 tahap dalam pemerintahannya telah dicurigai berusaha menjadi penguasa mutlak yang dapat membahayakan negara. Tindakan pengucilan disebut ”Ostrakisme”.
D. PENINGGALAN PERADABAN YUNANI KUNO
1. Sastra
Pada masa Homer, telah menciptakan dua puisi yaitu yang terkenal dengan Iliad dan Odyssey. Iliad menggambarkan satu insiden kecil tentang perang Troya-sebuah pertikaian, benturan ego yang sengit, antara Agamemnon, raja Myceneae dan pemimpin tentara Yunani, dan Achilles, kapten salah satu skuadronnya. Ketika merasa kehormatannya telah diserang, Achilles menggoyahkan kepentingan seluruh Yunani dengan menarik semua anak buahnya dari keributan itu. Dalam konflik yang kemudian merebak, teman baik Achilles, Patroclus, terbunuh secara tragis oleh Hector, putra Raja Priam dari Troy. Odyssey berlatarkan seusai perang dan mendeskripsikan sepuluh tahun perjalanan Odysseus, yang harus bepergian menembus berbagai negara asing hingga dia akhirnya bersatu kembali dengan istrinya, Ithaca. Iliad dan Odyssey telah disebut sebagai Alkitab Yunani karena ideal-ideal dan nilai-nilainya menjejakkan kesan yang tak terhapuskan pada budaya Hellenik.
2. Seni bangunan
Pada awalnya seni patung/ pahat Yunani menghasilkan patung seperti bangsa Mesir, kemudian dikembangkan menjadi lebih hidup dengan gaya naturalis. Seni pahat menghasilkan berbagai patung para dea maupun tokh yang terkenal, misalnya Dewa Zeus, Perikles, Plato, Aristoteles, dan lain-lain. Terdapat pula kuil Parthenon, yang dipersembahkan kepada Dewa Athena.
Gambar 2. Kuil Pathenon
Sumber: http//www.wikipedia.com
4. Filsafat
Beberapa ahli filsafat Yunani adalah:
a. Socrates (469-399 SM). Ajarannya tentang filsafat etika dan kesusilaan dengan logika sebagai dasar untuk membahasnya. Socrates mengajarkan agar manusia dapat membedakan yang baik dan yang buruk, benar atau salah, adil atau tidak adil. Ajarannya ditujukan kepada anak muda yang diajaknya berdiskusi. Ia akhirnya dihukum mati dengan minum racun karena tuduhan telah merombak dasar-dasar etika masyarakat Yunani kuno, serta tidak percaya kepada dewa-dewa yang disembah masyarakat.
b. Plato (427-347 SM). Ajaran filsafatnya disebut filsafat ide. Ia menulis banyak buku, salah satunya berjudul ”Republika”. Dalam buku tersebut diuraikan tentang kebahagiaan hidup yang dapat dicapai bila manusia bekerja dengan wataknya dan wanita diangkat pusat derajatnya. Plato juga mendirikan Acadermus.
5. Ilmu Pengetahuan
Kemajuan bangsa Yunani dibidang ilmu pengetahuan dapat dilihat dari deretan ilmuwan sebagai berikut:
a. Pythagoras, ahli matematika yang melahirkan dalil untuk segitiga siku-siku.
b. Hipokrates, bapak kedokteran. Hipokrates dapat menyebutkan timbulnya penyakit dan cara mengobatinya. Yang ditulis dalam buku berjudul ”Aphorismen” dan ”Prognose”. Sumbangannya yang terkenal adalah sumpah dokter yang berkembang sekarang.
c. Archimedes, menciptakan teori gravitasi dan teori benda mengapung.
d. Thales, berpendapat bahwa alam fisik terdiri dari satu bahan dasar yaitu air.
e. Demokritus, ahli atom.
f. Euclid, ahli ilmu ukur.
g. Herodotus, bapak sejarah yang pertama kali mengembangkan sejarah tertulis.
6. Abjad Yunani
Abjad Yunani telah digunakan untuk menuliskan bahasa Yunani sejak akhir abad ke-9 SM atau awal abad ke-8 SM. Abjad Yunani Ini merupakan tulisan alfabet tertua yang masih digunakan sekarang. Huruf-huruf ini juga digunakan untuk mewakili angka Yunani (nomor), sejak abad ke-2 SM.
E. AJARAN AGAMA YUNANI KUNO
1. Mitos
Selain percaya pada para dewa, orang Yunani juga percaya dalam kelangsungan hidup jiwa (psuche), setelah kehidupan tubuh berakhir. Jiwa yang yang mengalami kematian, setelah perjalanan panjang melalui lembah air besar, mencapai bawah (neraka), yang merupakan tempat yang gelap dan sedih, dimana jiwa orang mati yang ada di bayangan samar-samar dan substansial. Jauh di bawah alam kematian, adalah wilayah Tartaores, dimana orang fasik menderita hukuman. Seseorang tentu saja mencapai Elysium, yang merupakan tempat musim semi abadi. Orang-orang Yunani juga percaya pada roh-roh orang mati yang berbahaya, yang dikenal dengan keres.
2. Ritual
Ritual Dionisia diamati untuk ketuhanan fertilitas, Dionysus, dalam bentuk senang dan kekerasansakramental umumnya diselenggarakan di temapat-tempat terpencil di pegunungan., sehingga pecandu dapat menikmati menari liar dengan anggur dan musik. Ritual ini termasuk makan daging mentah dari hewan yang diidentikkan dengan Dionysus. Irama musik, sinar dari obor, yang berayun mengiringi tarian dan makan daging dengan anggur memberikan kegilaan malam pesta pora kekuatan untuk meningkatkan kesadaran untuk realisasi ketuhanan.
Pengorbanan adalah wajib sebelum semua perang dan perjanjian dilakukan. Untuk dewa Olympia, korban dianggap sebagai hadiah yang tepat dan bukti kepatuhan. Setiap dewa memilih hewan tertentu untuk kurban seperti sapi untuk Hera, sapi untuk Athena, banteng untuk Zeus, babi dan anjing untuk Demeter dan Herates, dan kuda untuk Poseidon. Korban diminta untuk bebas dari cacat fisik, karena kalu tidak, dewa itu mungkin tidak akan senang.
4. Festival
Peranan festival menambah warna kehidupan beragama, politik, dan budaya masyarakat Yunani. Beberapa festival dijelaskan sebagai berikut:
a. Antheresia: seolah-olah didedikasikan untuk Dionysus, ini adalah festival musim semi pencabutan dan keengganan dari hantu melalui ritual pengorbanan manusia digabungkan dengan ritual pengorbanan hewan. Ritual berlangsung selama tiga hari. Pada hari pertama disebut pithogia, atau hari roh yang baik, tong-tong anggur dibuka dan ditawarkan sebagai persembahan kepada dewa kemudian diminum dengan bersuka ria dalam proses kontes minum. Kontes berlanjut pada hari kedua dikenal sebagai Choes dan pada hari ketiga yang dikenal sebagai Chytroi. Adapun tujuan utama dari festival adalah untuk menyingkirkan hantu dengan cara pendamaian.
b. Thargelia: ini adalah festival musim panas awal pengumpulan buah pertama dari panen. Penawaran tersebut adalah semacam hadiah yang diberikan kepada dewa.
c. Thesmophoria: ini adalah festival kuno purbakala yang dilakukan oleh perempuan di akhir musim gugur pada kesempatan kegiatan menabur. Ini melibatkan kebangkitan dari beberapa babi, dan menaburkan daging busuk di ladang sebagai formula ajaib untuk menjamin kesuburan tanah.
d. Panathenaeaa: festival ini dirayakan pada musim panas setiap tahun, tetapi setiap perayaan tahun keempat dilakukan secara spektakuler dan indah. Diikuti oleh prosesi obor, kontes atletik, pertarungan dan bacaan bardic adalah acara yang paling populer dalam festival.
e. Olimpiade: ini adalah festival besar Zeus, diadakan setiap musim panas keempat di sisi Alpheius, sungai dekat kuil dewa. Perayaan berlangsung selama lima hari, persembahan anggur kepada dewa dan pengorbanan ditawarkan di altar Zeus.
F. DEWA-DEWA YUNANI KUNO
Bangsa Yunani Kuno pada fase pertama dan sebelum mengenal dewa, kehidupan rohaniahnya separti bangsa-bangsa lain, pertama bangsa itu memuja dan menyembah daya-daya alam, totem-totem, roh nenek moyang dan kler atau pimpinan tertinggi dari anggota keturunan. Daya-daya alam mereka puja dan sembah agar tidak mengganggu dan mencelakakan dirinya, bahkan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan mereka.
Selain daya-daya alam, bangsa Yunani pada masa purbanya juga memuja dan menyembah totem tombuh-tumbuhan dan totem hewan. Pemujaan terhadap nenek moyang juga dilakukan oleh mereka. Mereka memuja dan menyembah kepada roh nenek moyang yang dimaksudkan, pertama sebagai rasa terima kasih tentang jasa-jasa yang diberikan pada waktu mereka hidup di dunia, kedua agar selalu memberi perlindungan kepada mereka dan ketiga, selalu memberi petunjuk mengenai masalah-masalah yang akan terjadi pada kehidupan manusia.
Dalam dunia Yunani tidak ada tuhan pencipta yang maha penyayang dan tidak ada titah ilahi pada titik awal waktu. Yang ada hanyalah kebencian dan konflik tanpa ampun. Pada awalnya, demikian dikisahkan, ada dua kekuatan asali: Chaos dan Gaia (Bumi). Mereka terlalu kejam untuk berprokreasi sehingga mereka menghasilkan keturunan secara sendiri-sendiri. Gaia menghasilkan Uranus (Langit), Tuhan Langit, dan kemudian melahirkan lautan, sungai-sungai, perbukitan, pegunungan di dunia kita. Kemudian Gaia dan Uranus berpadu, dan Gaia melahirkan enam putra dan enam putri. Inilah para Titan, ras pertama dewa-dewa.
Sementara itu, Chaos, kekuatan asali kedua, telah melahirkan keturunan-keturunannya yang mengerikan pula: Erebus (”Tempat Gelap”, di retakan bumi yang terdalam) dan Malam. Malam kemudian menghasilkan anak-anak perempuan yang mencakup Nasib (Moirai), Ruh Maut (Keres), dan tiga Pembalas Dendam (Erinyes). Erinyes yang paling menakutkan; Orang Yunani menggambarkan mereka sebagai penyihir perempuan yang menjijikkan, berkalungkan ular, merangkak dengan empat kaki untuk membaui mangsa mereka, merenguh dan melonglong seperti anjing. Sebuah mitos mengatakan mereka lahir dari tetesan darah yang jatuh di bumi ketika Kronus memotong kemaluan Uranus. Jadi mereka lebih mereka lebih tua daripada keluarga Olympian, dan kekejaman keluarga telah tertorehkan pada wujud mereka sendiri.
Gambar 3. Silsilah Dewa-dewa Yunani
Sumber: Karen Amstrong, The Great Transformation, (Bandung : Mizan Media Utama, 2007), 64.
Gambar 4. Silsilah dewa-dewa Yunani
Sumber: Karen Amstrong, The Great Transformation, (Bandung : Mizan Media Utama, 2007), 65.
Beberapa Dewa Yunani yang terpenting adalah :
1. Zeus: Dewa langit, yang menguasai langit, badai, hujan, dan musim kemarau, juga melindungi tamu keluarga dan menjaga rumah.
2. Poseidon (Neptunus): Dewa Laut; Dewa kuda dan yang penyebab sesuatu dari gempa bumi.
3. Hades dan Pluto: Dewa Dunia Bawah.
4. Demeter: Dewi panen.
5. Hera: Dewi Perkawinan; permaisuri Zeus.
6. Athena (Minerva): Dewa Keberanian dan Kemenangan.
7. Apollo: Dewa Malapetaka serta Pemurnian, juga Dewa Gembala, serta Dewa Matahari yang di puja oleh para penyair dan penyanyi.
8. Ares: Dewa Perang.
9. Themis: Dewa Keadilan.
10. Eros: Mereka adalah Dewa Gairah Seksual.
11. Aphrodite (Venus):
12. Nemesis: Dewa Keadilan.
13. Daimon: Semangat yang baik yang melindungi ketahanan rumah.
14. Dioscuri: Dewa Perayaan-perayaan.
15. Apollo Agyieus: Dewa Bina Marga, yang membawa keberuntungan.
Terdapat beberapa dewa lain di dalam buku ”Ancient and Indian”:
16. Hermes: Dewa Pelindung Ternak.
17. Hephaetus: Dewa Api dan pelindung pengrajin.
18. Dewi Rumah dan Perapian.
19. Dionysus/Zagreus: Dewa Anggur, Kehidupan Kesuburan, dan Kegembiraan.
Orang Yunani mengkategorikan dewa mereka ke dalam dua kelompok, yaitu para Dewa Olympian (alam surgawi) dan pada Dewa Chthonian (yang hidup jauh di kedalaman bumi). Para dewa Olympian tinggal di gunung Olympus, yang berada di Yunani Utara. Mereka diyakini sebagai ’surga’, karena mereka tinggal di tempat tertinggi dan peduli pada alam yang lebih tinggi.
Sedangkan Dewa Chthonian adalah semua dewa lain, yang tidak berasal dari keluarga Olympian (Demeter dan Dionysus). Istilah Yunani ”Chthonian” secara harfiah berarti ”orang-orang bumi”. Ungkapan ”orang-orang bumi” tidak berarti bahwa para dewa, yang termasuk ke dalam kelompoknya adalah kekuatan jahat atau musuh para dewa. Para Dewa Chthonian tidak dapat diidentifikasi dengan musuh bumi, kelahiran para dewa dalam mitologi Yunani, yaitu para raksasa dan monster. Para dewa Chthonian dianggap ’duniawi’ karena mereka menduduki alam bawah tanah dan terlibat dengan kesuburan bumi, alam dan kematian dan alam serupa yang terkait dengan dunia bawah.
1.) DEWA CHTHONIAN MINOR (kecil)
Dalam mitologi Yunani, kita menemukan sejumlah dewa Chthonian kecil.. ada gemuruh-dewa, Zeus Chthous, yang mengutus hujan dan kesuburan bumi. Seringkali ia digambarkan sebagai ular. Kita bisa menyebutkan Hades, dewa dunia kematian. Dia dianggap tak terkalahkan. Ketika ia memasuki hidup seseorang, tidak ada yang bisa menang atas Hades. Seringkali ia diidentikkan dengan Pluto, dewa kekayaan, sebagai harta yang tersembunyi di dalam tanah. Makhluk yang paling terkenal adalah Heroes (pahlawan). Mereka diakui sebagai manusia yang kuat yang tinggal di bumi. Orang Yunani percaya bahwa meskipun mereka mati, mereka memiliki kekuatan untuk membantu manusia yang masih hidup di bumi. Heracles merupakan salah satu pahlawan terkenal Yunani.
2.) MAKHLUK SPIRITUAL LAINNYA
Di luar Dewa Olympian dan Dewa Chthonian, ada dewa lain yang cukup penting karena tempat mereka dalam mitologi Yunani. Dewa ini tidak termasuk dalam kategori di atas, tetapi mereka muncul dalam mitologi Yunani dan sastra. Helios dewa matahari, yang bergerak di kolong surga. Eos adalah dewi fajar. Aeolus adalah dewa angin. Pan adalah dewa pastronal yang melindungi kawanan. Dia digambarkan dengan telinga kambing, jenggot dan alis bertanduk.
Selain percaya pada para dewa, orang Yunani percaya bahwa alam dipenuhi dengan berbagai macam makhluk ghaib, seperti Styr, Sileni, dan Peri. Ada jenis yang berbeda yang menjadi pengikut Artemis: peri gunung (Oreads), peri pohon (Dryads) dan peri mata air (Naiads). Selain itu ada yang setengah kuda dan setengah laki-laki.
G. KESIMPULAN
Masyarakat Yunani adalah masyarakat dengan peradaban yang cukup maju pada saat itu. Banyak peninggalan-peninggalan dari bangsa Yunani kuno yang masih dikenang dan dikembangkan sampai sekarang. Seperti bangunan sejarah, tulisan, filsafat, dan ilmu pengetahuan.
Dalam hal beragama, masyarakat Yunani kuno mempercayai banyak dewa (Politeisme). Mereka percaya bahwa alam semesta yang mereka tempati ada yang menguasai. Pemujaan dengan persembahan korban pun dilakukan untuk menghormati dan membuat para dewa senang, dan sebagai rasa syukur terhadap pemberian yang telah diberikan oleh para dewa.
DEWA-DEWA YUNANI KUNO
Gambar 5 dan 6. Dewa Athena dan Dewa Apollo
Sumber: rahmatmessidona10.blogspot.com
Demeter Apollo
Gambar 7. Dewa Hermes Gambar 8. Dewa Demeter
Sumber: unik.supersun.com Sumber: ulax.wordpress.com
Gambar 9. Dewa Hephaestus Gambar 10. Dewa Ares
Sumber: sman11mks.com Sumber: yasirmaster.blogspot.com
Gambar 11. Dewa Aphrodite Gambar 12. Dewa Dionysus
Sumber: gaulbox.com Sumber: tidak-selalu.blogspot.com
Gambar 13 dan 14. Dewa Artemis dan Dewa Hestia
Sumber: pernahkahkaumendengar.com
Gambar 15. Dewa Hades Gambar 16. Dewa Hera
Sumber: noretz-area.blogspot.com Sumber: abufatih.blogspot.com
Gambar 17. Dewa Poseidon Gambar 18. Dewa Zeus
Sumber: bomi-tuntungan.blogspot.com Sumber: titathatia.blogspot.com
DAFTAR PUSTAKA
A. George, Vensus, Paths to The Divine: Ancient and Indian, Washington D.C: The Concil for Research in Values and Philosophy, , 2008
Ahmed, Moinuddin, Religions of All Mankind, Delhi: Kitab Bhavan, 1784
Amstrong, Karen, The Great Transformation, Bandung: Mizan Media Utama, 2007
Sukardji, K., Agama-agama yang Berkembang di Dunia dan Pemeluknya, Bandung: Angkasa Bandung, 1993
Toynbee, Arnold, Sejarah Umat Manusia, Jakarta: Pustaka Pelajar, 2004
http//www.wikipedia.com
http//www.scribd.com/dos/29765448/PERADABAN-YUNANI-KUNO-Tembolok.
http//prayudi.wordpress.com/.../abjad-yunani-dan-notasi-ilmiah/-Tembolok-Mirip.
http//titathatia.blogspot.com
http// yasirmaster.blogspot.com
http// rahmatmessidona10.blogspot.com
http// bomi-tuntungan.blogspot.com
http// noretz-area.blogspot.com
http// abufatih.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)




