Sabtu, 29 September 2012
SEJARAH KEHIDUPAN KONGHUCU
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Untuk mengetahui kunci kekuatan dan pengaruh Konfusius, kita harus menelaah kehidupan dan ajarannya serta latar belakang masalah yang di hadapinya. Jika ada nama tokoh yang erat kaitannya dengan kebudayaan cina nama tersebut adalah Konfusius. Orang Cina dengan penuh hormat menyebut sebagai guru pertama, bukannya tidak ada guru sebelum beliau, melainkan karena martabat beliau lebih tinggi dari semua guru yang lain. Semua orangpun berpendapat beliaulah yang membangun kebudayaan Cina. Beliau sendiri secara terbuka memperkecil pembaharuan-pembaharuan yang telah beliau lakukan terhadap kebudayaan Cina tersebut dan lebih suka menyebut dirinya sebagai “Pencinta Barang Antik”. Pemberian nama itu tidak sepadan dengan sumbangan beliau, namun hal itu merupakan suatu contoh yang amat baik tentang kerendahan hati serta mawas diri yang beliau anjarkan. Walaupun beliau tidak mengubah kebudayaan cina, beliau tetap merupakan penyunting utama dari tindakan tersebut. Karena pengikutnya yakin bahwa sejak munculnya manusia di atas dunia ini tidak pernah ada seperti guru kami (Konfusius).
Walaupun gagal sebagai politisi tidak di ragukan lagi bahwa Konfusius adalah salah seorang guru besar di dunia. Mampu mengajar sejarah, syair, pemerintahan, adat istiadat, sopan santun, matematika, musik, teologi, dan olahraga. Seperti halnya Socrates beliau juga adalah sebuah universitas-satu-orang. Cara mengajar beliau juga seperti Socrates. Beliau selalu bersikap informal, tidak kelihatan memberikan kuliah, melainkan berbicara mengenai masalah-masalah yang di ajukan oleh murid-muridnya mengutip bahan bacaan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Harapannya amat besar terhadap para muridnya ini. Terutama yang pintar, karena beliau beranggapan bahwa maksud beliau menerima sebagai murid adalah untuk menata kembali seluruh tatanan masyarakat.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah kehidupan konghucu mulai beliau dilahirkan sampai meninggal?
2. Bagaimanakah kepribadian Konghucu?
3. Apa karya-karya yang dihasilkan oleh Konghucu?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui tentang sejarah kehidupan dari Konghucu mulai dari beliau dilahirkan sampai meninggal.
2. Ingin mengetahui tentang kepribadian yang dimiliki oleh Konghucu.
3. Ingin mengetahui tantang karya-karya dari Konghucu.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi Konghucu
Konghucu atau sering juga disebut dengan Kongfusius, yang mempunyai gelar Konfusianisme merupakan seorang guru besar yang terkenal dengan filsafat social Tiongkoknya. Perluh diketahui bahwasannya gelar Konfusianisme berasal dari bahasa latin K’ung-Fu-Tzu. Konghucu dilahirkan pada tanggal 27 Ba Yue (bulan 8) 551 SM di negeri Lu, Kota Zou Yi, Desa Chang Ping di lembah Kong Song (kini jazirah Shandong kota Qu Fu). Konghucu merupakan putra bungsu Shu Liang He. Beliau mempunyai 9 kakak perempuan dan seorang kakak laki-laki yang cacat kakinya bernama Meng-pi. Ibunya bernama Yan Zheng Zai. Ayahnya meninggal ketika Konghucu masih berumur tiga tahun (tahun 525 SM), sehingga dia diasuh oleh ibunya yang baik, sedangkan ibunya wafat ketika Khonghucu berusia 26 tahun. Beliau menikah dengan puteri Negeri Song yang bermarga Jian Guan. Dari pernikahan ini beliau mendapatkan seorang putera yang diberi nama Li yang berarti ikan gurami alias Bo Yu. Alasan diberi nama demikian karena pada kelahiran putera beliau telah menerima kiriman ikan gurami oleh Raja Muda Negeri Lu yang panggilannnya Lu Zhao Gong. Selain Li, Khonghucu masih mempunyai dua orang putri yang seorang menjadi isteri Gong Ye Chang, murid beliau.
B. Kejadian saat Konghucu dilahirkan
Pada malam menjelang kelahiran Konghucu, turunlah dua ekor naga berjaga di kiri kanan, terdengar alunan musik merdu di angkasa, dua bidadari menampakkan diri dan menuangkan bebauan harum seolah memandikan sang bunda. Ketika bayi lahir muncul sumber air hangat dari lantai Khong Song dan mengering setelah bayi di mandikan. Malam itu bintang kutub utara memancarkan cahaya gemilang ke permukaan bumi yang kelam. Sungai kuning yang biasanya bergolak dan mengalirkan air kuning berlumpur itu, airnya menjadi jernih dan mengalir dengan tenangnya. Dari langit terdengar suara, ”Thian, Tuhan Yang Maha Esa, telah berkenan menurunkan seorang putera yakni seorang nabi”. Langit jernih bertabur bintang-bintang, bumi damai tentram. Angin bertiup sepoi-sepoi membawakan kesejukan dan besoknya matahari bersinar cemerlang dan hangat. Pada tubuh sang bayi tampak ada tanda-tanda yang luar biasa, dan pada badanya ada tulisan ,”Sang nabi diutus Tuhan untuk menolong dunia yang tenggelam dan ingkar dari jalan suci”. Demikianlah telah lahir seorang putera yang nabi (Konfusius), yang nantinya benar-benar sebagai seorang pembawa firman Tuhan untuk membimbing manusia hidup dalam Jalan Suci; dialah Konghucu Sang Genta Rohani Tuhan untuk kita semua, yang membuat menusia dalam damai dan tertib dalam kehendaknya agar terpelihara sejak datang dari-Nya dan kembali kepada-Nya.
Hal serupa juga tercantum dalam kitab suci Lunyu IX : 6 yang berbunyi :
Pada malam suci tanggal 27 Bayue– atau tanggal 28 September 551 SM.
Munculnya 2 ekor naga berjaga-jaga di dekat bangunan tua di lembah Kongsang.
Diangkasa terlihat 5 malaikat tua yang sedang turun kehalaman rumah dan bersama berjalan masuk keserambi rumah
Bintang Kutub Utara memancarkan cahaya yang gemilang
Terdengar suara musik yang merdu alun suaranya yang datang dari pemain musik di angkasa.
Terdengar sabda, “Tuhan Yang Maha Esa telah berkenan menurunkan seorang putera yang Nabi.”
Langit jernih, bumi terasa damai dan tenteram,
Angin sepoi-sepoi, matahari bersinar hangat, dan
Pada tubuh sang bayi, nampak tanda luar biasa.
…memang Tuhan Yang Maha Esa telah mengutusNya sebagai Nabi
(Lunyu IX:6)
C. Sejarah Kehidupan Konghucu
Berdasarkan sejarah Konghucu berasal dari keluarga bangsawan di kerajaan Sung. Legendanya ayahnya seorang pahlawan yang bertanggung jawab menyelamatkan teman-temannya dari hukuman mati. Saat Konghucu berusia 3 tahun ayah beliau Shu Liang He wafat, kemudian pada usia 6 tahun konghucu telah menunjukkan sifat-sifat kenabiannya; misalnya saja dalam bermain senang mengajak dan memimpin kawan-kawannya menirukan orang yang sedang melakukan ibadah dan sembahyang. Pada usia 15 tahun beliau melakukan pekerjaan kasar dan di usia tersebut beliau juga telah memiliki semangat belajar yang luar biasa. Sebagaimana dia terus maju dalam menguasai konsep politik tradisional, dia mulai mencari posisi dalam pemerintahan. Akan tetapi ambisinya tersebut gagal dan ia pun beralih keinginan menjadi penasehat para bangsawan akan tetapi keinginannya tersebut juga gagal.
Sedangkan di usianya yang ke-19 tahun beliau menikah dengan seorang gadis dari marga Jian Guan dari Negeri Song. Kemudian pada usia 20 tahun dia diangkat menjadi Menteri lumbung oleh Keluarga Besar Ji. Dan pada usia 21 tahun beliau dikaruniai seorang putera pertamanya yang diberi nama Li alias Bo Yu. Ibu beliau wafat saat beliau berusia 26 tahun dan beliaupun berkabung selama 3 tahun. Jenazah kedua orang tuanya dimakamkan di gunung Fang Shan. Setelah selesai masa berkabung beliau sudah banyak menerima murid. Pada usianya yang ke-29 tahun beliau belajar musik kepada Shi Xiang, seorang guru musik termasyur pada waktu itu.
Saat beliau berusia 30 tahun didampingi dua orang muridnya; Nan-Gong Jing-Shu dan Meng Yi Zi (keduanya putera bangsawan besar keluarga Meng, yakni Meng-xi Zi). Beliau berkunjung ke ibukota Negeri Zhou, disana beliau bertemu dengan penjaga perpustakaan kerajaan bernama Lao Dan dan guru musik bernama Chang Hong. Dan pada usia 35 tahun beliau pergi ke negeri Qi karena di negeri Lu terjadi kekalutan dan Raja mudanya Lu Zhao Gong lari ke negeri Qi. Waktu itu negeri Qi diperintah oleh Raja Muda Qi Jing Gong dengan Perdana Menterinya Yang Ying atau Yan ping Zhong yang terkenal pandai. Pada Usia 36 tahun beliau kembali ke negeri Lu dan meneruskan mendidik murid-muridnya. Di usianya yang ke-51 tahun sampai 55 tahun beliau aktif dalam pemerintahan yang waktu itu Raja Mudanya ialah Lu Ding Gong. Ia pernah menjabat sebagai Walikota Zhong Dou dan Menteri Pekerjaan Umum. Jabatan yang tertinggi dan terakhir adalah sebagai Perdana Menteri merangkap Menteri Kehakiman (Da Si Kou). Kemudian usia 56 tahun pada hari Dong Zhi meninggalkan negeri Lu dan mulai pengembaraannya ke berbagai negeri sebagai Tian Zhi Mu Duo (Genta Rohani Tuhan). Tian (Tuhan Yang Maha Esa) telah mengutusNya sebagai Nabi Segala Masa, Yang Lengkap, Besar dan Sempurna (Ji Da Cheng). Konghucu mengembara kurang lebih selama 13 tahun. Pada tahun 483 SM Li atau Bo Yu, putera beliau meninggal dunia. Dan pada tahun 482 SM Yan Hui, murid yang termaju dan diharapkan menjadi penerus beliau meninggal dunia. Pada tahun 481 SM salah seorang pegawai Keluarga Besar Ji Kang Zi telah membunuh Qi Lin dalam perburuan Raja Muda Lu Ai Gong. Dan pada akhir tahun 480 SM Zi Lu atau Zhong Yu (murid beliau yang gagah berani penuh kejujuran) gugur di Negeri Wei karena di sana terjadi pemberontakan. Akhirnya pada pada usianya yang ke-72 tahun, yaitu pada tanggal 18 bulan dua imlek, tatkala Rajamuda Ai dari Negeri Lu memerintah 16 tahun (479 SM) dan di makamkan dengan sederhana di kota Qu Fu, dekat sungai Si shui.
Autobiografi paling penting yang merefleksikan terdapat dalam Analects yang mendiskripsikan tentang kehidupan Konghucu yakni sebagai berikut :
Guru mengatakan, “Pada usia lima belas tahun Aku tunjukkan hatiku untuk belajar, pada usia tigah puluh Aku mengambil posisiku, pada usia empat puluh Aku bebas dari kebimbangan, pada usia lima puluh Aku memahami Keputusan Langit, pada usia enam puluh telingaku diselaraskan, pada usia tujuh puluh Aku mengikuti kata hatiku tanpa melewati batas.”
Dimasa mudahnya Konfusius sangat ingin memahami kondisi dirinya. Mungkin karena ia menjadi seorang anak yatim yang hidup dalam kemiskinan oleh karenanya menjadikan ia cepat dewasa. Kita tidak mengetahui pendidikan apa yang didapatkan oleh Konghucu. Jelas sekali ia belajar membaca, mungkin juga belajar menulis. Dalam Analects disebutkan bahwa ia tertarik dengan etika social, berfikir bahwa hal itu penting bagi ketertiban umum. Jadi dari hal tersebut maka kita dapat memastikan bahwa ia memfokuskan study pada teks-teks kuna yang berhubungan dengan upacara keagamaan dan pemerintahan. Pemujaan terhadap guru kuno menunjukkan bahwa dia memperlakukan teks-teks itu sebagai kitab suci atau kitab yang disucikan. Di dalam buku-buku dia dapat menemukan kunci bagaimana cara untuk hidup dengan baik, bagaiman untuk hidup sejahtera secara spiritual dan menjadi dermawan bagi sesama.
Dalam tradisi, Konghucu menikah dengan puteri Negeri Song yang bermarga Jian Guan. Dari pernikahan ini beliau mendapatkan seorang putera yang diberi nama Li yang berarti ikan gurami alias Bo Yu. Dalam tradisi Cina menikah adalah keharusan untuk meneruskan garis keturunan dan memberikan persembahan bagi para leluhur. Dalam kehidupan Konghucu, istri dan anaknya tidak terlalu berperan mungkin terhalang akan perjalanan yang ia tempuh. Oleh karenanya tidak ada interaksi antara mereka.
Pada usia tiga puluh tahun, tampaknya ia merasa yakin bahwa mempelajari tradisi kuno adalah pekerjaannya. Dia telah menemukan apa yang ingin dia lakukan, dan bagaimana ia merencanakan apa yang akan ia sumbangkan pada kehidupan. Hal itu ia temukan dengan cara meneliti tentang tata-susila (Li jie), ia bahkan pergi ke tempat ibadah Zhougong dan bekerja sebagai pegawai kecil. Di dalam upacara bersembahyang, ia selalu bertanya dengan detail dan tidak pernah melewati segala sesuatu yang sekecil apapun.
Pada usia empat puluh dia mengetahui apa yang dia yakini, bagaimana menafsirkan tradisi kuno dan tiada lagi keraguan dalam fikiran. Hal tersebut tergambar jelas dalam kitab Lunyu: “Pemimpin hendaklah dapat menempatkan diri sebagai pemimpin, pembantu/bawahan sebagai pembantu/bawahan, orang tua sebagai orang tua dan anak sebagai anak.” (Lunyu XII, 11;2.)
“Adapun Dao yang harus ditempuh didunia ini mempunyai lima perkara dan tiga pusaka di dalam menjalankannya, yakni;
hubungan raja dengan menteri, ayah dengan anak, suami dengan istri, kakak dengan adik dan kawan dengan sahabat.
Lima Perkara inilah Dao yang harus ditempuh di dunia.
Kebijaksanaan, Cinta Kasih dan Berani; tiga pusaka inilah Kebajikan yang harus ditempuh. Maka yang hendak menjalani haruslah Satu tekadnya. (Daxue XIX, 8.)
Pada usia lima puluh tahun, dia mempunyai cukup pengalaman untuk memahami bagaimana Jalan cenderung memecahkan persoalan manusia, dan juga apa yang tampaknya diisikan kedalam dirinya oleh Langit.
Pada usia enam puluh tahun, Konfusius merasa bahwa ia mendengar semua suara-suara dari Jalan. Hanya sedikit yang tidak didengarnya. Dia tidak lagi mendengarkan suara yang lain, tidak lagi tunduk pada kekuasaan yang lain. Yang ia dengarkan hanyalah suara-suara tersebut. Maksud dari kalimat ini bahwasannya pada usia ini Konghucu telah matang dan Ia mulaui mampu menjadi dirinya sendiri, yakni sebagai sang juru penyelamat yang mengajarkan kebijaksanaan pada masyarakat Cina.
Jadi pada usia tujuh puluh tahun, dia dapat mengatakan bahwa Jalan telah mengambil alih seluruh hatinya. Dia tidak menginginkan apa-apa yang bertentangan dengan Jalan. Pusat keberadaannya terletak di dalam apa yang diperintahkan oleh Jalan, dilakukan agar tahu untuk hidup. Dia benar-benar bebas, karena dia tidak mempunyai keinginan yang tidak dituju. Dia menjadi kontempletif total. Apa yang dimaksudkan oleh Taurot sebagai orang yahudi yang saleh, atau yang Injil maksudkan dengan orang Kristen yang saleh, atau yang al-Qur’an maksudkan dengan orang Muslim yang saleh, atau yang Dharma maksudkan dengan pengikut Buddha yang saleh-inilah makna Jalan kuno bagi Konfusius.
D. Kepribadian Konghucu
Konghucu adalah sesosok guru yang seksama, tidak cerewet akan tetapi sadar akan martabatnya. Kebanggaan yang ada dalam hidupnya adalah kebajikan yang dicapainya. Konfusius adalah orang yang terbebas dari ambisi sedangkan orang lain justru dikendalikan oleh ambisi. Jika dia ambisius maka ambisinya adalah mencapai kebajikan, memperoleh status pria sejati. Tujuan hidupnya adalah menjadi seorang pejabat pemerintah, karena beliau yakin bahwa teori-teorinya tidak akan langgeng sekiranya tidak disalurkan nyata melalui pemerintah. Beliau berkeliling dari suatu negara ke negara lain, menawarkan nasehat yang tidak diminta kepada para penguasa mengenai cara memperbaiki pemerintahannya, sambil mencari kesempatan yang tepat untuk mewujudkan cita-citanya (menjadi seorang pejabat pemerintah untuk, menyalurkan teori-teorinya). Tetapi kesempatan itu tidak pernah tiba. Pada saatnya, ketika terjadi pergantian pemerintahan dinegaranya, beliau diundang untuk kembali. Sadar bahwa beliau terlalu tua untuk menjadi pejabat, beliau menghabiskan usianya selama lima tahun berikutnya dengan mengajar dan menyunting kitab-kitab klasik secara tenang. Walaupun gagal sebagai politisi, tidak diragukan lagi bahwa Konfusius adalah salah seorang guru terbesar dunia. Mampu mengajar sejarah, syair, pemerintahan, adat sopan santun, matematika, musik, teologi dan olahraga.
Konghucu adalah orang yang bebas dari ambisi sedangkan sebagian besar orang justru dikendalikan oleh ambisi. Jika dia ambisius maka ambisinya adalah mencapai kebajikan dan memperoleh status pria sejati. Dia hidup untuk apa yang kita namakan spiritualitas. Kegembiraannya adalah memahami jalan kuno, melihat bagaimana jalan itu menertibkan urusan manusia. Disamping itu Konghucu adalah orang yang memperhatikan persoalan-persoalan. Meskipun Ia tidak memperoleh jabatan, akan tetapi Ia masih memperhatikan masalah yang sedang dialami oleh masyarakat serta kesalahan yang dilakukan oleh raja.
Konghucu adalah sosok yang sosialis yang juga memikirkan masyarakat hal tersebut tergambar jelas dalam kitab Lunyu; “Kita manusia, tidak dapat hanya hidup bersama burung dan hewan. Bukankah aku ini manusia? Kepada siapakah aku harus berkumpul? Kalau dunia didalam Dao, Saya tidak usah berusaha memperbaiki.” (Lunyu XVIII: 6,4)
Ada dua nilai yang teramat penting, kata Kong Hu-Cu, yaitu "Yen" dan "Li:" "Yen" sering diterjemahkan dengan kata "Cinta," tapi sebetulnya lebih kena diartikan "Keramah-tamahan dalam hubungan dengan seseorang." "Li" dilukiskan sebagai gabungan antara tingkah laku, ibadah, adat kebiasaan, tatakrama dan sopan santun.
Kong Hu-Cu kerap dianggap selaku pendiri sebuah agama; anggapan ini tentu saja meleset. Dia jarang sekali mengkaitkan ajarannya dengan keTuhanan, menolak perbincangan alam akhirat, dan mengelak tegas setiap omongan yang berhubungan dengan soal-soal metaflsika. Dia -tak lebih dan tak kurang- seorang filosof sekuler, cuma berurusan dengan masalah-masalah moral politik dan pribadi serta tingkah laku akhlak.
Pandangannya tentang pemerintah adalah bahwa setiap warga negara harus memiliki peran yang sudah ditetapkan, dan menjalankan peran tersebut dalam perjalanan hidupnya bahwa setiap pemerintah harus arif, menyediakan standar hidup yang baik bagi rakyatnya, dan menggalakkan pendidikan budi pekerti dan tata krama.
E. Karya-karya Konghucu
Karya-karya dari Konghucu dapat dikelompokkan menjadi dua bagian;
1. Merupakan hasil perangkuman yang dilakukan Konghucu terhadap beberapa karya-karya yang dianggap penting dalam mencapai keharmonisan.
a. Shih Ching (Buku tentang Puisi)
Merupakan kumpulan tulisan yang terdiri dari 305 puji-pujian dalam berbagai bahasan, dan didalamnya terdapat 6 yang mempergunakan musik dan judul tanpa text. Kumpulan tulisan ini umumnya berasal dari masa awal dinasti Chou, sebelum Kung Fu Tze.
b. Shu Ching (Buku tentang Sejarah)
Merupakan kumpulan dokumen sejarah yang dimulai dari proklamasi raja Yao yang agung (2757 – 2258 SM) hingga Bangsawan Mu dari Chi (659 – 621 SM)
c. I Li (Buku tentang Upacara)
Merupakan buku yang berisi kumpulan upacara-upacara dan peraturan-peraturan yang harus dipatuhi oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari dimasa feodal.
d. I Ching (Buku tentang Perubahan)
Merupakan kumpulan tulisan yang menerangkan tentang prinsip-prinsip kosmis dan evolusi sosial yang didasarkan atas ramalan dengan menggunakan Oktogram.
e. Yueh Ching (Buku tentang Musik)
Merupakan kumpulan tulisan yang dikumpulkan pada masa sebelum Dinasti Han, namun pada masa perkembangannya ada beberapa bab yang hilang, dan lebih dikenal sebagai Li Chi.
f. Ch’un Ch’iu (Musim Semi dan Gugur)
Merupakan kritik sejarah tentang politik selama pemerintahan 12 Bangsawan dari negara Lu.
2. Kedua merupakan hasil karya para muridnya yang berisi tentang ucapan-ucapan Kung Fu Tze kepada murid-muridnya yang telah ditulis oleh para muridnya. Adapun karya-karya yang tergolong dalam kelompok kedua adalah sebagai berikut :
a. Lun Yu (Analek)
Merupakan kumpulan catatan percakapan antara Kung Fu Tze dengan murid-muridnya.
b. Chung Yung (Doktrin tentang Ajaran Jalan Tengah)
Merupakan kumpulan ujaran Kung Fu Tze mengenai jalan tengah (Tao). Tao merupakan inti pokok dari semua pemikiran Cina. Kitab ini disusun oleh Tzu Ssu (492 – 431 SM) yang merupakan cucu dari Kung Fu Tze
c. Ta Hsueh (Ajaran Agung)
Berisi tentang Ajaran-ajaran Agung Kung Fu Tze. Kitab ini disusun oleh Tseng Tzu (505-436 SM), dari Tseng Tzu inilah terus berkelanjutan ke murid lainnya, termasuk Tzu Ssu (492-431 SM) turut andil dalam menulis ujaran Kung Fu Tze yang juga merupakan guru dari Meng Tzu.
F. Gelar yang diperoleh oleh Konghucu
Pada masa kehidupan Konghucu ia banyak memperoleh gelar dari para bangsawan di zamannya, adapun gelar-gelar tersebut adalah sebagai berikut :
1. Konghucu memperoleh gelar Ni Fu yang berarti Bapak yang Mulia Ni dari Raja Lu Ai Gong.
2. Dari Kaisar dinasti Han: Han Ping Di Konghucu diberi gelar Cheng Xuan Ni Gong yang bermakna Pangeran Ni Yang Sempurna dan Cerah Bathin.
3. Pada tahun 492 gelar tersebut diubah menjadi Wen Sheng Ni Fu yang bermakna Yang Mulia Bapak Ni Nabi Yang Menyeluruh Sempurna.
4. Oleh Kaisar Shun Zhi, Kaisar pertama Dinasti Man-Chu pada tahun 1645 gelar itu diubah menjadi Da Cheng Zhi Sheng, Wen Xuan Xian Shi Kong Zi yang bermakna Konghucu Guru Purba Yang Cerah Menyeluruh, Nabi Agung Yang Besar Sempurna. Tetapi 12 tahun kemudian gelar itu disingkat menjadi Zhi Sheng Xian Shi Kong Zi yang bermakna Konghucu Guru Purba Nabi Agung.
5. Gelar untuk Khonghucu/Kongzi yang tersurat di dalam Kitab Shi Shu (Kitab Yang Empat) antara lain adalah Tian Zhi Mu Duo yang bermakna Genta Rohani Tuhan; Zhi Cheng yang bermakna Yang Sempurna Iman; Zhi Sheng yang bermakna Nabi Agung dan Ji Da Cheng yang bermakna Nabi Yang Lengkap Besar dan Sempurna.
6. Di dalam Kitab Mengzi 5B:1/5 disuratkan:"Bo Yi, ialah Nabi Kesucian; Yi Yin ialah Nabi Kewajiban; Liu Xia Hui ialah Nabi Keharmonisan; dan Kongzi ialah Nabi Segala Masa. Maka Nabi Kongzi dinamai yang lengkap, besar dan sempurna. Yang dimaksud dengan lengkap, besar dan sempurna ialah seperti suara musik yang lengkap dengan lonceng dari logam dan lonceng dari batu kumala (Jin Sheng Yu Zhen yang menjadi lambang kita Genta Harmoni). Suara lonceng dari logam sebagai pembuka lagu yang memadukan keharmonisan menunjukkan kebijaksanaanNya dan sebagai penutup lagu menunjukkan paripurnanya karya kenabianNya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Konghucu dilahirkan pada tanggal 27 Ba Yue (bulan 8) 551 SM di negeri Lu, Kota Zou Yi, Desa Chang Ping di lembah Kong Song (kini jazirah Shandong kota Qu Fu). Konghucu merupakan putra bungsu Shu Liang He. Beliau mempunyai 9 kakak perempuan dan seorang kakak laki-laki yang cacat kakinya bernama Meng-pi. Ibunya bernama Yan Zheng Zai. Ayahnya meninggal ketika Konghucu masih berumur tiga tahun (tahun 525 SM), sehingga dia diasuh oleh ibunya yang baik, sedangkan ibunya wafat ketika Khonghucu berusia 26 tahun. Beliau menikah dengan puteri Negeri Song yang bermarga Jian Guan. Dari pernikahan ini beliau mendapatkan seorang putera yang diberi nama Li yang berarti ikan gurami alias Bo Yu. Alasan diberi nama demikian karena pada kelahiran putera beliau telah menerima kiriman ikan gurami oleh Raja Muda Negeri Lu yang panggilannnya Lu Zhao Gong. Selain Li, Khonghucu masih mempunyai dua orang putri yang seorang menjadi isteri Gong Ye Chang, murid beliau.
Singkatnya sejarah kehidupan Konghucu ialah Pada usia lima belas tahun Aku tunjukkan hatiku untuk belajar, pada usia tigah puluh Aku mengambil posisiku, pada usia empat puluh Aku bebas dari kebimbangan, pada usia lima puluh Aku memahami Keputusan Langit, pada usia enam puluh telingaku diselaraskan, pada usia tujuh puluh Aku mengikuti kata hatiku tanpa melewati batas.
Dalam hidupnya ia menghasilkan beberapa karya seperti halnya : Shih Ching (Buku tentang Puisi), Shu Ching (Buku tentang Sejarah), I Li (Buku tentang Upacara), I Ching (Buku tentang Perubahan), Yueh Ching (Buku tentang Musik), Ch’un Ch’iu (Musim Semi dan Gugur).
DAFTAR PUSTAKA
Analects, 2:4; dalam D.C. Lau, terjemahan.,confusius: The Analects (New York: Penguin, 1979)
Carmody, Dennis Lardner. 2000. Jejak Rohani Sang Guru Suci. Jakarta: PT. raja Grafindo.
Hart,Michael H. 1982. Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah. Ter. H. Mahbub Djunaidi. 1978. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya.
http://www.gentanusantara.com/?p=53
http://id.wikipedia.org/wiki/Kong_Hu_Cu_%28filsuf%29
Mathar ,Mochammad Qasim. 2003. Sejarah, Teologi dan Etika Agama-Agama. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Smith,Huston. 2001. Agama-Agama Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
KONSEP KETUHANAN TENTANG KONG HU CU
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Agama di dunia ada bermacam-macam yang diturunkan oleh Tuhan sehingga orang bebas memilih mana yang di anut dan di yakininya dan di anggab palig benar, salah satunya adalah agama kong hu cu tetapi sebenarnya kong hu cu bukan salah satu agama, tetapi filsafat. Tapi sebagian orang berpendapat bahwa kong hu cu adalah suatu agama. Diantaranya orang tionghoa mereka mempercayai bahwa kong hu cu adalah suatu agama, jadi mereka memeluk dan menggap kong hu cu adalah suatu agama.
Sifat kodrati atau watak sejati manusia (Xing) menurut Agama Konghucu adalah bersih dan baik, karena berasal dari Tian sendiri. Agar sifat baik ini bisa terpelihara, maka manusia perlu berupaya hidup di dalam Jalan yang diridhoi Tuhan (Jalan Suci, Dao). Bimbingan agar manusia dapat hidup dalam Jalan Suci disebut agama. Dengan demikian menjadi jelas bahwa agama diciptakan oleh Tuhan dan disampaikan oleh para nabi untuk kepentingan umat manusia.
Menyadari bahwa agama-agama diturunkan Tuhan lewat para nabi untuk kepentingan umat manusia, maka umat Konghucu wajib hidup penuh susila, tepasalira, penuh toleransi dan penghormatan kepada umat agama lain, atas dasar keyakinan bahwa agama-agama atau Jalan-Jalan Suci itu semuanya berasal dariNya.
Dalam Agama Khonghucu konsep Ketuhanannya adalah Monoteis, artinya Esa atau tunggal. Ini tercermin dalam menyebut nama Tuhan d engan Thian atau dalam bahasa kitabnya disebut dengan Tien ini terdiri dari 2 (dua ) akar kata yaitu Iet atau tunggal/esa dan Tay atau besar.
Agama Konghucu adalah agama monoteis, percaya hanya pada satu Tuhan, yang biasa disebut sebagai Tian, Tuhan Yang Maha Esa atau Shangdi (Tuhan Yang Maha Kuasa). Tuhan dalam konsep Konghucu tidak dapat diperkirakan dan ditetapkan, namun tiada satu wujud pun yang tanpa Dia. Dilihat tiada nampak, didengar tidak terdengar, namun dapat dirasakan oleh orang beriman.
Pemeluk agama konh hu cu menganggab bahwa surga dan bumi akan menjadi harmonis jika stiap orang mematuhi mereka yang ada di atas dan membagi dengan pantangan kepada mereka yang ada di bawah. Konghucu mengajarkan hanya bahwa hanya keluarga bahagia yang merupakan fondasi dari suatu dunia yang harmonis. Orang-orang tua diharapkan mengajarkan kebajikan dan tugas kepada anak-anak mereka yang akan menjadi dewasa dan yang akan menghormati mereka sebagai balas budi.
B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalahnya sebagai berikut:
1. Bagaimana agama kong hu cu?
2. Bagaimana konse ketuhanan dalam kong hu cu?
3. Bagaimana diskripsi tentang kepercayaan alam gaib bagi umat kong hu cu?
BAB II
PEMBAHASAN
Konsep ketuhanan agama kong Hu CuONGHUCU
A. AGAMA KONGHUCU
Agama Konghucu dikenal pula sebagai Ji Kauw (dialek Hokian) atau Ru Jiao (Hua Yu), yang berarti agama yang mengajarkan kelembutan atau agama bagi kaum terpelajar. Agama ini sudah dikenal sejak 5.000 tahun lalu, lebih awal 2.500 tahun dibanding usia Kongzi sendiri.
Kongzi (Hua Yu) atau Khongcu (dialek Hokian) atau Confucius (Latin) adalah nama nabi terakhir dalam agama Konghucu. Ia lahir tanggal 27, bulan 8, tahun 0001 Imlek atau 551 sM. Kongzi adalah nabi terbesar dalam agama Konghucu dan oleh sebab itu banyak orang yang kemudian menamai Ru Jiao sebagai Confucianism, yang kemudian di Indonesia dikenal sebagai Agama Konghucu.
Sebagai bukti akan kebesaran Kongzi atau Nabi Khongcu, tahun pertama dari penanggalan Imlek dihitung sejak tahun kelahirannya. Padahal penanggalan Imlek diciptakan pada jaman Huang Di, 2698-2598 sM dan telah digunakan sejak Dinasti Xia, 2205-1766 sM. Penetapan tahun pertama ini dilakukan Kaisar Han Wu Di dari Dinasti Han pada tahun 104 sM.
B. KONSEP KETUHANAN DALAM AGAMA KONGHUCU
Konfucianisme adalah suatau pandangan hidub yang diajarkan oleh kun Fu Tse’ (konfusius), yang hidub sekitar tahun 551-575 SM. Oleh karenanya dapatlah dikatakan bahwa Kun Fu Tse’ adalah salah satu seorang konseptor bangsa Tiongkong yang ingin mempertahankan tradisi kunonya dan menolak untuk menggantikanya dengan yang baru.
Kita kenal bangsa tiongkong sebagai suatu bangsa yang memiliki adat istiadat kehiduban masyarakat dalam beberapa hal:
• Sangat mengagungkana kepercayaan terhadab hal-hal gaib, roh-roh, serta pada leluhurnya. Dengan kata lain, mereka berfaham animisme (serba roh)
• Sangat menjunjungtinggi etika serta upacara-upacara dalam hidup bermasyarakat.
• Sangat mementingkankehiduban mental dari pada material (kebenda-bandaan).
Sebelum ajaran Kong Fu Zi dan Meng Zi, bangsa Cina menganut kepercayaan kepada dewa-dewa yang dianggap memiliki kekuatan alam. Dewa-dewa yang menerima pemujaan tertinggi dari mereka adalah Feng-Pa (dewa angin), Lei-Shih (dewan angin taufan yang digambarkan sebagai naga besar), T'sai-Shan (dewa penguasa bukit suci), dan Ho-Po. Menurut kepercayaan Cina kuno, dunia digambarkan sebagai sebuah segi empat yang di bagian atasnya ditutupi oleh 9 lapisan langit. Di tengah-tengah dunia itulah terletak daerah yang didiami bangsa Cina yang disebut T'ien-hsia. Daerah di luar T'ien-hsia dianggap sebagai daerah kosong tempat tinggal para hantu dan Dewi Pa (penguasa musim semi).
Orang cina dengan penuh hormat menyebut konfusius, kung fu tzu, atau kung sang Guru. Sebagai guru pertama, bukanya tidak ada guru sebelum beliau, melainkan karena martabat beliau lebih tinggi dari semua guru yang lain. Tidak seorang pun yang berpendapat bahwa hanya beliaulah yang membangun kebudayaan cina. Beliau sendiri secara terbuka memperkecil arti pembaruhan-pembaharuan yang telah beliau lakukan terhadab terhadab kebudayaan cina tersebut, dan lebih suka menyebutkan dirinya” pecinta barang antik”. Pemberiaan nama itu tidak sepadan sumbangan beliau, namun hal itu merupakan suatu contoh yang amat baik tantan kerendahan hati serta mawas diri yang beliau anjurkan. Karena walaupun beliau bukan mengubah kebudayaan cina, beliau tetap merupakan penyuntingannya yang paling utama. Dengan memilah-milah yang sudah lewat, megaris bawahi disini, beliau menjernihkan konsep-konep kebudayaan bangsanya, yang dengan amat mengesankan tetap jelas selama 25 abad.
kong fu tse senidiri sebenarnya bukan pencipta konfusianisme, melainkan orang yang memperbaiki dan membaharui konfusianisme. Paham ini lebih tepat merupakan pandangan dunia filsafat negara yang berdasarkan etika keagamaaan yang berasal dari permulaan zaman Tsyou yang foedal (1050 SM) dan baru di jadikan agama negara di bawah dinasti han (206 SM-221 M).
Kong Fu Tse mempelajari kebenaran kejayaan pemerintahaan raja-raja sebelumnya, serta menyelidiki sebab-sebab kebesaraan itu, kemudian beliau Hustan mengajarkan pada raja-raja pada masanya dan mepraktekanya selama beliau mendapat pangkat dalam pemerintahanya.
Konsep dalam AgamaNasrani disebut dengan Trinity
Konsep dalam Agama Islam disebutTauhid
Konsep dalam agama kong hu cu
Ru Jiao atau agama Konghucu adalah agama monoteis, percaya hanya pada satu Tuhan, yang biasa disebut sebagai Tian, Tuhan Yang Maha Esa atau Shangdi (Tuhan Yang Maha Kuasa). Tuhan dalam konsep Konghucu tidak dapat diperkirakan dan ditetapkan, namun tiada satu wujud pun yang tanpa Dia. Dilihat tiada nampak, didengar tidak terdengar, namun dapat dirasakan oleh orang beriman.
Dalam Agama Khonghucu konsep Ketuhanannya adalah Monoteis, artinya Esa atau tunggal. Ini tercermin dalam menyebut nama Tuhan dengan Thian atau dalam bahasa kitabnya disebut dengan Tien ini terdiri dari 2 (dua ) akar kata yaitu
• Iet atau tunggal atau esa dan Tay atau besar, jadi seluruh huruf ini berarti Satu yang maha besar dan dengan kata lain : Tuhan Yang Maha Esa. Hal tersebut di atas dibuktikan secara jelas dalam ajaran Agama Khonghucu, misalnya : Dalam Delapan Keimanan atau Pat Sing Ciam Kwie bagian pertama
• Sing Sien Hong Thian = Sepenuhnya Iman Percaya Kepada Tuhan Yang Maha Esa, begitu pula di dalam doa umum maupun doa upacara kematian atau Song Su dan doa upacara pernikahan atau Hoo Su, selalu terlebih dulu menyebut : Kehadirat Thian Yang Maha besar Ditempat yang Maha Tinggi, setelah itu baharu menyebut : setelah itu baharu menyebut : Dengan Bimbingan Nabi Khongcu,
• serta diakhiri dengan ucapan : Sian Cay, yang artinya semoga demikianlah sebaiknya. Juga diimplementasikan atau dijabarkan dalam ucara besar kehadirat Thian Yang Maha Esa:
1. King Thi Kong atau Sembahyang Besar Tuhan Allah Iemlik bulan I tanggal 8 menjelang tanggal 9,dilaksanakan saat Cu Si Pkl 23.00-01.00.
2. Cio Thao atau Sembahyang Kehadirat Thian YME, yang dilakukan mempelai sebelum bertemu dengan pasangannya,waktunya antara Pk 03.00 pagi, di rumah masing-masing calon mempelai.
3. Sam Kay atau Sembahyang Kehadirat Thian YME,saat mempelai bertemu satu dengan lainnya. Sebelum mempelai menerima Liep Gwan Perinahan diLithang.
Dalam Yijing dijelaskan bahwa Tuhan itu Maha Sempurna dan Maha Pencipta (Yuan) ; Maha Menjalin, Maha Menembusi dan Maha Luhur (Heng) ; Maha Pemurah, Maha Pemberi Rahmat dan Maha Adil (Li), dan Maha Abadi Hukumnya (Zhen).
Konsep Ketuhanan menurut Konghucu:
• Sepenuh Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa (Cheng Xin Huang Tian)
2.Sepenuh Iman menjunjung Kebajikan (ChengJuenJieDe)
• Sepenuh Iman Menegakkan Firman Gemilang (ChengLiMingMing)
• Sepenuh Iman Percaya adanya Nyawa dan Roh (ChengZhiGuiShen)
• Sepenuh Iman memupuk Cita Berbakti (ChengYangXiaoShi)
Agama Khonghucu juga mengajarkan hubungan antar sesama manusia atau disebut "Ren Dao" dan bagaimana penganutnya melakukan hubungan dengan Sang Khalik/Pencipta alam semesta (Tian Dao) yang disebut dengan istilah "Tian" atau "Shang Di".
Ibadah kehadirat Thian Yang Maha Esa yang berkaitan pula ibadah kepada Nabi dan Para Suci antara lain:
1. Ibadah Siang Gwan atau Cap Go Meh, setiap Imlek bulan pertama tanggal 15 malam, dikala bulan purnama raya. Karena Ibadah siang Gwan Siauw ini melambangkan saat mulai diturunkan berkah Thian atas penghidupan dalam tahun baru yang bersangkutan, maka biasa dilakukan upacara sembahyang besar bagi Para Suci/Sien Bing untuk keselamatan serta perlindungan masyarakat luas. Baik dalam kehidupan maupun penghidupannya.
2. Ibadah Twan yang atau Hari Kehidupan, dilaksanakan pada Imlek bulan V tanggal 5, pada saat Ngo Si, antara Pk 11.00 -13.00 ; di samping Ibadah besar kehadirat Thian juga menghormati khut Gwan para suci yang semasa hidupnya telah mewujudkan secara nyata Satyanya keapda Tuhan maupun bangsadan negaranya.
3. Ibadah Tangcik atau Hari Genta Rohani (Bok Tok), Cie Ya Sing Kie Sien. Dilaksanakan pada tanggal 22 desember, dikala matahari terletak pada garis balik 23 1/2 derajat Lintang Selatan, saat Ien Si antara Pk 03.00 -05.00. Di samping sembahayang besar kehadirat Thian dengan altar King Thi Kong yang sesaji tabu diganti sepasang bambu kuning yang melambangkan keabadian, juga ada disajikan khusus ronde atau onde dengan kuah jahe manis sebanyak 3 mangkuk 12 ronde kecil merah dan putih serta ditengahnya diberi satu ronde merah besar yang melambangkan rakhmat Thian YME yang dilimpahkan selama satu tahun yang terdiri dua belsa bulan ! Ibadah ini juga memperinagti awal Nabi Khongcu melakukan tugas kenabiannya serta pula memperingati wafat Ya Sing Bincu Penegak Agama Jie yang konsekwen dengan ajaran Nabi !.
Ajaran (pemujaan) atau kepercayaan agama kong hu cu
Di lihat pemikiran orang tionghoa bahwa tujuan hidub orang kong hu cu bukan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akirat. Tetapi tujuanya untuk menuju kepada kesejahteraan negara, dunia dan sekarang ini.
Soal ketuhanan soal hari kiamat dan akhirat, soal hidub sesudah mati tidak pernah disinggng, yang dimuliakan dan dipuja oleh mereka adalah alam (termasuk roh-roh, dewa-dewa, gunung sungai-sungai, angin), leluhur (termasuk kebaktian iman), dan langit (ahli-ahli sejarah agama mengaggab bahwa dewa langit adalah dewa tertua).
Konfusianisme mengajarkan bahwa semua kesadaran berakhir dengan kematian, maka itu, sudah menjadi tugas manusia untuk menghormati para leluhur mereka dan ada tempat pemujaan khususnya untuk keperluan ini, didalam rumah,didalam kuil (kelenteng) taoisme surga dan bumi adalah bidang-bidang spiritual dan fisik, sedangkan manusia menjaga keseimbangan keduanya keseimbangan ini dapat ditanggung oleh kekeliruan manusia dan para penganut tao mencari pengampunan dengan berdoa dan memberikan persembahan. Konfusianisme dapat disamakan dengan universalisme, karena pandangan hidup ini berdasarkan universum dan ingin melingkupi seluruh masyarakat dalam bagian-bagianya dan dengan semua bentuk kegiatanya kedalam setelselnya. Yang paling penting didalam ajaran pokok kong hu cu pada agama Tionghoa diantaranya adalah:
1. Pemujaan alam
Sejak dulu kala bangsa tionghoa merupakan bangsa petani. Mereka sangat erat hubungnya dengan tanah dan kekuataan kedewataan, yang terdapat dalam alam. Setiap tahun diadakan perayaan dengan berbagai rite-rite dan pesta-pesta untuk hasil pertanianya
Di zaman dahulu raja membuka musim membajak dengan memberikan suatu korban kepada pembajak pertama dan dengan pembajak sendiri tiga kali jalan.
Beberapa tempat tertentu di pandang suci, karena tampak adanya tanda-tanda kedewataaan. Di tempat itulah pemuda-pemudi dimusim semi sebagai rite-rite pembaharuan alam. Dan biasanya diakhiri hubungan sex.
Seluruh alam, air di anggab didiami oleh jin-jin atau roh-roh ilmu pengetahuan menamakan kepercayan ini adalah animisme.
konfusianisme dalam social harmony jalan yang mengatur alam adalah jalan yang sama yang harus diikuti oleh manusia, jika mereka ingin sejahtera. Upacara keagamaan yang dilakukan oleh para penguasa adalah untuk mencari kesuburan ladang-ladang pertanian, melindungi diri dari elemen alam yang membahayakan. Para raja adalah penghubung antara langit dan bumi. Kekuasaan mereka berasal dari kekuasaan alam semesta, kekuasaan pencipta. Jika mereka dapat membutat persoallan manusia harmonis persoalan alam, mereka akan berhasil secara mengagumkan.Dalam ala mini kekuasaan yang tertinggi terletak pada dewa langit, yang oleh sementara ahli agama dikatakan dewata yang agak kabur, tetapi dihormati,yang menciptakan segalanya dan yang menentukan kebahagiaan dan nasib manusia.
2. Hormat pada leluhur
Hormat pada leluhur yang sudah mati adalah juga penting karena menurut mereka arwah itu memerlukan pemujian. Kultus (upacara) orang mati selalu merupakan bagian penting upacara pemujaan. Jadi roh (arwah) dianggab dapat memberikan berkah, doa dan pertolongan kepada para keluarganya. Karena menghormati arwah yang sudah meninggal sama halnya menghormati orang yang masih hidup.
3. Pemujaan langit
Hormat yang paling besar adalah pemujaan terhadap langit. Ahli-ahli agama tertentu menyatakaan bahwa dewa langitlah dewa yang paling tua. Dewa ini dikatakan mempunyai akhlak yang luhurnamanya ialah Tien artinya langit. Di dalam pemujaan sering disebut dengan syang yang berarti; raja yang di atas ia di pandang sebagai seorang kaisar yang bertahta di langit. Ia tidak mendapat pemujaan tersendiri, tetapi kekuasaanya tidak terbatas. Yang khusus bagi sikap kerohanian lama bangsa tionghoa ialah ketiadaan hasrat hendak menguasai alam dengan pemikiran ataupun dengan perbuatan.
Ajaran di dalam agama Kong hu cu
Kong hu cu mengajarkan,mengidamkan dunia seperti yang tertulis dalam ayat-ayat berikut:
• Bila terselengara jalan suci yang agung itu, dunia bahwa langit ini didalam kebersamaan; dipilih orang bijak dan mampu, kata-kata dapat dipercaya, apa yang dibangun atau yang di kerjakan harmonis.
• Orang tidak hanya kepada orang tua sendiri hormat-menghormati sebagai orang tuanya; tidak hanya kpada anak sendiri menyanyangi sebagai anaknya.
• Menyiapkan bagi orang yang tua supaya tenteram melewatkan hari tua sampai akhir hayatnya; bagi yang muda-sehat medapatkan kesempatan berkaraya daatau berkarya, dan bagi remaja mendapatkan pengasuhnya.
• Kepada para janda, balu, yatim piatu, yang sebatang kara dan yang sedang sakit, semuanya mendapatkan perawatan.
• Yang pria mendapatkan pekerjaaan yang tepat, yang wanita memilih rumah tepatnya untuk pulang.
• Barang-barang berharga tidak dibiarkan tercampur ditanah, tetapi juga tidak untuk di simpan diri sendiri.
• Maka segala upaya yang mementingkan diri sendiri di tekan dan tidak dibiarkan berkembang; perampok, pencuri, pengacau dan pengkhianat menghentikan perbuatanya.
• Maka pintu keluarpun tidak perlu di tutup. Demikianlah yang dinamai kebersamaan agung.
Kepercayaan terhadab kegaiban
Kofusianisme tentang percaya tentang adanya roh-roh orang yang telah meninggal dan pendapat tentang tuhan yme yang menarik perhatian kita adalah kenyataan bahwa dalam masa pro konfusianisme, tuhan yme di mengerti sebagai tenaga tertinggi yang di peribadikan, yang mengatur peristiwa-peristiwa alam dan manusia, menjalankan kekuasaan memberi berkah dan hukuman.
Konfusianisme memperhatikan kehidupan dalam masyarakat rakyat . ini tidak berati dia menyangkal adanya dunia gaib roh-roh, hanya memberi sesaat beliau memberi prioritas pada pemikran-pemikiran tentang pemerintahan dan kesejahteraan negara.
Bagi konfusianisme tata susila diri seseorang, dalam masyarakat dan alam semesta adalah satu, dunia satu, dunia ini dan kedudukan manusia di dalamya diterima sebagai nyata dan berharga untuk di perhatikan. Manusia hanya memusatkan alamya sendiri untuk memastikan kedudukanya di dalam alam semesta
4. AJARAN POKOK AGAMA KONGHUCU
Konghucu mengajarkan bahwa surga dan bumi akan menjadi harmonis jika stiap orang mematuhi mereka yang ada di atas dan membagi dengan pantangan kepada mereka yang ada di bawah. Konghucu mengajarkan hanya bahwa hanya keluarga bahagia yang merupakan fondasi dari suatu dunia yang harmonis. Orang-orang tua diharapkan mengajarkan kebajikan dan tugas kepada anak-anak mereka yang akan menjadi dewasa dan yang akan menghormati mereka sebagai balas budi. Penghormatan semacam ini termasuk kepatuhan dan kesediaan menerima kekuasaan orang tua tanpa perlu dibantah. Ibadah untuk para leluhur merupakan perwujudan dari kewajiban anak-anak dan merupakan perwujudan perbedaan yang penting bagi masyarakat yang bersatu padu. Penghormatan yang diberikan kepada orang tua dalam hidup ini harus dilanjutkan setelah mati.
Seperti halnya ajaran pokok agama lain, dalam agama Konghucu dikenal hubungan vertikal antara manusia dengan Sang Khalik dan hubungan horizontal antara sesama manusia. Dalam kosa kata Agama Konghucu disebut sebagai Zhong Shu, Satya kepada (Firman) Tuhan, dan Tepasalira (tenggang rasa) kepada sesama manusia. Prinsip Tepasalira ini kemudian ditegaskan dalam beberapa sabdanya yang terkenal, “Apa yang diri sendiri tiada inginkan, jangan diberikan kepada orang lain” dan “Bila diri sendiri ingin tegak (maju), berusahalah agar orang lain tegak (maju)”. Kedua sabda ini dikenal sebagai “Golden Rule” (Hukum Emas) yang bersifat Yin dan Yang.
Dalam berbagai kesempatan Kongzi menekankan pentingnya manusia mempunyai “Tiga Pusaka Kehidupan”, “Tiga Mutiara Kebajikan” atau “Tiga Kebajikan Utama”, yaitu : Zhi, Ren dan Yong. Ditegaskan bahwa, “Yang Zhi tidak dilamun bimbang, yang Ren tidak merasakan susah payah, dan yang Yong tidak dirundung ketakutan”.
Zhi berarti wisdom dan sekaligus enlightenment (Bijaksana dan Tercerahkan - Pencerahan). Bijaksana dapat diartikan pandai, selalu menggunakan akal budinya, arif, tajam pikiran, mampu mengatasi persoalan dan mampu mengenal orang lain. Pencerahan atau yang Tercerahkan, berarti mampu mengenal dan memahami diri sendiri, termasuk di dalamnya mampu mengenal yang hakiki. Untuk mencapai Zhi, manusia harus belajar keras, dengan menggunakan kemampuan dan upaya diri sendiri. Agama, para Nabi dan atau Guru Agung hanya bisa membantu, namun untuk mencapainya adalah dari upaya diri sendiri. Orang yang ingin memperoleh Zhi, berarti ia harus belajar keras untuk meraih Kebijaksanaan dan sekaligus Pencerahan (batin).
Ren berarti Cinta Kasih universal, tidak terbatas pada orang tua dan keluarga sedarah belaka, namun juga kepada sahabat, lingkungan terdekat, masyarakat, bangsa, negara, agama dan umat manusia. Ren bebas dari stigma masa lalu dan tidak membeda-bedakan manusia dari latar belakang atau ikatan primordialnya. Ren tidak mengenal segala bentuk diskriminasi atau pertimbangan atas dasar kelompok. Meski berasal dari satu kelompok, bila seseorang bersalah atau melanggar Kebajikan, maka bisa saja kita berpihak kepada orang yang berasal dari kelompok berbeda namun benar-benar berada dalam Kebajikan. Ren dalam pengertian agama Konghucu selalu didasari pada sikap ketulusan, berbakti, memberi, bukan meminta atau menuntut balasan dalam bentuk apapun. Namun perlu diingat bahwa Ren tidak berarti mencinta tanpa dasar pertimbangan baik dan buruk. Dalam salah satu sabdanya Kongzi mengatakan bahwa “Orang yang berperi-Cintakasih bisa mencintai dan membenci”. Mencintai Kebaikan dan membenci Keburukan. Balaslah Kebaikan dengan Kebaikan; Balaslah Kejahatan dengan Kelurusan”. Di sini berarti siapa pun yang bersalah, harus diluruskan, dihukum secara adil dan diberi pendidikan secara optimal agar dapat kembali ke jalan yang benar. Setelah berada di jalan yang benar, kita tidak boleh terkena stigma, menilai atas dasar masa lalu seseorang.
Yong sering diartikan Berani atau Keberanian. Namun yang dimaksud dengan Yong, bukanlah keberanian dalam “k” kecil. Berani melawan harimau dengan tangan kosong, berani menyeberangi bengawan tanpa alat bantu, bukanlah Keberanian yang dimaksud Kongzi. Yang dimaksud dengan Keberanian di sini adalah Berani karena Benar, Berani atas dasar Aturan atau Kesusilaan, Berani atas dasar rasa Tahu Malu. Suatu ketika Kongzi berkata, “Bila memeriksa ke dalam diri aku telah berada dalam Kebenaran, mengapa aku harus merasa takut?. Namun bila aku bersalah, kepada anak kecil pun aku tidak Berani”.
Yong juga diartikan sebagai Keberanian untuk melakukan koreksi dan instrospeksi diri. Bila bersalah, kita harus Berani mengakui kesalahan tersebut dan sekaligus Berani untuk mengkoreksinya. Nabi Kongzi berkata, “Sungguh beruntung aku. Setiap berbuat kesalahan, selalu ada yang mengingatkannya”. Ditambahkan, “Sesungguh-sungguhnya kesalahan adalah bila menjumpai diri sendiri bersalah, namun tidak berusaha untuk mengkoreksi atau memperbaikinya”. Maka seorang yang berjiwa besar adalah orang yang berani belajar dari kesalahan.
Oleh Mengzi, Yong kemudian dijabarkan sebagai Yi (Kebenaran) dan Li (Kesusilaan, Tahu Aturan, Ketertiban atau Hukum). Bila seseorang mampu menjalani Ren, Yi, Li dan Zhi dengan baik, maka ia diharapkan mampu menjadi seorang Junzi (Kuncu), atau orang yang beriman (dan tentu saja berbudi pekerti luhur). Dalam Islam disebut “Insan Kamil”. Dengan demikian diharapkan ia akan menjadi manusia yang terpercaya atau Dapat Dipercaya (Xin). Pokok ajaran Ren, Yi, Li, Zhi dan Xin atau, inilah yang biasa disebut sebagai “Lima Kebajikan” atau Wu Chang.
5. KITAB SUCI AGAMA KONG HUCU
Seorang pengikut yang sejiwa dan setia dengan konfusius ialah mencius (meng tsu) 372 SM-288 SM. Meng tsu berpendapat bahwa manusia itu pada dasarnya baik, maka kebaikan itu harus di pelihara agar tetap baik.
Sebaliknya pangkut yang lain yaitu Hsu Tsu mengatakan bahwa manusia itu pada dasarnya jahat dan segala kebaikan itu adalah dari ajaranya manusia itu sendiri, maka kebaikan itu harus diusahakan dengan sebaik-baiknya.
Berkat pengikut-pengikutnya yang setia, maka dibutlah kitab-kitab kelasik yang terpenting di antaranya ialah:
a. Yi-tsying ; yaitu kitab dari perubahan-perubahan, yang menurut itinya merupakan bu buku nujum.
b. Syoe-tsying : yaitu kitab sejarah atau kitab piagam, yang berisi ceritera turun temurun mengenai silsilah raja-raja coe.
c. Tsyoe-tsyioe : yaitu kitab nyanyian, kumpulan nyanyian pemujaan lagu-lagu kebangsaan.
d. Tsyoen-tsyione: yaitu kitab tahunan musim semi dan musim gugur, suatu kronik negara Loe, negara asal kung fu Tse.
e. Li-tsyi; yaitu kitab tentang Li (peaturan-peraturan hidup adat sopan santun dan rite-rite).
Menurut Dr. Ghalb buku-buku tersebut sudah tidak asli lagi, tetapi sudah merupakan tasiran dari murid-muridnya.
a. Lun – yu : yaitu mengandung kata-kata hikmat dari keutamaan, merupakan percakapan antara murid dengan gurunya.
b. Ta –hiu : yaitu menerangkan falsafah dengan cara soal jawab antara murid dan guru.
c. Tsyung hunng : menerangkan falsafah-falsafah dan akhlak. Dan inilah yang merupakan salah satu kitabnya yang terpeting.
Kitab suci agama Konghucu sampai pada bentuknya yang sekarang mengalami perkembangan yang sangat panjang. Kitab suci yang tertua berasal dari Yao (2357-2255 sM) atau bahkan bisa dikatakan sejak Fu Xi (30 abad sM). Yang termuda ditulis cicit murid Kongzi, Mengzi (wafat 289 sM), yang menjabarkan dan meluruskan ajaran Kongzi, yang waktu itu banyak diselewengkan.
Kitab suci yang berasal dari Nabi Purba sebelum Kongzi, ditambah Chunqiujing (Kitab atau Catatan Jaman Cun Ciu/ Musim Semi dan Musim Rontok) yang ditulis sendiri oleh Kongzi, sesuai dengan wahyu Tian, kemudian dihimpun Kongzi dalam sebuah Kitab yang disebut Wujing. Beberapa saat sebelum wafat, Nabi Kongzi mempersembahkan Wujing dalam persembahyangan kepada Tian.
Wu Jing terdiri atas : (i) Shijing (Kitab Sanjak), yang berisi nyanyian religi, puji-pujian akan keagungan Tian dan nyanyian untuk upacara di istana, (ii) Shujing (Kitab Dokumentasi Sejarah Suci), yang berisi sejarah suci Agama Konghucu, (iii) Yijing, berisi tentang penjadian alam semesta, sehingga mereka yang menghayati Kitab ini akan mampu menyibak takbir kuasa Tian dengan segala aspeknya, (iv) Lijing (Kitab Kesusilaan), yang berisi aturan dan pokok-pokok kesusilaan dan peribadahan, serta (v) Chunqiujing.
KESIMPULAH
Dalam Agama Khonghucu konsep Ketuhanannya adalah Monoteis, artinya Esa atau tunggal. Ini tercermin dalam menyebut nama Tuhan d engan Thian atau dalam bahasa kitabnya disebut dengan Tien ini terdiri dari 2 (dua ) akar kata yaitu Iet atau tunggal/esa dan Tay atau besar.
agama Konghucu adalah agama monoteis, percaya hanya pada satu Tuhan, yang biasa disebut sebagai Tian, Tuhan Yang Maha Esa atau Shangdi (Tuhan Yang Maha Kuasa). Tuhan dalam konsep Konghucu tidak dapat diperkirakan dan ditetapkan, namun tiada satu wujud pun yang tanpa Dia. Dilihat tiada nampak, didengar tidak terdengar, namun dapat dirasakan oleh orang beriman.
Umat Konghucu juga mengajarkan bahwa surga dan bumi akan menjadi harmonis jika stiap orang mematuhi mereka yang ada di atas dan membagi dengan pantangan kepada mereka yang ada di bawah. Konghucu mengajarkan hanya bahwa hanya keluarga bahagia yang merupakan fondasi dari suatu dunia yang harmonis. Orang-orang tua diharapkan mengajarkan kebajikan dan tugas kepada anak-anak mereka yang akan menjadi dewasa dan yang akan menghormati mereka sebagai balas budi. Penghormatan semacam ini termasuk kepatuhan dan kesediaan menerima kekuasaan orang tua tanpa perlu dibantah. Ibadah untuk para leluhur merupakan perwujudan dari kewajiban anak-anak dan merupakan perwujudan perbedaan yang penting bagi masyarakat yang bersatu padu
DAFAT PUSTAKA
Ahmadi Drs.H Abu,perbandingan agama, jakarta:Pt.rineka cipta,1991
Keene Michael, agama-agama dunia,yogyakarta ;penerbit kanisius,2006
Prof.H.M.Arifin M.Ed,menguak misteri ajaran agama-agama beser,(jakarta :PT golden terayon perss 1986)
Lardener Carmodi Denis DKK,jejakRohaniSangGuruSci.PT.Rajagrafin dopersadajakarta2000
Cenggana Anly Dkk,hak asasi beragama dan perkawinan konghu cu, jakarta;PT.Gramedia pustaka utama 1998
Prof.H.M.Arifin M.Ed,menguak misteri ajaran agama-agama beser, jakarta :PT golden terayon perss 1986
Smith Hustan agama-agama manusia jakarta,yayasan obor indonesia:2001
http://id.wikipedia.org/wiki/Peradaban_Lembah_Sungai_Kuning jumat 04 maret 2011
http://www.matakin-indonesia.org/selintas_mengenal_agama_khonghuc.htm. jumat 04 maret 2011
http://sites.google.com/site/lordcomputert/unida/agama/8-agama-terbesar-di-dunia jumat 04 maret 2011
http://www.wihara.com/forum/kong-hu-cu/651-konsep-ketuhanan-dalam-konghucu.html. jumat 04 maret 2011
ETIKA KHONGHUCU Oleh: Dian Syva`Hanina
ETIKA KHONGHUCU I
Oleh: Dian Syva`Hanina
ABSTRAK
Etika adalah usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya pikirnya untuk memecahkan masalah bagaimana ia harus hidup baik. Akal budi itu ciptaan Allah dan tentu diberikan kepada Manusia untuk dipergunakan dalam semua dimensi kehidupan. Etika sering dipadankan dengan kata moral, dalam bahasa Latin Mos yang bentuk jamaknya mores yang berarti adat atau cara hidup. Sedangkan dalam arti luas etika adalah sarana orientasi bagi usaha manusia untuk menjalani hidup di dunia. Antara etika dan agama jelas memiliki hubungan yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Banyak nilai dan norma etis yang berlaku di masyarakat berasal dari semangat (ideal-moral) agama. Mengingat agama merupakan suatu kepercayaan yang mengandung nilai-nilai tentang norma yang dapat mengatur hubungan antara manusia dengan manusia lainnya juga hubungan antara manusia dengan makhluk lain serta hubungan manusia dengan Tuhannya.
Kata Kunci: Etika, Sosial, Agama konghucu
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Konfusianisme merupakan salah satu ajaran yang bersumber pada kitab-kitab klasik yang dipopulerkan oleh konfusius dan para penganutnya. Dalam istilah Cina, Konfusianisme menunjukkan pada dua pengertian yaitu, Ju Chiao dan Ju Chia. Secara garis besar ajaran konfusianisme dalam bidang filsafat dapat dikelompokkan dalam ajaran tentang metafisika dan etika. Metafisikanya bertolak dari konsep T`ien atau Thian, yang dalam bahasa inggris Heaven merupakan faktor spiritual yang utama dalam bidang keagamaan. Oleh karena itu di dalam Ju Chiao, konsep tentang Thian perlu mendapatkan perhatian khusus walaupun hal ini cukup rumit mengingat keterbatasan manusia sebagai salah satu makhluk ciptaannya.
B. Rumusan masalah
1. Apa pengertian Etika dari agama konghucu?
2. Bagaimana hubungan norma kesopanan dalam confusius?
3. Bagaimana hubungan tata krama dalam khonghucu?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian Etika dari agama konghucu
2. Untuk mengetahui hubungan norma kesopanan dalam confusius
3. Untuk mengetahui hubungan tata krama dalam konghucu
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian etika
Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik. Menurut Martin (1993), etika di definisikan sebagai "the discipline which can act as the performance index or reference for our control system". Dengan demikian, etika akan memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan manusia didalam kelompok sosialnya.
Dalam pengertiannya yang secara khusus dikaitkan dengan seni pergaulan manusia, etika ini kemudian dirupakan dalam bentuk aturan (code) yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada; dan pada saat yang dibutuhkan akan bisa difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika rasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik Dengan demikian etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan "self control", karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok sosial (profesi) itu sendiri.
karena kelompok profesional merupakan kelompok yang berkeahlian dan berkemahiran yang diperoleh melalui proses pendidikan dan pelatihan yang berkualitas dan berstandar tinggi yang dalam menerapkan semua keahlian dan kemahirannya yang tinggi itu hanya dapat dikontrol dan dinilai dari dalam oleh rekan sejawat, sesama profesi sendiri. Kehadiran organisasi profesi dengan perangkat "built-in mechanism" berupa kode etik profesi dalam hal ini jelas akan diperlukan untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi, dan disisi lain melindungi masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun penyalah gunaan keahlian (Wignjosoebroto, 1999).
Secara garis besar ajaran konfusianisme dalam bidang filsafat dapat dikelompokkan dalam ajaran tentang metafisika dan etika. Metafisika bertolak dari konsep T`ien atau Thian, yang dalam bahasa inggris Heaven merupakan faktor spiritual yang utama dalam bidang keagamaannya.
B. Lima Norma Kesopanan Confucius
Confucius mengajarkan bahwa terdapat lima hubungan norma kesopanan dalam kehidupan bermasyarakat, dimana secara bersama membentuk suatu dasar interaksi manusia yang diwujudkan dalam lima sifat mulia (Wu Chan), yaitu Jen, I, Li, Chih, dan Hsin. Dengan menjalani kehidupan secara berkesesuaian terhadap lima hubungan norma kesopanan tersebut, maka seseorang akan memiliki kehidupan moralitas yang tinggi terhadap hubungan pribadinya maupun terhadap komunitas sebagai suatu eksistensi bersama yang harmonis.
Hubungan norma kesopanan yang dipaparkan secara berpasangan dapatlah dilihat sebagai suatu paduan keharmonisan dalam unsur Yin-Yang dimana nama awal sebagai dominan bertindak selaku Yang dan nama yang kedua sebagai pengikut bertindak selaku Yin. Lima hubungan tersebut terdiri dari :
a. Hubungan ayah dengan anak, yang dapat ditafsirkan sebagai hubungan anak-anak terhadap orang tua mereka. Seorang anak haruslah berbhakti terhadap orang tua mereka dengan melayani mereka secara sopan santun dan berbudi pekerti luhur, baik pada saat mereka masih hidup ataupun sesudah meninggal.
Guru Khung Fu Zi bersabda, “Apabila orangtua masih hidup, layanilah mereka dengan sopan santun / budi pekerti. Pada saat mereka meninggal, makamkanlah dengan sopan santun / budi pekerti dan sembahyangilah dengan sopan santun / budi pekerti.” (Lun Yu II/5).
Pengertian bhakti terhadap orangtua juga sangat ditekankan dalam Buddhisme sebagaimana dapat dilihat dari Sutra Kasih Yang Mendalam Dari Orangtua dan Kesulitan Membalasnya (Filial Piety Sutra) dan sutra-sutra lainnya. Dalam sutra tersebut disabdakan oleh Sang Buddha : “Bila ada seseorang yang mengangkat ayahnya dengan bahu kirinya, dan ibunya dengan bahu kanannya, dan oleh karena beratnya menembus tulang sumsumnya, sehingga tulang-tulangnya hancur menjadi debu, dan orang tersebut mengelilingi Puncak Sumeru seratus ribu kalpa lamanya, sehingga darah yang keluar dari kakinya membasahi pergelangan kakinya, orang tersebut belumlah cukup membalas kebaikan yang mendalam dari orang tuanya.”
Orangtua senantiasa mengkhawatirkan keberadaan dan kesehatan anak-anaknya. Sungguh berbahagia bagi kita yang dapat hidup di dekat orangtua sehingga dapat menghilangkan kekhawatiran mereka. Namun dalam kehidupan jaman sekarang sulit dapat dihindari untuk hidup berjauhan dari orangtua karena tuntutan pendidikan ataupun pekerjaan. Kemampuan teknologi komunikasi sangat membantu untuk membolehkan kita menghubungi orangtua secara rutin apabila kita berada jauh dari tempat mereka tinggal, hanya untuk mengabarkan keberadaan kita.
Guru Khung Fu Zi bersabda, “Bila orangtua Anda masih hidup, janganlah berpergian jauh. Jika Anda harus berpergian jauh, Anda harus memberitahu mereka di mana Anda berada, supaya mereka tidak merasa khawatir mengenai keadaan Anda .” (Lun Yu IV/19).
Orangtua senantiasa mengharapkan kemajuan dan kesejahteraan anak-anaknya. Apabila anaknya laki-laki, tentunya mereka mengharapkan agar kelak akan memperoleh seorang isteri yang setia. Demikian juga kalau anaknya perempuan, maka mereka mengharapkan agar kelak akan memperoleh seorang suami yang baik.
b. Hubungan Suami dan Isteri, Keharmonisan hubungan suami dan istri sangatlah ditekankan dalam ajaran Confucius. Kedudukan seorang perempuan kelihatannya menduduki sifat Yin yang mana lebih bersifat menuruti seorang Suami. Tentunya dalam era kehidupan saat ini, telah tercatat banyak sekali perempuan yang menunjukkan emansipasinya dalam ikut berperan serta memajukan kehidupan suatu negara. Perlu juga kita sadari, di sisi lainnya, bahwa sebagai seorang perempuan yang melahirkan anak-anaknya, kiranya peran sebagai seorang ibu rumah tangga juga tidak begitu saja dapat diabaikan. Kedekatan seorang ibu terhadap anak-anaknya sangatlah memegang peranan dalam perkembangan moralitas anaknya tersebut.
” Buah Pohon Peach sungguh matang, daunnya sungguh segar. Gadis itu akan ke rumah suaminya, dan dia akan menciptakan kehidupan yang harmonis dalam rumah tangganya.”
Apabila rumah tangga telah harmonis, maka seluruh rakyat dalam suatu negara akan dapat diajarkan keharmonisan hidup. Dengan demikian kemampuan untuk memerintah dalam suatu negara tergantung dari keharmonisan rumah tangga. Keharmonisan dalam rumah tangga juga sangat ditekankan dalam Buddhisme sebagaimana sabda Sang Buddha, “Sebuah keluarga adalah tempat dimana pikiran-pikiran bergabung dan bersentuhan satu dengan lain . Bila pikiran-pikiran ini saling mencintai satu sama lain, rumah itu akan seindah taman bunga yang asri. Namun bila pikiran-pikiran itu tidak harmonis yang satu dengan yang lain, keadaannya adalah bagaikan topan badai yang memporak porandakan isi taman itu. ” (Anguttara Nikaya III, 31)
Hubungan suami dengan isteri juga berdasarkan pengertian yang baik dan saling menghormati. Seorang calon isteri selalu dinasehati oleh ibunya untuk dapat menghormati suaminya dan senantiasa menghindari perselihan paham. Seorang isteri dituntut dapat menurut secara patut.
Guru Mencius bersabda, ”Apabila seorang lelaki telah dewasa, ayahnya memberikan nasehat-nasehat kepadanya. Pada waktu pernikahan seorang wanita akan dinasehati oleh ibunya dengan memberikan pesan, supaya kalau telah berada di rumah sang suami, haruslah menghormatinya dan jangan sampai berselisih paham. Isteri haruslah menurut secara patut.” (Meng Zi III B/2).
Pengertian isteri yang menurut secara patut adalah bahwa isteri harus menurut pada suami jika hal itu adalah benar dan wajar. Bukan berarti seorang isteri harus secara mutlak menuruti kehendak dari suami. Hubungan suami dengan isteri menurut padangan Confucianis adalah hubungan yang berdasarkan keharmonisan, dimana suami menjalankan tugas sebagai suami yang bertanggung jawab sebagai kepala rumah tangga menjaga nama baik keluarga. Begitu pula isteri juga harus menjalankan tugas sebagai isteri yang baik sebagai ibu rumah tangga, dan kedua belah pihak saling menghormati, sehingga dengan demikian akan terbinalah keharmonisan dalam rumah tangga.
Hubungan suami dan isteri dalam menciptakan kehidupan yang harmonis juga sangat ditekankan dalam Buddhisme dimana sang isteri juga diingatkan untuk secara hati-hati menjaga kekayaan suaminya sebagaimana sabda Sang Buddha, “Cekatan dan cakap dalam pekerjaannya, harmoni dengan orang lain, demikian seorang isteri menyenangkan suaminya , dan dengan hati-hati menjaga kekayaan suaminya.” (Anguttara Nikaya IV, 271).
c. Hubungan antar Saudara yang lebih tua dan muda, lebih ditekankan kepada sikap dan sopan santun yang lebih bersusila antara saudara yang lebih muda kepada saudaranya yang lebih tua. Bagaimanapun seorang saudara yang sama-sama berasal dari satu kandungan, serta dilahirkan dalam satu keluarga yang sama, tentunya memiliki lebih banyak waktu untuk saling mengenal dari semenjak kecil, tanpa adanya suatu sikap mendendam sebagaimana seorang musuh bebujutan. Sikap saling menghormati ini dituntut dari kedua belah pihak, baik dari saudara yang lebih muda ataupun saudara yang lebih muda.
“Dia memperlakukan saudara tuanya dengan benar, dia memperlakukan saudara mudanya dengan benar. ” (Shi Cing)
Confucius sangat menekankan agar seseorang yang masih muda lebih bersikap sopan terhadap yang lebih tua baik di dalam rumah ataupun di luar rumah. Etika ini kelihatan secara nyata sudah mengendur dalam era kehidupan saat ini. Sudah sering kita menyaksikan dalam kehidupan kita sehari-hari dimana terdapat banyak anak-anak muda yang sudah tidak menghormati orang lain yang lebih tua bahkan saudara kandungnya sendiripun tidak dihormati sama sekali. Sikap demikian sering terbentuk karena pengaruh pergaulan di luar, ataupun tindakan orangtua yang kurang menciptakan kondisi kerukunan hubungan anak-anaknya selagi masih muda, akhirnya tanpa disadari akan menghancurkan benih cinta kasih terhadap sesamanya.
Guru Khung Fu Zi bersabda : ” Seorang yang masih muda, di rumah hendaklah berlaku bhakti, dan di luar rumah hendaklah bersikap sopan terhadap yang lebih tua. Dia haruslah bersungguh-sungguh dan dapat dipercaya. Dia haruslah memperhatikan cinta kasih terhadap sesama, dan menjalin hubungan persahabatan dengan orang yang memahami cinta kasih.” (Lun Yu I/6)
Hubungan antara saudara, menurut pandangan Confucius, merupakan bagian dari terciptanya keharmonisan antara manusia dan kemudian berpadu dengan hukum Ketuhanan (Th’ien Li), dimana saudara lebih tua harus menyayangi yang lebih muda; saudara yang lebih muda harus menghormati yang lebih tua.
d. Hubungan antar Teman, Pergaulan di luar sangat menentukan dalam membentuk karakter seseorang. Bergaul dengan teman yang tidak baik tentunya akan mempengaruhi perkembangan batin kita juga. Sebagaimana layaknya seekor anak harimau yang semenjak kecil diasuh dan bergaul dengan kelompok anjing, maka harimau tersebut sesudah besar akan bertingkah laku seperti anjing. Kebijaksanaan dalam bergaul sangat menentukan dimana kita mampu membedakan teman yang baik sebagai seorang sahabat sejati dan yang jahat sebagai koreksi kepribadian kita sendiri yang lemah. Keharmonisan dalam kehidupan di dunia ini harus dibina secara bersama oleh seluruh masyarakat. Karena itu menjaga hubungan antar teman merupakan suatu peranan yang sangat penting.
Confucius menilai hubungan dengan seorang sahabat sebagai suatu hubungan yang menyenangkan, sehingga apabila ada seorang sahabat yang dari jauh mengunjungi kita, maka selayaknya kita perlakukan dengan baik. Guru Khung Fu Zi bersabda : ” Apakah bukan sesuatu yang menyenangkan mempunyai teman yang datang mengunjungi dari jauh ? ” (Lun Yu I/1 = awal kumpulan dari Lun Yu).
Orang yang bijak senantiasa berusaha melihat kelemahan temannya untuk mengoreksi dirinya sendiri demikian juga sebaliknya kelebihan temannya akan dipakai untuk memperbaiki kelemahan yang ada dalam dirinya. Guru Khung Fu Zi bersabda,” Bila saya berjalan dengan dua orang lain, selalu ada sesuatu yang dapat saya pelajari dari mereka. Kekuatan mereka saya ambil, sedangkan kelemahan mereka saya pakai untuk mengoreksi diri saya sendiri.” (Lun YU VII/21).
Bergaul dengan sahabat yang sejati tentunya akan memberikan manfaat yang positif, namun bergaul hanya dengan sahabat yang picik akan membawa celaka pada diri kita sendiri. Guru Khung Fu Zi bersabda, ” Ada tiga sifat sahabat yang membawa faedah dan ada tiga sifat sahabat yang membawa celaka. Seorang sahabat yang baik, jujur dan berpandangan luas akan membawa faedah. Seorang sahabat yang licik, yang lemah dalam hal-hal yang baik dan hanya pandai bersilat-lidah akan membawa celaka.” (Lun Yu XVI/4).
Sang Buddha juga sangat menekankan agar kita senantiasa bergaul dengan sahabat sejati yang berbudi luhur, malahan diminta agar kita tidak bergaul dengan orang jahat yang berbudi rendah. “Bergaul hanya dengan mereka yang baik, berkumpul hanya dengan mereka yang baik, mempelajari ajaran mereka yang baik, akan memberikan kebijaksanaan yang tak dapat diberikan oleh yang lainnya.” (Samyutta Nikaya Vol.I, 17)
“Jangan bergaul dengan orang jahat, jangan bergaul dengan orang yang berbudi rendah; tetapi bergaullah dengan sahabat yang baik, bergaullah dengan orang yang berbudi luhur.” (Dhammapada , 78)
Adakalanya kita mengeluh bahwa sulit sekali untuk memperoleh seorang teman yang sejati, tanpa berusaha melihat ke dalam diri kita sendiri. Tingkah laku kita dalam bergaul juga sangat menentukan bagaimana seseorang itu akan menjadi sahabat kita. Untuk itu kita haruslah melatih kebajikan dalam diri kita sendiri, dan kemudian kebajikan tersebut dapat kita refleksikan dalam tingkah-laku kita terhadap teman. Murid Confucius, Zeng Zi berkata : ” Seseorang yang berbudi mendapat teman dengan membudayakan diri sendiri. Dan melihat kepada temannya untuk membantu mereka melatih kebajikan.”
Adakalanya seorang pengemis ataupun seseorang yang menunjukkan sifat yang kurang baik, dapat saja merupakan sahabat kita pada kehidupan sebelumnya. Mereka yang sering dianggap sampah masyarakat, malah kalau kita pandang dari aspek positif, justru mengingatkan kita untuk senantiasa menjaga moralitas yang baik dalam menjalani kehidupan ini.
e. Hubungan Pimpinan dan Bawahan, Seorang pimpinan yang bijak akan senantiasa melihat kesejahteraan bawahannya dengan layak. Demikian juga sebaliknya seorang bawahan yang baik akan senantiasa melaksanakan kewajiban tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Dalam era yang serba kompetitif ini, sering kita jumpai adanya seorang karyawan yang berpindah-pindah tempat kerja hanya mengeluh karena kurang mendapatkan perhatian dari atasannya. Tanpa disadari oleh karyawan bersangkutan, sifat berpindah-pindah kerjaan tersebut malah menciptakan suatu citra yang kurang baik bagi dirinya sendiri, sehingga sampai suatu saat dia menemui kesulitan untuk menemukan suatu pekerjaan yang sesuai.
Sifat berpindah-pindah pekerjaan tersebut biasanya timbul karena kurangnya sifat kesetiaan dalam diri orang tersebut. Adakalanya seorang pimpinan menuntut hasil terlebih dahulu dari karyawannya, namun ini merupakan kesalahan yang besar dari tipe pimpinan seperti ini. Karena mestinya seleksi awal dalam penempatan karyawan sudah semestinya ditentukan posisi yang tepat untuk calon karyawan bersangkutan. Kedudukan dan jabatan yang diberikan terhadap seorang karyawan adalah menunjukkan fungsi dan tanggungjawabnya, demikian juga nama atau kedudukan yang disandang oleh seorang pimpinan, menunjukkan luasnya cakupan tanggungjawab yang harus dipikulnya.
Seorang pimpinan haruslah memperlakukan bawahannya dengan budi pekerti, demikian juga seorang bawahan haruslah dapat mengabdi kepada atasannya dengan penuh kesetiaan. Dengan demikian keharmonisan hubungan antara pimpinan dan bawahan akan terjalin dengan baik. Pimpinan dalam pengertian yang lebih luas mencakup kepala negara ataupun seorang raja, sedangkan bawahan mencakup menteri dan para pembantunya.
Guru Khung Fu Zi bersabda : ” Seorang raja memperlakukan menterinya dengan Li (kesopanan / tata krama / budi pekerti). Seorang menteri mengabdi kepada raja dengan kesetiaanya.” (Lun Yu III/19).
Confucius sangat menekankan mengenai pentingnya pemilihan seorang kepala negara, dan juga gaya pemerintahan yang ditunjukkannya. Pandangan Beliau bahwa cara pemerintahan seorang kepala negara akan mempengaruhi juga sikap rakyatnya. Misalnya seorang raja yang memerintah dengan penuh kesusilaan, maka rakyatnya juga akan mengikuti caranya. Guru Khung Fu Zi bersabda, “Jika kamu berbuat baik, maka rakyat juga akan berbuat baik. Karakter seorang kepala negara seperti angin dan rakyatnya seperti rumput. Ke arah manapun angin bertiup, maka rumput akan mengikuti arahnya.” (Lun yu XII, 19)
Beliau mengakui bahwa para pemimpin negara memperoleh posisinya karena mendapatkan mandat dari Yang Maha Kuasa, tetapi Beliau juga mengargumentasikan bahwa situasi tersebut bukannya tidak bisa berubah. Seandainya seorang pemimpin negara memerintah dengan tangan besi dan penuh ketamakan, maka dia mengkhianati kepercayaan yang telah dilimpahkan kepadanya. Sehingga tepat baginya untuk diturunkan tahtanya dan digantikan pemimpin lainnya. Cara pemerintahan seorang kepala negara atau pemimpin akan mempengaruhi sikap pandang rakyat atau bawahannya.
Guru Meng Zi bersabda, “Bila seorang pemimpin negara memperlakukan menterinya sebagai tangan dan kakinya, maka menterinya akan memperlakukan pemimpin negaranya sebagai jantung dan pikirannya. Jika seorang pemimpin negara memperlakukan menterinya sebagai anjing dan kuda, maka menterinya akan memperlakukan pemimpin negaranya sebagai orang kebanyakan. Jika seorang pemimpin negara memperlakukan menterinya sebagai lumpur dan rumput, maka menterinya akan memperlakukan pemimpin negaranya sebagai perampok dan musuh.” (Meng Zi IVB,
Sehingga seseorang dalam hubungan tersebut di atas dapat menunjukkan kedua sifat Yin dan Yang. Sebagai contoh, seorang ayah, bersifat Yang dalam hubungan dengan istri dan anaknya, dan bersifat Yin dalam hubungan dengan pimpinannya ataupun terhadap teman dan saudaranya yang lebih tua. Seorang anak adalah bersifat Yin dalan hubungan dengan ayahnya dan Yang dalam hubungan dengan saudara atau temannya yang lebih muda. Confucius tidak menjelaskan masalah yang kemungkinan dapat terjadi apabila suatu keluarga dimana anak kedua (dalam pengertian China) memiliki keunggulan yang lebih dominan daripada saudara tuanya; juga tidak ditegaskannya apakah seorang perempuan layak memiliki sifat selain Yin.
Sangat ditekankan oleh Confucius, bahwa dalam berbagai posisi apakah sebagai seorang pemimpin atau kepala negara, bawahan atau menteri, ayah dan anak, haruslah mampu menyadari akan fungsi dan tanggungjawabnya masing-masing sehingga terbentuk keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat. Guru Khung Fu Zi bersabda, ” Raja berfungsi sebagai raja, menteri berfungsi sebagai menteri, ayah berfungsi sebagai ayah, dan anak berfungsi sebagai anak.” (Lun Yu XII/11).
C. Tiga hubungan tata karma dalam etika khonghucu
a. Hubungan seorang raja dengan mentrinya atau hubungan atasan dengan bawahannya Untuk melihat sebagaimana pandangan khonghucu tentang hubungan atasan dengan bawahan ini, dapat dilihat ungkapan khonghucu berikut ini: Seorang raja memprlakukan menterinya dengan Li (kesopanan atau penuh dengan budi pekerti yang baik). Seorang mentri mengabdi kepada raja dengan kesetiaannya. (lun gi III; 19). Seorang atasan tidaklah semestinya bersifat otoriter terhadap bawahanya, dan bawahan kebaikan bersama. Ungkapan ini juga menggambarkan bahwa khonghucu ingin mengubah tradisi kerajaan pada masa itu yang selalu besifat otoriter terhadap bawahan dan masyarakatnya.
b. Hubungan ayah dengan anaknya, Selain membicarakan hubungan raja dengan mentrinya dan sebaliknya mentri dengan raja, khonghucu juga bicara tentang hubungan bapak dengan anak-anaknya, dan hubungan anak dengan orang tuanya. Hubungan ayah dengan anak tersebut dapat dilihat dalam perkataan khonghucu sebagai berikut: Raja berfungsi sebagai raja, menteri berfungsi sebagai mentri, ayah berfungsi sebagai ayah dan anak berfungsi sebagai anak. (Lun gi XII: II) perkataan khonghucu diatas menggambarkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, seorang harus mendapat menempatkan fungsi sosialnya dengan baik.
c. Hubungan suami dengan istri, Bagi khonghucu hubungan suami dengan istri haruslah juga didasarkan pada sifat-sifat yang baik dan terpuji. Seorang suami harus dapat menghormati istrinya dan begitu juga sebaliknya, seorang istri harus menghormati suaminya. Menurut sifat-sifat yang benar inilah jalan suci bagi seorang wanita (Mencius III, 2.2) istri yang baik adalah istri yang tunduk dan patuh terhadap perintah suaminya, dan istri yang tidak baik adalah istri yang selalu melanggar perintah suaminya
D. Kesimpulan
Lima Norma Kesopanan yang telah diuraikan tersebut di atas, dapat dilihat memiliki banyak kesamaannya dengan pengertian Buddhisme sebagaimana sabda Sang Buddha dalam Sigalovada Sutra yang menjelaskan kesopanan dalam kehidupan dengan melakukan kewajiban-kewajiban, seperti kewajiban antara orang tua dan anak, guru dan murid, suami dan istri, sahabat dan kenalan, atasan dan bawahan yang ditambahkan dengan umat biasa dan para orang suci.
Oleh karena itu dapatlah disimpulkan bahwa sebuah profesi hanya dapat memperoleh kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri para elit profesional tersebut ada kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya. Tanpa etika profesi, apa yang semula dikenal sebagai sebuah profesi yang terhormat akan segera jatuh terdegradasi menjadi sebuah pekerjaan pencarian nafkah biasa (okupasi) yang sedikitpun tidak diwarnai dengan nilai-nilai idealisme dan ujung-ujungnya akan berakhir dengan tidak-adanya lagi respek maupun kepercayaan yang pantas diberikan kepada para elite profesional ini.
Daftar Pustaka
- Cenggana,Anly dkk.1998.Hak Asasi Beragama dan Perkawinan Khonghucu Prespektif Sosial,Legal, dan Teologi.Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama Bekerja Sama Dengan MATAKIN
- Keene,Michael.2006.Agama-Agama Dunia.Yogyakarta:Kanisius
- Mathar Qasim, Muhammad.2003.Sejarah ,Teologi dan Etika Agama-Agama.Yogyakarta: Pustaka Pelajar
- Smith, Huston,2001.Agama-Agama manusia.Jakarta:Yayasan Obor Indonesia
- Anly Cenggana dkk, 1998 “Hak Asasi beragama dan perkawinan konghucu dalam prespektif legal dan teologoi” Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
- Abdurrahman Wahit, 1995“Pergulatan Mencari Jati Diri”Yogyakarta: PT. Rineka cipta
- Abu Ahmadi, 1991 “Ilmu Perbandingan Agama” Jakarta: PT.reneka citra
- M.Iksan Tanggok .2000. “Jalan Melalui Agama Konghucu” Jakarta: PT Gramedia Pystaka Utama.
- http://sumansutra.wordpress.com/lima-norma-kesopanan-ala-confucius/k
- http://digilib.uin-suka.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=digilib-uinsuka
Sabtu, 09 Juli 2011
Perlukah negara tetapkan status agama?
Terbaru 5 April 2011 - 04:50 GMT
Facebook
Twitter
Kirim kepada teman
Print page
Umat Ugamo Parmalim tengah melaksanakan ibadah mingguan di Tangerang, Banten.
Sebagian besar warga Indonesia pasti akan menjawab ada lima agama besar yang diakui negara. Kelima agama itu adalah Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu dan Budha.
Beberapa orang lainnya mungkin akan menambahkan Kong Hu Cu setelah negara mengakui Kong Hu Cu sebagai keenam.
Berita terkait
Ribuan Injil akan 'dimusiumkan'
Dialog soal Ahmadiyah tetap berlangsung
Agama diperkirakan akan mati
Link terkait
agama
Namun banyak yang tidak menyadari bahwa di Indonesia ternyata hidup banyak agama lain selain keenam agama besar itu.
Direktorat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mencatat ratusan agama dan kepercayaan asli Indonesia masih memiliki pengikut hingga saat ini.
"Menurut data yang kami miliki ada sekitar 200-an agama dengan jumlah pengikut sekitar 9 juta jiwa," kata Direktur Kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa Gendro Nurhadi kepada BBC Indonesia.
Tetapi, lanjut Gendro, angka yang disebutkannya itu bukanlah sebuah data pasti. Sebab, jumlah organisasi keagamaan asli Indonesia ini tidak menentu.
"Jumlah pastinya tidak bisa dipastikan. Karena ada agama yang setelah pemimpinnya meninggal dunia organisasinya tidak dilanjutkan," papar Gendro.
Agama-agama asli Indonesia semisal Parmalim, Sunda Wiwitan, Kapribaden dan Kaharingan sudah terlebih dulu eksis dan memiliki pengikut jauh sebelum agama-agama Samawi dari Timur Tengah dan Asia Selatan merambah Nusantara.
"Jauh sebelum agama-agama Samawi datang ke Indonesia, masyarakat Batak sudah memiliki konsep Tuhan dan kehidupan beragama. Sudah ada keyakinan kepada Tuhan pencipta alam semesta," kata salah seorang penganut Ugamo Malim atau Parmalim Maringan Simanjuntak.
Begitu pula dengan kepercayaan Kapribaden yang dianut sebagian warga etnis Jawa diyakini sudah ada sejak jaman dahulu.
Kapribaden adalah kepercayaan yang menekankan pengenalan dan pengendalian pribadi untuk mengenal Tuhan Yang Maha Esa. Kepercayaan ini pertama kali muncul di Purworejo, Jawa Tengah.
"Jelas, kapribaden sudah ada sejak jaman dahulu, sebelum agama ada di Indonesia. Namun secara organisasi kami baru resmi terbentuk 1978 dan terdaftar di Departemen Dalam Negeri tahun 1981," kata pinisepuh Paguyuban Kapribaden Hartini Wahyono.
Salah kaprah
"Dalam penjelasannya tidak berarti agama-agama lain tidak diakui atau dilarang di Indonesia"
Anick HT
Dengan kenyataan banyaknya agama-agama asli di Indonesia yang tak membuat pengakuan negara menimbulkan banyak pertanyaan.
Sebab, di Indonesia tak satupun undang-undang yang secara tegas menyebut agama-agama yang dianggap resmi dan diakui negara.
Satu-satunya peraturang perundangan yang menyebutkan nama-nama agama yang dianut rakyat Indonesia hanyalan Undang-undang nomor 1/PNPS/1965 tentang penodaan agama.
"Tetapi dalam penjelasannya tidak berarti agama-agama lain tidak diakui atau dilarang di Indonesia," kata Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Anick HT.
Sehingga, lanjut Anick, anggapan bahwa negara hanya mengakui enam agama resmi di Indonesia adalah salah kaprah.
"Kenapa itu salah kaprah? Sebab undang-undang itu diterjemahkan secara salah oleh pejabat-pejabat masa Orde Baru," lanjut Anick.
Anggapan adanya agama resmi, tambah Anick, berasal dari surat edaran menteri dalam negeri.
"Tapi itu konteksnya adalah soal pengisian kolom agama di KTP," papar Anick.
Tak ada larangan
Menteri Agama mengklaim negara menjamin kebebasan beragama.
Menanggapi masalah ini, Menteri Agama Surya Darma Ali menyatakan negara pada dasarnya menjamin kebebasan semua agama untuk hidup dan berkembang di Indonesia.
"Di Indonesia ini bebas, Kristen, Katolik, Islam, Hindu, Budha, Sikh, Zoroaster, Tao, animisme, dinamisme kan tidak ada yang melarang. Tetapi agama-agama itu tidak bersinggungan dengan agama lain," kata menteri yang berasal dari Partai Persatuan Pembangunan itu saat ditemui BBC Indonesia.
Agama-agama yang tidak disebutnya, lanjut Surya Darma, bukan berarti negara melarang mereka untuk tumbuh dan berkembang.
"Kalau sebuah komunitas menyebut kepercayaan itu sebagai agama, maka jadilah dia agama," tambah Surya Darma.
Jika menyimak penjelasan Menteri Agama itu, terkesan negara memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh agama untuk berkembang.
Namun, pada kenyataannya pemerintah malah tidak mengkatagorikan agama dan kepercayaan asli Indonesia sebagai agama.
"Pada tahun 1978, negara memasukkan agama-agama asli dimasukkan ke dalam Departemen Kebudayaan, karena dianggap sebagai sebuah budaya spiritual bukan agama," kata Gendro Nurhadi.
Sebelumnya keputusan itu, papar Gendro, agama dan kepercayaan asli Indonesia menjadi tanggung jawab Kementerian Agama.
Uniknya, keputusan mengkatagorikan agama dan kepercayaan Indonesia ke dalam ranah kebudayaan tak dilandasi kriteria yang memadai.
“Kriteria resmi tidak ada. Kepercayaan kepada Tuhan itu bukan agama. Itu saja,” papar Gendro.
Dan nampaknya pemerintah tak menyadari bahwa keputusan tersebut berujung dengan terabaikannya hak-hak sipil warga pemeluk agama-agama yang tak dianggap resmi itu
Terbaru 5 April 2011 - 04:50 GMT
Kirim kepada teman
Print page
Umat Ugamo Parmalim tengah melaksanakan ibadah mingguan di Tangerang, Banten.
Sebagian besar warga Indonesia pasti akan menjawab ada lima agama besar yang diakui negara. Kelima agama itu adalah Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu dan Budha.
Beberapa orang lainnya mungkin akan menambahkan Kong Hu Cu setelah negara mengakui Kong Hu Cu sebagai keenam.
Berita terkait
Ribuan Injil akan 'dimusiumkan'
Dialog soal Ahmadiyah tetap berlangsung
Agama diperkirakan akan mati
Link terkait
agama
Namun banyak yang tidak menyadari bahwa di Indonesia ternyata hidup banyak agama lain selain keenam agama besar itu.
Direktorat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mencatat ratusan agama dan kepercayaan asli Indonesia masih memiliki pengikut hingga saat ini.
"Menurut data yang kami miliki ada sekitar 200-an agama dengan jumlah pengikut sekitar 9 juta jiwa," kata Direktur Kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa Gendro Nurhadi kepada BBC Indonesia.
Tetapi, lanjut Gendro, angka yang disebutkannya itu bukanlah sebuah data pasti. Sebab, jumlah organisasi keagamaan asli Indonesia ini tidak menentu.
"Jumlah pastinya tidak bisa dipastikan. Karena ada agama yang setelah pemimpinnya meninggal dunia organisasinya tidak dilanjutkan," papar Gendro.
Agama-agama asli Indonesia semisal Parmalim, Sunda Wiwitan, Kapribaden dan Kaharingan sudah terlebih dulu eksis dan memiliki pengikut jauh sebelum agama-agama Samawi dari Timur Tengah dan Asia Selatan merambah Nusantara.
"Jauh sebelum agama-agama Samawi datang ke Indonesia, masyarakat Batak sudah memiliki konsep Tuhan dan kehidupan beragama. Sudah ada keyakinan kepada Tuhan pencipta alam semesta," kata salah seorang penganut Ugamo Malim atau Parmalim Maringan Simanjuntak.
Begitu pula dengan kepercayaan Kapribaden yang dianut sebagian warga etnis Jawa diyakini sudah ada sejak jaman dahulu.
Kapribaden adalah kepercayaan yang menekankan pengenalan dan pengendalian pribadi untuk mengenal Tuhan Yang Maha Esa. Kepercayaan ini pertama kali muncul di Purworejo, Jawa Tengah.
"Jelas, kapribaden sudah ada sejak jaman dahulu, sebelum agama ada di Indonesia. Namun secara organisasi kami baru resmi terbentuk 1978 dan terdaftar di Departemen Dalam Negeri tahun 1981," kata pinisepuh Paguyuban Kapribaden Hartini Wahyono.
Salah kaprah
"Dalam penjelasannya tidak berarti agama-agama lain tidak diakui atau dilarang di Indonesia"
Anick HT
Dengan kenyataan banyaknya agama-agama asli di Indonesia yang tak membuat pengakuan negara menimbulkan banyak pertanyaan.
Sebab, di Indonesia tak satupun undang-undang yang secara tegas menyebut agama-agama yang dianggap resmi dan diakui negara.
Satu-satunya peraturang perundangan yang menyebutkan nama-nama agama yang dianut rakyat Indonesia hanyalan Undang-undang nomor 1/PNPS/1965 tentang penodaan agama.
"Tetapi dalam penjelasannya tidak berarti agama-agama lain tidak diakui atau dilarang di Indonesia," kata Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Anick HT.
Sehingga, lanjut Anick, anggapan bahwa negara hanya mengakui enam agama resmi di Indonesia adalah salah kaprah.
"Kenapa itu salah kaprah? Sebab undang-undang itu diterjemahkan secara salah oleh pejabat-pejabat masa Orde Baru," lanjut Anick.
Anggapan adanya agama resmi, tambah Anick, berasal dari surat edaran menteri dalam negeri.
"Tapi itu konteksnya adalah soal pengisian kolom agama di KTP," papar Anick.
Tak ada larangan
Menteri Agama mengklaim negara menjamin kebebasan beragama.
Menanggapi masalah ini, Menteri Agama Surya Darma Ali menyatakan negara pada dasarnya menjamin kebebasan semua agama untuk hidup dan berkembang di Indonesia.
"Di Indonesia ini bebas, Kristen, Katolik, Islam, Hindu, Budha, Sikh, Zoroaster, Tao, animisme, dinamisme kan tidak ada yang melarang. Tetapi agama-agama itu tidak bersinggungan dengan agama lain," kata menteri yang berasal dari Partai Persatuan Pembangunan itu saat ditemui BBC Indonesia.
Agama-agama yang tidak disebutnya, lanjut Surya Darma, bukan berarti negara melarang mereka untuk tumbuh dan berkembang.
"Kalau sebuah komunitas menyebut kepercayaan itu sebagai agama, maka jadilah dia agama," tambah Surya Darma.
Jika menyimak penjelasan Menteri Agama itu, terkesan negara memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh agama untuk berkembang.
Namun, pada kenyataannya pemerintah malah tidak mengkatagorikan agama dan kepercayaan asli Indonesia sebagai agama.
"Pada tahun 1978, negara memasukkan agama-agama asli dimasukkan ke dalam Departemen Kebudayaan, karena dianggap sebagai sebuah budaya spiritual bukan agama," kata Gendro Nurhadi.
Sebelumnya keputusan itu, papar Gendro, agama dan kepercayaan asli Indonesia menjadi tanggung jawab Kementerian Agama.
Uniknya, keputusan mengkatagorikan agama dan kepercayaan Indonesia ke dalam ranah kebudayaan tak dilandasi kriteria yang memadai.
“Kriteria resmi tidak ada. Kepercayaan kepada Tuhan itu bukan agama. Itu saja,” papar Gendro.
Dan nampaknya pemerintah tak menyadari bahwa keputusan tersebut berujung dengan terabaikannya hak-hak sipil warga pemeluk agama-agama yang tak dianggap resmi itu
Pengakuan negara atas Kong Hu Cu
Pengakuan negara atas Kong Hu Cu
Terbaru 7 April 2011 - 04:58 GMT
Facebook
Twitter
Kirim kepada teman
Print page
Masyarakat Kong Hu Cu di Singkawang merayakan hari raya Cap Go Meh.
Walaupun sudah ada di nusantara selama ratusan tahun, pengakuan resmi dari negara terhadap agama Kong Hu Cu baru datang pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di tahun 2000.
Selain memberikan pengakuan, Gus Dur juga membebaskan masyarakat Kong Hu Cu yang notabene adalah keturunan Cina untuk menjalankan ibadah agamanya secara terbuka dan merayakan hari keagamaan mereka.
Berita terkait
Perlukah negara tetapkan status agama?
Hak-hak sipil yang terabaikan
Fakta ini, menurut Direktur Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa Gendro Nurhadi menjadi acuan sebagian besar penganut agama dan kepercayaan asli Indonesia. Mereka ingin, negara mengakui agama dan kepercayaan asli Indonesia, seperti halnya pengakuan terhadap Kong Hu Cu.
"Kong Hu Cu aja bisa diakui.. saya yagg asli kata mereka, saya yang asli (kenapa) enggak? Ini memang salah satu motivasi mereka kesana jadinya," ujar Gendro Nurhadi.
Namun menurut Anick HT, Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace, tidak semua penganut agama asli ingin diakui secara resmi. Menurutnya keinginan mereka cukup sederhana, yaitu kebebasan dalam menjalankan ibadahnya.
"Yang penting mereka dilindungi dalam beribadah dan tidak dipaksa-paksa....asal tidak dituduh komunis asal tidak dipaksa menjadi kristen atau Islam dan lain sebagainya," kata Anick HT,
"Yang penting mereka dilindungi dalam beribadah dan tidak dipaksa-paksa...asal tidak dituduh komunis asal tidak dipaksa menjadi Kristen atau islam dan lain sebagainya"
Anick HT, Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace
Kong Hu Cu selalu menjadi contoh sukses sebuah kepercayaan yang awalnya tak diakui negara namun kini duduk sejajar dengan agama-agama besar lain di Indonesia. Bagaimana para penganut Kong Hu Cu memperjuangkan pengakuan negara atas agama mereka?
Puluhan tahun dilarang
Selama puluhan tahun, rezim Orde Baru melarang kesenian barongsai dan tradisi Tionghoa lain termasuk agama Kong Hu Cu untuk ditampilkan secara terbuka. Padahal, diyakini tradisi Tionghoa sudah masuk ke Indonesia bersamaan dengan migrasi manusia dari wilayah selatan Cina ke Asia Tenggara termasuk Indonesia sekitar 5.000 tahun lalu. Bahkan, sekolah agama Kong Hu Cu pertama di Jakarta berdiri pada awal abad ke-17. Dan secara organisasi sudah eksis sejak 1901.
Sebenarnya, menurut Sekjen Kementerian Agama Bahrul Hayat , pemerintah tidak memiliki wewenang memberi pengakuan terhadap sebuah agama termasuk Kong Hu Cu. Untuk kasus agama masyarakat Tionghoa ini, Bahrul menyatakan pemerintah hanya mencabut larangan yang diberlakukan di masa Orde Baru.
Penjelasan ini diamini Anggota Presidium Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN), Budi S Tanuwibowo. Indonesia, lanjut Budi, pernah mengakui keberadaan agama Kong Hu Cu di masa pemerintahan Presiden Soekarno.
Pengakuan ini diperkuat Undang-undang nomor 1/PNPS/1965 yang dikukuhkan dengan Undang-undang nomor 5 tahun 1969. Di masa ini Orde Baru sudah berkuasa, sehingga artinya kata Budi, pemerintahan Soeharto mengakui keberadaan agama Kong Hu Cu. Uniknya, pada tahun 1967 terbit instruksi presiden yang isinya melarang semua jenis tradisi Tionghoa termasuk Kong Hu Cu dilaksanakan secara terbuka. Dan inpres inilah yang kemudian menjadi awal perlakuan diskriminasi terhadap Kong Hu Cu:
Arus balik untuk Kong Hu Cu tiba ketika Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi Presiden Indonesia. Di masa pemerintahan Gus Dur, inpres yang melarang kegiatan terbuka tradisi Tionghoa dicabut. Bahkan untuk pertama kalinya perayaan tahun baru Imlek digelar secara nasional.
Dari fakta ini, maka jelaslah bahwa sebelum masa Orde Baru pemerintah sudah mengakui keberadaan Kong Hu Cu sebagai sebuah agama. Pemerintah hanya mengembalikan status Kong Hu Cu yang dibekukan oleh rezim Soeharto.
Fakta ini menunjukkan sulit bagi agama dan kepercayaan asli Indonesia mengharapkan pengakuan dari negara
Terbaru 7 April 2011 - 04:58 GMT
Kirim kepada teman
Print page
Masyarakat Kong Hu Cu di Singkawang merayakan hari raya Cap Go Meh.
Walaupun sudah ada di nusantara selama ratusan tahun, pengakuan resmi dari negara terhadap agama Kong Hu Cu baru datang pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di tahun 2000.
Selain memberikan pengakuan, Gus Dur juga membebaskan masyarakat Kong Hu Cu yang notabene adalah keturunan Cina untuk menjalankan ibadah agamanya secara terbuka dan merayakan hari keagamaan mereka.
Berita terkait
Perlukah negara tetapkan status agama?
Hak-hak sipil yang terabaikan
Fakta ini, menurut Direktur Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa Gendro Nurhadi menjadi acuan sebagian besar penganut agama dan kepercayaan asli Indonesia. Mereka ingin, negara mengakui agama dan kepercayaan asli Indonesia, seperti halnya pengakuan terhadap Kong Hu Cu.
"Kong Hu Cu aja bisa diakui.. saya yagg asli kata mereka, saya yang asli (kenapa) enggak? Ini memang salah satu motivasi mereka kesana jadinya," ujar Gendro Nurhadi.
Namun menurut Anick HT, Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace, tidak semua penganut agama asli ingin diakui secara resmi. Menurutnya keinginan mereka cukup sederhana, yaitu kebebasan dalam menjalankan ibadahnya.
"Yang penting mereka dilindungi dalam beribadah dan tidak dipaksa-paksa....asal tidak dituduh komunis asal tidak dipaksa menjadi kristen atau Islam dan lain sebagainya," kata Anick HT,
"Yang penting mereka dilindungi dalam beribadah dan tidak dipaksa-paksa...asal tidak dituduh komunis asal tidak dipaksa menjadi Kristen atau islam dan lain sebagainya"
Anick HT, Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace
Kong Hu Cu selalu menjadi contoh sukses sebuah kepercayaan yang awalnya tak diakui negara namun kini duduk sejajar dengan agama-agama besar lain di Indonesia. Bagaimana para penganut Kong Hu Cu memperjuangkan pengakuan negara atas agama mereka?
Puluhan tahun dilarang
Selama puluhan tahun, rezim Orde Baru melarang kesenian barongsai dan tradisi Tionghoa lain termasuk agama Kong Hu Cu untuk ditampilkan secara terbuka. Padahal, diyakini tradisi Tionghoa sudah masuk ke Indonesia bersamaan dengan migrasi manusia dari wilayah selatan Cina ke Asia Tenggara termasuk Indonesia sekitar 5.000 tahun lalu. Bahkan, sekolah agama Kong Hu Cu pertama di Jakarta berdiri pada awal abad ke-17. Dan secara organisasi sudah eksis sejak 1901.
Sebenarnya, menurut Sekjen Kementerian Agama Bahrul Hayat , pemerintah tidak memiliki wewenang memberi pengakuan terhadap sebuah agama termasuk Kong Hu Cu. Untuk kasus agama masyarakat Tionghoa ini, Bahrul menyatakan pemerintah hanya mencabut larangan yang diberlakukan di masa Orde Baru.
Penjelasan ini diamini Anggota Presidium Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN), Budi S Tanuwibowo. Indonesia, lanjut Budi, pernah mengakui keberadaan agama Kong Hu Cu di masa pemerintahan Presiden Soekarno.
Pengakuan ini diperkuat Undang-undang nomor 1/PNPS/1965 yang dikukuhkan dengan Undang-undang nomor 5 tahun 1969. Di masa ini Orde Baru sudah berkuasa, sehingga artinya kata Budi, pemerintahan Soeharto mengakui keberadaan agama Kong Hu Cu. Uniknya, pada tahun 1967 terbit instruksi presiden yang isinya melarang semua jenis tradisi Tionghoa termasuk Kong Hu Cu dilaksanakan secara terbuka. Dan inpres inilah yang kemudian menjadi awal perlakuan diskriminasi terhadap Kong Hu Cu:
Arus balik untuk Kong Hu Cu tiba ketika Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi Presiden Indonesia. Di masa pemerintahan Gus Dur, inpres yang melarang kegiatan terbuka tradisi Tionghoa dicabut. Bahkan untuk pertama kalinya perayaan tahun baru Imlek digelar secara nasional.
Dari fakta ini, maka jelaslah bahwa sebelum masa Orde Baru pemerintah sudah mengakui keberadaan Kong Hu Cu sebagai sebuah agama. Pemerintah hanya mengembalikan status Kong Hu Cu yang dibekukan oleh rezim Soeharto.
Fakta ini menunjukkan sulit bagi agama dan kepercayaan asli Indonesia mengharapkan pengakuan dari negara
Jumat, 03 September 2004
Jumat, 03 September 2004
KELENTENG-kelenteng yang meriah dengan warna merah mencolok khas simbol kemakmuran bagi etnis Tionghoa mewarnai sepanjang jalan di kawasan pecinan Kota Semarang. Bau yong tswa atau yang dikenal dengan hio juga mengharumkan setiap sudut jalan itu.
KELENTENG-kelenteng di sana memang tak pernah henti membakar yong tswa. Ini karena para pemeluk Konghucu selalu menyematkannya ke dalam abu yong tswa yang habis terbakar seusai menyembah para dewa yang telah memberikan kemakmuran hidup.
Tidak satu pun kelenteng di pecinan berusia muda. Di antara 10 kelenteng yang di kawasan itu didirikan pada kurun 1753 hingga 1800-an. Kelenteng Siu Hok Bio merupakan kelenteng tertua di daerah itu. Selain itu, dibangun pula Kelenteng Hoo Hok Bio, Kong Tik Soe, Tay Kak Sie, Tong Pek Bio, Liong Hok Bio, Tek Hay Bio, Wie Wie Kiong, See Hoo Kong, dan Kelenteng Grajen.
Namun, kelenteng tertua di Kota Semarang justru tidak berada di pecinan. Kelenteng tertua itu bernama Sam Poo Kong yang didirikan oleh Laksamana Cheng Ho pada tahun 1406 di bilangan Simongan, Semarang bagian barat.
Tidak seperti pada masa Orde Baru ketika umat Konghucu tidak diperbolehkan melakukan ibadah dan melaksanakan upacara keagamaannya. Umat Konghucu di pecinan sekarang bisa bebas melaksanakan ritual agamanya dan melambungkan asap yong tswa.
Dalam waktu dekat ini, umat Konghucu di Pecinan akan mengadakan upacara King Ho Ping pada tanggal 29 bulan 7 tahun Imlek, atau 12 September 2004. Saat itu umat Konghucu membacakan doa dan mempersembahkan sesaji bagi para arwah leluhur yang tidak diterima di dunia akhirat. Upacara itu dipusatkan di Kelenteng Tay Kak Sie.
“Kami tidak bisa main-main mengadakan upacara ini. Kami harus melaksanakannya secara khidmat. Kalau tidak, kita bisa kesurupan,” tutur Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (Makin) Kota Semarang Gan Kok Hwie (73).
Ia memaparkan, upacara itu akan diadakan dalam upacara yang lumayan besar. Seusai membaca doa dan sesaji akan diadakan upacara rebutan bahan pokok makanan. “Tetapi, sekarang kami tidak lagi mengadakannya secara rebutan karena pasti banyak yang berkelahi. Karena itu, kami akan membagi-bagikan bahan pokok itu kepada masyarakat dengan kupon,” ungkapnya.
Selain sebagai tempat ibadah, menurut Gan Kok Hwie, pada masa lalu sebelum Konghucu dilarang di Indonesia, warga pecinan kerap bercengkerama di halaman kelenteng. Biasanya kesempatan itu dimanfaatkan oleh para orang tua untuk berbagi pengalaman dengan generasi muda.
Melalui perbincangan itu pula generasi muda belajar tentang falsafah hidup dari generasi tua. “Pada zaman dulu, sambil duduk-duduk di kelenteng para orang tua memberikan nasihat dan ajaran hidup kepada generasi muda dalam menjalankan hidup. Tidak seperti saat ini, generasi muda sudah tidak tahu tradisi etnis Tionghoa,” paparnya.
Meski begitu, iklim kebebasan beribadah sesuai agama Konghucu sangat disyukuri oleh Gan Kok Hwie dan umat Konghucu di pecinan. Thio Tiong Gie (75), satu-satunya dalang wayang Po Te Hi yang masih ada di Kota Semarang, juga sangat mensyukuri itu. “Pada masa ini, kami bisa bebas sembahyang ke kelenteng dan mengadakan upacara. Kami sudah cukup merasa senang dengan itu semua,” tuturnya.
Meski Pemerintah Indonesia sudah memberikan kebebasan itu, tetapi umat Konghucu masih merasa terusik oleh anggapan miring tentang agama mereka. Mereka juga sedang dihadapkan pada permasalahan keberlangsungan agama ini karena generasi muda etnis Tionghoa di pecinan sudah banyak berpaling ke agama lain.
“Anak-anak saya tidak satu pun yang beragama Konghucu. Saya tidak bisa berbuat apa- apa karena mereka masuk agama Kristen karena mereka masuk sekolah swasta Kristen. Lagi pula, pada masa Orde Baru kami tidak boleh menjalankan upacara Konghucu sehingga sedikit sekali tradisi agama ini yang bisa kami ajarkan kepada mereka,” tutur Gan Kok Hwie.
Ia mengaku sempat sakit hati terhadap anak-anaknya karena tidak sudi lagi masuk ke kelenteng. “Mereka bilang, kelenteng tidak bagus karena menyembah patung. Padahal, saya sudah meminta mereka untuk bisa menghormati agama yang saya anut,” ungkapnya.
Hal serupa juga dirasakan oleh Ny Liem Man Fung (41). Ibu rumah tangga beranak dua ini kerap menghadapi pertanyaan anak-anaknya tentang kebenaran agama Konghucu.
“Anak saya kerap bertanya, apakah Konghucu adalah agama setan? Teman-teman mereka selalu bilang kepada anak saya bahwa kelenteng tempat berkumpulnya setan. Tetapi, saya ajarkan kepada anak saya bahwa Konghucu tidak pernah mengajarkan seperti itu. Pada dasarnya, agama apa pun adalah sama. Hanya saja caranya yang berbeda,” tuturnya.
Ny Liem mengaku, meski sudah dibebaskan menganut agama Konghucu, umat Konghucu masih harus terus berjuang karena kenyataannya kalangan umum belum bisa menerima agamanya. “Saya percaya ajaran Konghucu, yaitu yang terpenting dari manusia adalah pikiran, hati, dan perbuatan. Tidak akan ada gunanya ibadah kita setiap hari kalau ketiga unsur itu tidak dijaga. Pesan- pesan itu yang selalu saya sampaikan kepada teman dan saudara yang menilai miring agama Konghucu,” paparnya.
Thio Tiong Gie menambahkan, “Konghucu tidak pernah membeda-bedakan manusia ataupun agama. Ada satu falsafah dari Nabi Konghucu: di empat penjuru lautan, semua manusia bersaudara. Satu lagi; hanya kebajikan Tuhan (yang) berkenan,” tuturnya.
Ny Liem mengakui selama ini agama Konghucu kurang dikenali oleh generasi muda karena ajaran agamanya tidak disosialisasikan dalam ceramah.
“Di dalam agama kami memang tidak ada aturan untuk beribadah secara tepat. Cara- cara itu tergantung pada adat istiadat yang berkembang di suku-suku di dalam etnis Tionghoa. Tetapi saya sadar, ceramah untuk membina generasi muda sangat diperlukan untuk meneruskan agama ini ke generasi muda,” tuturnya.
Ceramah-ceramah dan sekolah agama saat ini di antaranya yang sedang digarap oleh Gan Kok Hwie di Kelenteng Tay Kak Sie . Sebagai Ketua Makin Kota Semarang, dia merasa bertanggung jawab untuk membina umat Konghucu dan mempertahankan generasi muda agar kembali ke kelenteng.
“Baru satu tahun ini saya mulai mengadakan ceramah bagi umat dan mengadakan sekolah minggu setiap Minggu untuk anak-anak. Langkah ini sebagai pembinaan keimanan bagi umat Konghucu,” tuturnya.
“Pada tahap awal ini, saya baru pembinaan bagi umat. Tahap selanjutnya kami juga akan menyebarluaskan ajaran Konghucu,” paparnya. (J02)
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0409/03/daerah/1244334.htm
KELENTENG-kelenteng yang meriah dengan warna merah mencolok khas simbol kemakmuran bagi etnis Tionghoa mewarnai sepanjang jalan di kawasan pecinan Kota Semarang. Bau yong tswa atau yang dikenal dengan hio juga mengharumkan setiap sudut jalan itu.
KELENTENG-kelenteng di sana memang tak pernah henti membakar yong tswa. Ini karena para pemeluk Konghucu selalu menyematkannya ke dalam abu yong tswa yang habis terbakar seusai menyembah para dewa yang telah memberikan kemakmuran hidup.
Tidak satu pun kelenteng di pecinan berusia muda. Di antara 10 kelenteng yang di kawasan itu didirikan pada kurun 1753 hingga 1800-an. Kelenteng Siu Hok Bio merupakan kelenteng tertua di daerah itu. Selain itu, dibangun pula Kelenteng Hoo Hok Bio, Kong Tik Soe, Tay Kak Sie, Tong Pek Bio, Liong Hok Bio, Tek Hay Bio, Wie Wie Kiong, See Hoo Kong, dan Kelenteng Grajen.
Namun, kelenteng tertua di Kota Semarang justru tidak berada di pecinan. Kelenteng tertua itu bernama Sam Poo Kong yang didirikan oleh Laksamana Cheng Ho pada tahun 1406 di bilangan Simongan, Semarang bagian barat.
Tidak seperti pada masa Orde Baru ketika umat Konghucu tidak diperbolehkan melakukan ibadah dan melaksanakan upacara keagamaannya. Umat Konghucu di pecinan sekarang bisa bebas melaksanakan ritual agamanya dan melambungkan asap yong tswa.
Dalam waktu dekat ini, umat Konghucu di Pecinan akan mengadakan upacara King Ho Ping pada tanggal 29 bulan 7 tahun Imlek, atau 12 September 2004. Saat itu umat Konghucu membacakan doa dan mempersembahkan sesaji bagi para arwah leluhur yang tidak diterima di dunia akhirat. Upacara itu dipusatkan di Kelenteng Tay Kak Sie.
“Kami tidak bisa main-main mengadakan upacara ini. Kami harus melaksanakannya secara khidmat. Kalau tidak, kita bisa kesurupan,” tutur Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (Makin) Kota Semarang Gan Kok Hwie (73).
Ia memaparkan, upacara itu akan diadakan dalam upacara yang lumayan besar. Seusai membaca doa dan sesaji akan diadakan upacara rebutan bahan pokok makanan. “Tetapi, sekarang kami tidak lagi mengadakannya secara rebutan karena pasti banyak yang berkelahi. Karena itu, kami akan membagi-bagikan bahan pokok itu kepada masyarakat dengan kupon,” ungkapnya.
Selain sebagai tempat ibadah, menurut Gan Kok Hwie, pada masa lalu sebelum Konghucu dilarang di Indonesia, warga pecinan kerap bercengkerama di halaman kelenteng. Biasanya kesempatan itu dimanfaatkan oleh para orang tua untuk berbagi pengalaman dengan generasi muda.
Melalui perbincangan itu pula generasi muda belajar tentang falsafah hidup dari generasi tua. “Pada zaman dulu, sambil duduk-duduk di kelenteng para orang tua memberikan nasihat dan ajaran hidup kepada generasi muda dalam menjalankan hidup. Tidak seperti saat ini, generasi muda sudah tidak tahu tradisi etnis Tionghoa,” paparnya.
Meski begitu, iklim kebebasan beribadah sesuai agama Konghucu sangat disyukuri oleh Gan Kok Hwie dan umat Konghucu di pecinan. Thio Tiong Gie (75), satu-satunya dalang wayang Po Te Hi yang masih ada di Kota Semarang, juga sangat mensyukuri itu. “Pada masa ini, kami bisa bebas sembahyang ke kelenteng dan mengadakan upacara. Kami sudah cukup merasa senang dengan itu semua,” tuturnya.
Meski Pemerintah Indonesia sudah memberikan kebebasan itu, tetapi umat Konghucu masih merasa terusik oleh anggapan miring tentang agama mereka. Mereka juga sedang dihadapkan pada permasalahan keberlangsungan agama ini karena generasi muda etnis Tionghoa di pecinan sudah banyak berpaling ke agama lain.
“Anak-anak saya tidak satu pun yang beragama Konghucu. Saya tidak bisa berbuat apa- apa karena mereka masuk agama Kristen karena mereka masuk sekolah swasta Kristen. Lagi pula, pada masa Orde Baru kami tidak boleh menjalankan upacara Konghucu sehingga sedikit sekali tradisi agama ini yang bisa kami ajarkan kepada mereka,” tutur Gan Kok Hwie.
Ia mengaku sempat sakit hati terhadap anak-anaknya karena tidak sudi lagi masuk ke kelenteng. “Mereka bilang, kelenteng tidak bagus karena menyembah patung. Padahal, saya sudah meminta mereka untuk bisa menghormati agama yang saya anut,” ungkapnya.
Hal serupa juga dirasakan oleh Ny Liem Man Fung (41). Ibu rumah tangga beranak dua ini kerap menghadapi pertanyaan anak-anaknya tentang kebenaran agama Konghucu.
“Anak saya kerap bertanya, apakah Konghucu adalah agama setan? Teman-teman mereka selalu bilang kepada anak saya bahwa kelenteng tempat berkumpulnya setan. Tetapi, saya ajarkan kepada anak saya bahwa Konghucu tidak pernah mengajarkan seperti itu. Pada dasarnya, agama apa pun adalah sama. Hanya saja caranya yang berbeda,” tuturnya.
Ny Liem mengaku, meski sudah dibebaskan menganut agama Konghucu, umat Konghucu masih harus terus berjuang karena kenyataannya kalangan umum belum bisa menerima agamanya. “Saya percaya ajaran Konghucu, yaitu yang terpenting dari manusia adalah pikiran, hati, dan perbuatan. Tidak akan ada gunanya ibadah kita setiap hari kalau ketiga unsur itu tidak dijaga. Pesan- pesan itu yang selalu saya sampaikan kepada teman dan saudara yang menilai miring agama Konghucu,” paparnya.
Thio Tiong Gie menambahkan, “Konghucu tidak pernah membeda-bedakan manusia ataupun agama. Ada satu falsafah dari Nabi Konghucu: di empat penjuru lautan, semua manusia bersaudara. Satu lagi; hanya kebajikan Tuhan (yang) berkenan,” tuturnya.
Ny Liem mengakui selama ini agama Konghucu kurang dikenali oleh generasi muda karena ajaran agamanya tidak disosialisasikan dalam ceramah.
“Di dalam agama kami memang tidak ada aturan untuk beribadah secara tepat. Cara- cara itu tergantung pada adat istiadat yang berkembang di suku-suku di dalam etnis Tionghoa. Tetapi saya sadar, ceramah untuk membina generasi muda sangat diperlukan untuk meneruskan agama ini ke generasi muda,” tuturnya.
Ceramah-ceramah dan sekolah agama saat ini di antaranya yang sedang digarap oleh Gan Kok Hwie di Kelenteng Tay Kak Sie . Sebagai Ketua Makin Kota Semarang, dia merasa bertanggung jawab untuk membina umat Konghucu dan mempertahankan generasi muda agar kembali ke kelenteng.
“Baru satu tahun ini saya mulai mengadakan ceramah bagi umat dan mengadakan sekolah minggu setiap Minggu untuk anak-anak. Langkah ini sebagai pembinaan keimanan bagi umat Konghucu,” tuturnya.
“Pada tahap awal ini, saya baru pembinaan bagi umat. Tahap selanjutnya kami juga akan menyebarluaskan ajaran Konghucu,” paparnya. (J02)
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0409/03/daerah/1244334.htm
31 Januari 2011 Lepas dari Harimau
31 Januari 2011
Lepas dari Harimau
Alkisah, suatu ketika Nabi Konghucu dan murid muridnya diusir dari suatu kerajaan. Ketika melintas di sebuah hutan, rombongan Konghucu menjumpai seorang perempuan bersimbah air mata di samping pusara yang masih baru.
Seorang muridnya bertanya kenapa dia menangis. "Pertama, mertuaku dibunuh harimau di sini. Berikutnya giliran suamiku. Dan sekarang gantian anakku," kata perempuan itu. Kemudian Konghucu ganti bertanya mengapa dia tidak pergi meninggalkan hutan yang berbahaya itu.
"Sebab, tak ada pemerintah yang menindas di sini," jawab perempuan tersebut. Nabi Konghucu pun berpaling kepada murid muridnya dan berpetuah, "Ingatlah! Pemerintah yang sewenang wenang jauh lebih menakutkan ketimbang harimau." Presiden Soeharto terang bukan harimau, tapi selama berpuluh tahun, kebijakan kebijakan rezim Orde Baru demikian galak kepada para pengikut ajaran Konghucu.
Pada masa Presiden Sukarno, penganut Konghucu sempat menikmati kebebasan. Bahkan, pada 1961, pelajaran agama Konghucu masuk kurikulum sekolah. Lewat Penetapan Presiden Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, Presiden Sukarno menyatakan Konghucu merupakan satu di antara enam agama yang dipeluk rakyat Indonesia. Dalam penjelasan peraturan itu juga diterangkan pemerintah tidak melarang ajaran lain seperti Yahudi, Shinto, Taoisme, dan Zarathustra.
Masa bulan madu itu tak berumur panjang. Angin politik berbalik melawan pengikut Konghucu. Peristiwa G 30 S pada 1965 pecah dan aktivis politik keturunan Tionghoa dinilai punya keterkaitan dengan pemerintah Tiongkok dan Partai Komunis Indonesia.
Semula Presiden Soeharto masih menunjukkan sikap mendua. Di satu pihak, ia mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 14/1967 yang mencekik adat istiadat Tionghoa. Di pihak lain, pada 23 Agustus tahun yang sama, ia memberikan sambutan bernada positif dalam Kongres VI Gabungan Perhimpunan Agama Konghucu se Indonesia di Solo, Jawa Tengah. "Agama Khonghutju mendapat tempat jang lajak dalam negara kita jang berlandaskan Pantjasila ini," demikian tertulis dalam naskah sambutannya.
Lewat rupa rupa peraturan, pemerintah Soeharto mengetatkan ikatan bagi penganut Konghucu, misalnya terbitnya Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Tahun 1978 yang hanya mencantumkan lima agama, tanpa menyertakan Konghucu. Akibatnya, penganut Konghucu tak pernah lolos dari segala urusan administrasi kependudukan. Menteri Pendidikan Teuku Syarif Thayeb menghapus pelajaran agama Konghucu dari kurikulum pada 1974. Sejak saat itu, penganut Konghucu seolah olah tak ada di negeri ini.
"Saya terpaksa mencantumkan agama Islam dalam KTP," Purwani, 57 tahun, warga Kota Solo, mengenang sulitnya mendapatkan kartu tanda penduduk. Pendeta Muda Konghucu Adjie Chandra, 52 tahun, memilih membiarkan kolom agama di kartu penduduk miliknya kosong.
Ketika Imlek tiba, mereka pun tak leluasa merayakannya. Menurut Pendeta Adjie, untuk menghindari masalah, sebagian besar memilih merayakannya di rumah-walaupun litang tetap dibuka bagi pengikut Konghucu yang hendak berdoa. "Kami hanya berkeliling di halaman litang, tidak berani ke luar halaman," ujar Purwani.
Untuk beribadah saja susah, apalagi untuk melakukan atraksi barongsai. Sakandi Talok, 58 tahun, Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia di Kalimantan Barat, mengenang bagaimana mereka sembunyi sembunyi "bermain" barongsai di gang gang kecil Kota Pontianak demi menghin-dari mata aparat. Kalau lagi apes dan ketahuan, bisa bisa harus berurusan dengan -polisi.
l l l
TAK jelas benar berapa jumlah penganut Konghucu saat ini. "Mungkin sekitar empat juta orang, termasuk Konghucu 'santri' dan 'abangan'," kata Budi Santoso Tanuwibowo, anggota Presidium Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia, pertengahan Januari lalu. Menurut Budi, jumlah pengikut Nabi Konghucu pada 1977 setara dengan pemeluk Buddha, yakni sekitar 0,9 persen penduduk Indonesia.
Sulitnya hidup beragama Konghucu pada masa Presiden Soeharto ada kemungkinan menyusutkan pengikutnya. Seperti keluarga Lim Buan Teng yang berpindah ke agama Kristen Protestan. "Dulu saya terpaksa beralih ke agama Buddha, tapi sekarang kembali ke Konghucu," kata Nge Chun Hur alias Atang, 51 tahun, warga Pontianak.
Pendeta Adjie Chandra mengatakan dulu dia aktif di organisasi pemuda Konghucu di Solo. Pada 1970 an itu ada sekitar 40 pemuda Konghucu yang aktif berorganisasi. "Tapi paling sekarang tinggal empat enam orang yang masih memeluk Konghucu."
Sekolah sekolah Konghucu ditutup. Kelenteng kelenteng Konghucu pun beralih menjadi vihara tridarma untuk tiga agama: Buddha, Konghucu, dan Taoisme. Seperti kelenteng di Banjar, Jawa Barat. Di dalamnya ada patung Konghucu diapit patung Buddha Gautama dan Nabi Tao, Lao Tse. Namun, prakteknya, vihara itu hanya dipakai pengikut Konghucu. "Tidak ada penganut Buddha ataupun Tao di Banjar," kata Widi Priatno, rohaniwan Konghucu.
Setelah Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Instruksi Presiden Tahun 1967 dan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Tahun 1978, rantai yang membelenggu pengikut Konghucu terputus. Apalagi setelah Departemen Agama juga mengakui perkawinan Konghucu pada 2006. Kebebasan ini memberi angin segar bagi agama Konghucu.
Sebelum Gus Dur mencabut dua peraturan itu, Adjie mencatat penganut Konghucu di Solo hanya berkisar 40 orang. Namun, semenjak diterbitkan Keputusan Presiden Nomor 6/2000, umat Konghucu berlipat menjadi sekitar 100 orang. "Tapi hanya 60 orang yang aktif datang beribadah di litang setiap minggu," kata Pendeta Adjie.
Menjelang Imlek tahun ini, Pontianak, yang hampir 20 persen warganya beragama Konghucu, pun bersolek dengan lampion di seluruh penjuru kota. Arak arakan atraksi barongsai juga sudah bersiap jauh jauh hari. Kala Imlek ini, sebagian keturunan Tionghoa asal Pontianak dan Singkawang di rantau ramai ramai pulang kampung. "Semua kamar kami sudah ludes dipesan," kata Lusi, Manajer Umum Hotel Mahkota, Singkawang, sekitar tiga jam perjalanan dari Pontianak.
SP, Ukky Primartantyo (Solo), Harry Daya (Pontianak), Nur Khoiri (Banjar)
Lepas dari Harimau
Alkisah, suatu ketika Nabi Konghucu dan murid muridnya diusir dari suatu kerajaan. Ketika melintas di sebuah hutan, rombongan Konghucu menjumpai seorang perempuan bersimbah air mata di samping pusara yang masih baru.
Seorang muridnya bertanya kenapa dia menangis. "Pertama, mertuaku dibunuh harimau di sini. Berikutnya giliran suamiku. Dan sekarang gantian anakku," kata perempuan itu. Kemudian Konghucu ganti bertanya mengapa dia tidak pergi meninggalkan hutan yang berbahaya itu.
"Sebab, tak ada pemerintah yang menindas di sini," jawab perempuan tersebut. Nabi Konghucu pun berpaling kepada murid muridnya dan berpetuah, "Ingatlah! Pemerintah yang sewenang wenang jauh lebih menakutkan ketimbang harimau." Presiden Soeharto terang bukan harimau, tapi selama berpuluh tahun, kebijakan kebijakan rezim Orde Baru demikian galak kepada para pengikut ajaran Konghucu.
Pada masa Presiden Sukarno, penganut Konghucu sempat menikmati kebebasan. Bahkan, pada 1961, pelajaran agama Konghucu masuk kurikulum sekolah. Lewat Penetapan Presiden Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, Presiden Sukarno menyatakan Konghucu merupakan satu di antara enam agama yang dipeluk rakyat Indonesia. Dalam penjelasan peraturan itu juga diterangkan pemerintah tidak melarang ajaran lain seperti Yahudi, Shinto, Taoisme, dan Zarathustra.
Masa bulan madu itu tak berumur panjang. Angin politik berbalik melawan pengikut Konghucu. Peristiwa G 30 S pada 1965 pecah dan aktivis politik keturunan Tionghoa dinilai punya keterkaitan dengan pemerintah Tiongkok dan Partai Komunis Indonesia.
Semula Presiden Soeharto masih menunjukkan sikap mendua. Di satu pihak, ia mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 14/1967 yang mencekik adat istiadat Tionghoa. Di pihak lain, pada 23 Agustus tahun yang sama, ia memberikan sambutan bernada positif dalam Kongres VI Gabungan Perhimpunan Agama Konghucu se Indonesia di Solo, Jawa Tengah. "Agama Khonghutju mendapat tempat jang lajak dalam negara kita jang berlandaskan Pantjasila ini," demikian tertulis dalam naskah sambutannya.
Lewat rupa rupa peraturan, pemerintah Soeharto mengetatkan ikatan bagi penganut Konghucu, misalnya terbitnya Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Tahun 1978 yang hanya mencantumkan lima agama, tanpa menyertakan Konghucu. Akibatnya, penganut Konghucu tak pernah lolos dari segala urusan administrasi kependudukan. Menteri Pendidikan Teuku Syarif Thayeb menghapus pelajaran agama Konghucu dari kurikulum pada 1974. Sejak saat itu, penganut Konghucu seolah olah tak ada di negeri ini.
"Saya terpaksa mencantumkan agama Islam dalam KTP," Purwani, 57 tahun, warga Kota Solo, mengenang sulitnya mendapatkan kartu tanda penduduk. Pendeta Muda Konghucu Adjie Chandra, 52 tahun, memilih membiarkan kolom agama di kartu penduduk miliknya kosong.
Ketika Imlek tiba, mereka pun tak leluasa merayakannya. Menurut Pendeta Adjie, untuk menghindari masalah, sebagian besar memilih merayakannya di rumah-walaupun litang tetap dibuka bagi pengikut Konghucu yang hendak berdoa. "Kami hanya berkeliling di halaman litang, tidak berani ke luar halaman," ujar Purwani.
Untuk beribadah saja susah, apalagi untuk melakukan atraksi barongsai. Sakandi Talok, 58 tahun, Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia di Kalimantan Barat, mengenang bagaimana mereka sembunyi sembunyi "bermain" barongsai di gang gang kecil Kota Pontianak demi menghin-dari mata aparat. Kalau lagi apes dan ketahuan, bisa bisa harus berurusan dengan -polisi.
l l l
TAK jelas benar berapa jumlah penganut Konghucu saat ini. "Mungkin sekitar empat juta orang, termasuk Konghucu 'santri' dan 'abangan'," kata Budi Santoso Tanuwibowo, anggota Presidium Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia, pertengahan Januari lalu. Menurut Budi, jumlah pengikut Nabi Konghucu pada 1977 setara dengan pemeluk Buddha, yakni sekitar 0,9 persen penduduk Indonesia.
Sulitnya hidup beragama Konghucu pada masa Presiden Soeharto ada kemungkinan menyusutkan pengikutnya. Seperti keluarga Lim Buan Teng yang berpindah ke agama Kristen Protestan. "Dulu saya terpaksa beralih ke agama Buddha, tapi sekarang kembali ke Konghucu," kata Nge Chun Hur alias Atang, 51 tahun, warga Pontianak.
Pendeta Adjie Chandra mengatakan dulu dia aktif di organisasi pemuda Konghucu di Solo. Pada 1970 an itu ada sekitar 40 pemuda Konghucu yang aktif berorganisasi. "Tapi paling sekarang tinggal empat enam orang yang masih memeluk Konghucu."
Sekolah sekolah Konghucu ditutup. Kelenteng kelenteng Konghucu pun beralih menjadi vihara tridarma untuk tiga agama: Buddha, Konghucu, dan Taoisme. Seperti kelenteng di Banjar, Jawa Barat. Di dalamnya ada patung Konghucu diapit patung Buddha Gautama dan Nabi Tao, Lao Tse. Namun, prakteknya, vihara itu hanya dipakai pengikut Konghucu. "Tidak ada penganut Buddha ataupun Tao di Banjar," kata Widi Priatno, rohaniwan Konghucu.
Setelah Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Instruksi Presiden Tahun 1967 dan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Tahun 1978, rantai yang membelenggu pengikut Konghucu terputus. Apalagi setelah Departemen Agama juga mengakui perkawinan Konghucu pada 2006. Kebebasan ini memberi angin segar bagi agama Konghucu.
Sebelum Gus Dur mencabut dua peraturan itu, Adjie mencatat penganut Konghucu di Solo hanya berkisar 40 orang. Namun, semenjak diterbitkan Keputusan Presiden Nomor 6/2000, umat Konghucu berlipat menjadi sekitar 100 orang. "Tapi hanya 60 orang yang aktif datang beribadah di litang setiap minggu," kata Pendeta Adjie.
Menjelang Imlek tahun ini, Pontianak, yang hampir 20 persen warganya beragama Konghucu, pun bersolek dengan lampion di seluruh penjuru kota. Arak arakan atraksi barongsai juga sudah bersiap jauh jauh hari. Kala Imlek ini, sebagian keturunan Tionghoa asal Pontianak dan Singkawang di rantau ramai ramai pulang kampung. "Semua kamar kami sudah ludes dipesan," kata Lusi, Manajer Umum Hotel Mahkota, Singkawang, sekitar tiga jam perjalanan dari Pontianak.
SP, Ukky Primartantyo (Solo), Harry Daya (Pontianak), Nur Khoiri (Banjar)
Langganan:
Postingan (Atom)