Sabtu, 29 September 2012

KONSEP KETUHANAN TENTANG KONG HU CU

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Agama di dunia ada bermacam-macam yang diturunkan oleh Tuhan sehingga orang bebas memilih mana yang di anut dan di yakininya dan di anggab palig benar, salah satunya adalah agama kong hu cu tetapi sebenarnya kong hu cu bukan salah satu agama, tetapi filsafat. Tapi sebagian orang berpendapat bahwa kong hu cu adalah suatu agama. Diantaranya orang tionghoa mereka mempercayai bahwa kong hu cu adalah suatu agama, jadi mereka memeluk dan menggap kong hu cu adalah suatu agama. Sifat kodrati atau watak sejati manusia (Xing) menurut Agama Konghucu adalah bersih dan baik, karena berasal dari Tian sendiri. Agar sifat baik ini bisa terpelihara, maka manusia perlu berupaya hidup di dalam Jalan yang diridhoi Tuhan (Jalan Suci, Dao). Bimbingan agar manusia dapat hidup dalam Jalan Suci disebut agama. Dengan demikian menjadi jelas bahwa agama diciptakan oleh Tuhan dan disampaikan oleh para nabi untuk kepentingan umat manusia. Menyadari bahwa agama-agama diturunkan Tuhan lewat para nabi untuk kepentingan umat manusia, maka umat Konghucu wajib hidup penuh susila, tepasalira, penuh toleransi dan penghormatan kepada umat agama lain, atas dasar keyakinan bahwa agama-agama atau Jalan-Jalan Suci itu semuanya berasal dariNya. Dalam Agama Khonghucu konsep Ketuhanannya adalah Monoteis, artinya Esa atau tunggal. Ini tercermin dalam menyebut nama Tuhan d engan Thian atau dalam bahasa kitabnya disebut dengan Tien ini terdiri dari 2 (dua ) akar kata yaitu Iet atau tunggal/esa dan Tay atau besar. Agama Konghucu adalah agama monoteis, percaya hanya pada satu Tuhan, yang biasa disebut sebagai Tian, Tuhan Yang Maha Esa atau Shangdi (Tuhan Yang Maha Kuasa). Tuhan dalam konsep Konghucu tidak dapat diperkirakan dan ditetapkan, namun tiada satu wujud pun yang tanpa Dia. Dilihat tiada nampak, didengar tidak terdengar, namun dapat dirasakan oleh orang beriman. Pemeluk agama konh hu cu menganggab bahwa surga dan bumi akan menjadi harmonis jika stiap orang mematuhi mereka yang ada di atas dan membagi dengan pantangan kepada mereka yang ada di bawah. Konghucu mengajarkan hanya bahwa hanya keluarga bahagia yang merupakan fondasi dari suatu dunia yang harmonis. Orang-orang tua diharapkan mengajarkan kebajikan dan tugas kepada anak-anak mereka yang akan menjadi dewasa dan yang akan menghormati mereka sebagai balas budi. B. Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalahnya sebagai berikut: 1. Bagaimana agama kong hu cu? 2. Bagaimana konse ketuhanan dalam kong hu cu? 3. Bagaimana diskripsi tentang kepercayaan alam gaib bagi umat kong hu cu? BAB II PEMBAHASAN Konsep ketuhanan agama kong Hu CuONGHUCU A. AGAMA KONGHUCU Agama Konghucu dikenal pula sebagai Ji Kauw (dialek Hokian) atau Ru Jiao (Hua Yu), yang berarti agama yang mengajarkan kelembutan atau agama bagi kaum terpelajar. Agama ini sudah dikenal sejak 5.000 tahun lalu, lebih awal 2.500 tahun dibanding usia Kongzi sendiri. Kongzi (Hua Yu) atau Khongcu (dialek Hokian) atau Confucius (Latin) adalah nama nabi terakhir dalam agama Konghucu. Ia lahir tanggal 27, bulan 8, tahun 0001 Imlek atau 551 sM. Kongzi adalah nabi terbesar dalam agama Konghucu dan oleh sebab itu banyak orang yang kemudian menamai Ru Jiao sebagai Confucianism, yang kemudian di Indonesia dikenal sebagai Agama Konghucu. Sebagai bukti akan kebesaran Kongzi atau Nabi Khongcu, tahun pertama dari penanggalan Imlek dihitung sejak tahun kelahirannya. Padahal penanggalan Imlek diciptakan pada jaman Huang Di, 2698-2598 sM dan telah digunakan sejak Dinasti Xia, 2205-1766 sM. Penetapan tahun pertama ini dilakukan Kaisar Han Wu Di dari Dinasti Han pada tahun 104 sM. B. KONSEP KETUHANAN DALAM AGAMA KONGHUCU Konfucianisme adalah suatau pandangan hidub yang diajarkan oleh kun Fu Tse’ (konfusius), yang hidub sekitar tahun 551-575 SM. Oleh karenanya dapatlah dikatakan bahwa Kun Fu Tse’ adalah salah satu seorang konseptor bangsa Tiongkong yang ingin mempertahankan tradisi kunonya dan menolak untuk menggantikanya dengan yang baru. Kita kenal bangsa tiongkong sebagai suatu bangsa yang memiliki adat istiadat kehiduban masyarakat dalam beberapa hal: • Sangat mengagungkana kepercayaan terhadab hal-hal gaib, roh-roh, serta pada leluhurnya. Dengan kata lain, mereka berfaham animisme (serba roh) • Sangat menjunjungtinggi etika serta upacara-upacara dalam hidup bermasyarakat. • Sangat mementingkankehiduban mental dari pada material (kebenda-bandaan). Sebelum ajaran Kong Fu Zi dan Meng Zi, bangsa Cina menganut kepercayaan kepada dewa-dewa yang dianggap memiliki kekuatan alam. Dewa-dewa yang menerima pemujaan tertinggi dari mereka adalah Feng-Pa (dewa angin), Lei-Shih (dewan angin taufan yang digambarkan sebagai naga besar), T'sai-Shan (dewa penguasa bukit suci), dan Ho-Po. Menurut kepercayaan Cina kuno, dunia digambarkan sebagai sebuah segi empat yang di bagian atasnya ditutupi oleh 9 lapisan langit. Di tengah-tengah dunia itulah terletak daerah yang didiami bangsa Cina yang disebut T'ien-hsia. Daerah di luar T'ien-hsia dianggap sebagai daerah kosong tempat tinggal para hantu dan Dewi Pa (penguasa musim semi). Orang cina dengan penuh hormat menyebut konfusius, kung fu tzu, atau kung sang Guru. Sebagai guru pertama, bukanya tidak ada guru sebelum beliau, melainkan karena martabat beliau lebih tinggi dari semua guru yang lain. Tidak seorang pun yang berpendapat bahwa hanya beliaulah yang membangun kebudayaan cina. Beliau sendiri secara terbuka memperkecil arti pembaruhan-pembaharuan yang telah beliau lakukan terhadab terhadab kebudayaan cina tersebut, dan lebih suka menyebutkan dirinya” pecinta barang antik”. Pemberiaan nama itu tidak sepadan sumbangan beliau, namun hal itu merupakan suatu contoh yang amat baik tantan kerendahan hati serta mawas diri yang beliau anjurkan. Karena walaupun beliau bukan mengubah kebudayaan cina, beliau tetap merupakan penyuntingannya yang paling utama. Dengan memilah-milah yang sudah lewat, megaris bawahi disini, beliau menjernihkan konsep-konep kebudayaan bangsanya, yang dengan amat mengesankan tetap jelas selama 25 abad. kong fu tse senidiri sebenarnya bukan pencipta konfusianisme, melainkan orang yang memperbaiki dan membaharui konfusianisme. Paham ini lebih tepat merupakan pandangan dunia filsafat negara yang berdasarkan etika keagamaaan yang berasal dari permulaan zaman Tsyou yang foedal (1050 SM) dan baru di jadikan agama negara di bawah dinasti han (206 SM-221 M). Kong Fu Tse mempelajari kebenaran kejayaan pemerintahaan raja-raja sebelumnya, serta menyelidiki sebab-sebab kebesaraan itu, kemudian beliau Hustan mengajarkan pada raja-raja pada masanya dan mepraktekanya selama beliau mendapat pangkat dalam pemerintahanya. Konsep dalam AgamaNasrani disebut dengan Trinity Konsep dalam Agama Islam disebutTauhid Konsep dalam agama kong hu cu Ru Jiao atau agama Konghucu adalah agama monoteis, percaya hanya pada satu Tuhan, yang biasa disebut sebagai Tian, Tuhan Yang Maha Esa atau Shangdi (Tuhan Yang Maha Kuasa). Tuhan dalam konsep Konghucu tidak dapat diperkirakan dan ditetapkan, namun tiada satu wujud pun yang tanpa Dia. Dilihat tiada nampak, didengar tidak terdengar, namun dapat dirasakan oleh orang beriman. Dalam Agama Khonghucu konsep Ketuhanannya adalah Monoteis, artinya Esa atau tunggal. Ini tercermin dalam menyebut nama Tuhan dengan Thian atau dalam bahasa kitabnya disebut dengan Tien ini terdiri dari 2 (dua ) akar kata yaitu • Iet atau tunggal atau esa dan Tay atau besar, jadi seluruh huruf ini berarti Satu yang maha besar dan dengan kata lain : Tuhan Yang Maha Esa. Hal tersebut di atas dibuktikan secara jelas dalam ajaran Agama Khonghucu, misalnya : Dalam Delapan Keimanan atau Pat Sing Ciam Kwie bagian pertama • Sing Sien Hong Thian = Sepenuhnya Iman Percaya Kepada Tuhan Yang Maha Esa, begitu pula di dalam doa umum maupun doa upacara kematian atau Song Su dan doa upacara pernikahan atau Hoo Su, selalu terlebih dulu menyebut : Kehadirat Thian Yang Maha besar Ditempat yang Maha Tinggi, setelah itu baharu menyebut : setelah itu baharu menyebut : Dengan Bimbingan Nabi Khongcu, • serta diakhiri dengan ucapan : Sian Cay, yang artinya semoga demikianlah sebaiknya. Juga diimplementasikan atau dijabarkan dalam ucara besar kehadirat Thian Yang Maha Esa: 1. King Thi Kong atau Sembahyang Besar Tuhan Allah Iemlik bulan I tanggal 8 menjelang tanggal 9,dilaksanakan saat Cu Si Pkl 23.00-01.00. 2. Cio Thao atau Sembahyang Kehadirat Thian YME, yang dilakukan mempelai sebelum bertemu dengan pasangannya,waktunya antara Pk 03.00 pagi, di rumah masing-masing calon mempelai. 3. Sam Kay atau Sembahyang Kehadirat Thian YME,saat mempelai bertemu satu dengan lainnya. Sebelum mempelai menerima Liep Gwan Perinahan diLithang. Dalam Yijing dijelaskan bahwa Tuhan itu Maha Sempurna dan Maha Pencipta (Yuan) ; Maha Menjalin, Maha Menembusi dan Maha Luhur (Heng) ; Maha Pemurah, Maha Pemberi Rahmat dan Maha Adil (Li), dan Maha Abadi Hukumnya (Zhen). Konsep Ketuhanan menurut Konghucu: • Sepenuh Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa (Cheng Xin Huang Tian) 2.Sepenuh Iman menjunjung Kebajikan (ChengJuenJieDe) • Sepenuh Iman Menegakkan Firman Gemilang (ChengLiMingMing) • Sepenuh Iman Percaya adanya Nyawa dan Roh (ChengZhiGuiShen) • Sepenuh Iman memupuk Cita Berbakti (ChengYangXiaoShi) Agama Khonghucu juga mengajarkan hubungan antar sesama manusia atau disebut "Ren Dao" dan bagaimana penganutnya melakukan hubungan dengan Sang Khalik/Pencipta alam semesta (Tian Dao) yang disebut dengan istilah "Tian" atau "Shang Di". Ibadah kehadirat Thian Yang Maha Esa yang berkaitan pula ibadah kepada Nabi dan Para Suci antara lain: 1. Ibadah Siang Gwan atau Cap Go Meh, setiap Imlek bulan pertama tanggal 15 malam, dikala bulan purnama raya. Karena Ibadah siang Gwan Siauw ini melambangkan saat mulai diturunkan berkah Thian atas penghidupan dalam tahun baru yang bersangkutan, maka biasa dilakukan upacara sembahyang besar bagi Para Suci/Sien Bing untuk keselamatan serta perlindungan masyarakat luas. Baik dalam kehidupan maupun penghidupannya. 2. Ibadah Twan yang atau Hari Kehidupan, dilaksanakan pada Imlek bulan V tanggal 5, pada saat Ngo Si, antara Pk 11.00 -13.00 ; di samping Ibadah besar kehadirat Thian juga menghormati khut Gwan para suci yang semasa hidupnya telah mewujudkan secara nyata Satyanya keapda Tuhan maupun bangsadan negaranya. 3. Ibadah Tangcik atau Hari Genta Rohani (Bok Tok), Cie Ya Sing Kie Sien. Dilaksanakan pada tanggal 22 desember, dikala matahari terletak pada garis balik 23 1/2 derajat Lintang Selatan, saat Ien Si antara Pk 03.00 -05.00. Di samping sembahayang besar kehadirat Thian dengan altar King Thi Kong yang sesaji tabu diganti sepasang bambu kuning yang melambangkan keabadian, juga ada disajikan khusus ronde atau onde dengan kuah jahe manis sebanyak 3 mangkuk 12 ronde kecil merah dan putih serta ditengahnya diberi satu ronde merah besar yang melambangkan rakhmat Thian YME yang dilimpahkan selama satu tahun yang terdiri dua belsa bulan ! Ibadah ini juga memperinagti awal Nabi Khongcu melakukan tugas kenabiannya serta pula memperingati wafat Ya Sing Bincu Penegak Agama Jie yang konsekwen dengan ajaran Nabi !. Ajaran (pemujaan) atau kepercayaan agama kong hu cu Di lihat pemikiran orang tionghoa bahwa tujuan hidub orang kong hu cu bukan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akirat. Tetapi tujuanya untuk menuju kepada kesejahteraan negara, dunia dan sekarang ini. Soal ketuhanan soal hari kiamat dan akhirat, soal hidub sesudah mati tidak pernah disinggng, yang dimuliakan dan dipuja oleh mereka adalah alam (termasuk roh-roh, dewa-dewa, gunung sungai-sungai, angin), leluhur (termasuk kebaktian iman), dan langit (ahli-ahli sejarah agama mengaggab bahwa dewa langit adalah dewa tertua). Konfusianisme mengajarkan bahwa semua kesadaran berakhir dengan kematian, maka itu, sudah menjadi tugas manusia untuk menghormati para leluhur mereka dan ada tempat pemujaan khususnya untuk keperluan ini, didalam rumah,didalam kuil (kelenteng) taoisme surga dan bumi adalah bidang-bidang spiritual dan fisik, sedangkan manusia menjaga keseimbangan keduanya keseimbangan ini dapat ditanggung oleh kekeliruan manusia dan para penganut tao mencari pengampunan dengan berdoa dan memberikan persembahan. Konfusianisme dapat disamakan dengan universalisme, karena pandangan hidup ini berdasarkan universum dan ingin melingkupi seluruh masyarakat dalam bagian-bagianya dan dengan semua bentuk kegiatanya kedalam setelselnya. Yang paling penting didalam ajaran pokok kong hu cu pada agama Tionghoa diantaranya adalah: 1. Pemujaan alam Sejak dulu kala bangsa tionghoa merupakan bangsa petani. Mereka sangat erat hubungnya dengan tanah dan kekuataan kedewataan, yang terdapat dalam alam. Setiap tahun diadakan perayaan dengan berbagai rite-rite dan pesta-pesta untuk hasil pertanianya Di zaman dahulu raja membuka musim membajak dengan memberikan suatu korban kepada pembajak pertama dan dengan pembajak sendiri tiga kali jalan. Beberapa tempat tertentu di pandang suci, karena tampak adanya tanda-tanda kedewataaan. Di tempat itulah pemuda-pemudi dimusim semi sebagai rite-rite pembaharuan alam. Dan biasanya diakhiri hubungan sex. Seluruh alam, air di anggab didiami oleh jin-jin atau roh-roh ilmu pengetahuan menamakan kepercayan ini adalah animisme. konfusianisme dalam social harmony jalan yang mengatur alam adalah jalan yang sama yang harus diikuti oleh manusia, jika mereka ingin sejahtera. Upacara keagamaan yang dilakukan oleh para penguasa adalah untuk mencari kesuburan ladang-ladang pertanian, melindungi diri dari elemen alam yang membahayakan. Para raja adalah penghubung antara langit dan bumi. Kekuasaan mereka berasal dari kekuasaan alam semesta, kekuasaan pencipta. Jika mereka dapat membutat persoallan manusia harmonis persoalan alam, mereka akan berhasil secara mengagumkan.Dalam ala mini kekuasaan yang tertinggi terletak pada dewa langit, yang oleh sementara ahli agama dikatakan dewata yang agak kabur, tetapi dihormati,yang menciptakan segalanya dan yang menentukan kebahagiaan dan nasib manusia. 2. Hormat pada leluhur Hormat pada leluhur yang sudah mati adalah juga penting karena menurut mereka arwah itu memerlukan pemujian. Kultus (upacara) orang mati selalu merupakan bagian penting upacara pemujaan. Jadi roh (arwah) dianggab dapat memberikan berkah, doa dan pertolongan kepada para keluarganya. Karena menghormati arwah yang sudah meninggal sama halnya menghormati orang yang masih hidup. 3. Pemujaan langit Hormat yang paling besar adalah pemujaan terhadap langit. Ahli-ahli agama tertentu menyatakaan bahwa dewa langitlah dewa yang paling tua. Dewa ini dikatakan mempunyai akhlak yang luhurnamanya ialah Tien artinya langit. Di dalam pemujaan sering disebut dengan syang yang berarti; raja yang di atas ia di pandang sebagai seorang kaisar yang bertahta di langit. Ia tidak mendapat pemujaan tersendiri, tetapi kekuasaanya tidak terbatas. Yang khusus bagi sikap kerohanian lama bangsa tionghoa ialah ketiadaan hasrat hendak menguasai alam dengan pemikiran ataupun dengan perbuatan. Ajaran di dalam agama Kong hu cu Kong hu cu mengajarkan,mengidamkan dunia seperti yang tertulis dalam ayat-ayat berikut: • Bila terselengara jalan suci yang agung itu, dunia bahwa langit ini didalam kebersamaan; dipilih orang bijak dan mampu, kata-kata dapat dipercaya, apa yang dibangun atau yang di kerjakan harmonis. • Orang tidak hanya kepada orang tua sendiri hormat-menghormati sebagai orang tuanya; tidak hanya kpada anak sendiri menyanyangi sebagai anaknya. • Menyiapkan bagi orang yang tua supaya tenteram melewatkan hari tua sampai akhir hayatnya; bagi yang muda-sehat medapatkan kesempatan berkaraya daatau berkarya, dan bagi remaja mendapatkan pengasuhnya. • Kepada para janda, balu, yatim piatu, yang sebatang kara dan yang sedang sakit, semuanya mendapatkan perawatan. • Yang pria mendapatkan pekerjaaan yang tepat, yang wanita memilih rumah tepatnya untuk pulang. • Barang-barang berharga tidak dibiarkan tercampur ditanah, tetapi juga tidak untuk di simpan diri sendiri. • Maka segala upaya yang mementingkan diri sendiri di tekan dan tidak dibiarkan berkembang; perampok, pencuri, pengacau dan pengkhianat menghentikan perbuatanya. • Maka pintu keluarpun tidak perlu di tutup. Demikianlah yang dinamai kebersamaan agung. Kepercayaan terhadab kegaiban Kofusianisme tentang percaya tentang adanya roh-roh orang yang telah meninggal dan pendapat tentang tuhan yme yang menarik perhatian kita adalah kenyataan bahwa dalam masa pro konfusianisme, tuhan yme di mengerti sebagai tenaga tertinggi yang di peribadikan, yang mengatur peristiwa-peristiwa alam dan manusia, menjalankan kekuasaan memberi berkah dan hukuman. Konfusianisme memperhatikan kehidupan dalam masyarakat rakyat . ini tidak berati dia menyangkal adanya dunia gaib roh-roh, hanya memberi sesaat beliau memberi prioritas pada pemikran-pemikiran tentang pemerintahan dan kesejahteraan negara. Bagi konfusianisme tata susila diri seseorang, dalam masyarakat dan alam semesta adalah satu, dunia satu, dunia ini dan kedudukan manusia di dalamya diterima sebagai nyata dan berharga untuk di perhatikan. Manusia hanya memusatkan alamya sendiri untuk memastikan kedudukanya di dalam alam semesta 4. AJARAN POKOK AGAMA KONGHUCU Konghucu mengajarkan bahwa surga dan bumi akan menjadi harmonis jika stiap orang mematuhi mereka yang ada di atas dan membagi dengan pantangan kepada mereka yang ada di bawah. Konghucu mengajarkan hanya bahwa hanya keluarga bahagia yang merupakan fondasi dari suatu dunia yang harmonis. Orang-orang tua diharapkan mengajarkan kebajikan dan tugas kepada anak-anak mereka yang akan menjadi dewasa dan yang akan menghormati mereka sebagai balas budi. Penghormatan semacam ini termasuk kepatuhan dan kesediaan menerima kekuasaan orang tua tanpa perlu dibantah. Ibadah untuk para leluhur merupakan perwujudan dari kewajiban anak-anak dan merupakan perwujudan perbedaan yang penting bagi masyarakat yang bersatu padu. Penghormatan yang diberikan kepada orang tua dalam hidup ini harus dilanjutkan setelah mati. Seperti halnya ajaran pokok agama lain, dalam agama Konghucu dikenal hubungan vertikal antara manusia dengan Sang Khalik dan hubungan horizontal antara sesama manusia. Dalam kosa kata Agama Konghucu disebut sebagai Zhong Shu, Satya kepada (Firman) Tuhan, dan Tepasalira (tenggang rasa) kepada sesama manusia. Prinsip Tepasalira ini kemudian ditegaskan dalam beberapa sabdanya yang terkenal, “Apa yang diri sendiri tiada inginkan, jangan diberikan kepada orang lain” dan “Bila diri sendiri ingin tegak (maju), berusahalah agar orang lain tegak (maju)”. Kedua sabda ini dikenal sebagai “Golden Rule” (Hukum Emas) yang bersifat Yin dan Yang. Dalam berbagai kesempatan Kongzi menekankan pentingnya manusia mempunyai “Tiga Pusaka Kehidupan”, “Tiga Mutiara Kebajikan” atau “Tiga Kebajikan Utama”, yaitu : Zhi, Ren dan Yong. Ditegaskan bahwa, “Yang Zhi tidak dilamun bimbang, yang Ren tidak merasakan susah payah, dan yang Yong tidak dirundung ketakutan”. Zhi berarti wisdom dan sekaligus enlightenment (Bijaksana dan Tercerahkan - Pencerahan). Bijaksana dapat diartikan pandai, selalu menggunakan akal budinya, arif, tajam pikiran, mampu mengatasi persoalan dan mampu mengenal orang lain. Pencerahan atau yang Tercerahkan, berarti mampu mengenal dan memahami diri sendiri, termasuk di dalamnya mampu mengenal yang hakiki. Untuk mencapai Zhi, manusia harus belajar keras, dengan menggunakan kemampuan dan upaya diri sendiri. Agama, para Nabi dan atau Guru Agung hanya bisa membantu, namun untuk mencapainya adalah dari upaya diri sendiri. Orang yang ingin memperoleh Zhi, berarti ia harus belajar keras untuk meraih Kebijaksanaan dan sekaligus Pencerahan (batin). Ren berarti Cinta Kasih universal, tidak terbatas pada orang tua dan keluarga sedarah belaka, namun juga kepada sahabat, lingkungan terdekat, masyarakat, bangsa, negara, agama dan umat manusia. Ren bebas dari stigma masa lalu dan tidak membeda-bedakan manusia dari latar belakang atau ikatan primordialnya. Ren tidak mengenal segala bentuk diskriminasi atau pertimbangan atas dasar kelompok. Meski berasal dari satu kelompok, bila seseorang bersalah atau melanggar Kebajikan, maka bisa saja kita berpihak kepada orang yang berasal dari kelompok berbeda namun benar-benar berada dalam Kebajikan. Ren dalam pengertian agama Konghucu selalu didasari pada sikap ketulusan, berbakti, memberi, bukan meminta atau menuntut balasan dalam bentuk apapun. Namun perlu diingat bahwa Ren tidak berarti mencinta tanpa dasar pertimbangan baik dan buruk. Dalam salah satu sabdanya Kongzi mengatakan bahwa “Orang yang berperi-Cintakasih bisa mencintai dan membenci”. Mencintai Kebaikan dan membenci Keburukan. Balaslah Kebaikan dengan Kebaikan; Balaslah Kejahatan dengan Kelurusan”. Di sini berarti siapa pun yang bersalah, harus diluruskan, dihukum secara adil dan diberi pendidikan secara optimal agar dapat kembali ke jalan yang benar. Setelah berada di jalan yang benar, kita tidak boleh terkena stigma, menilai atas dasar masa lalu seseorang. Yong sering diartikan Berani atau Keberanian. Namun yang dimaksud dengan Yong, bukanlah keberanian dalam “k” kecil. Berani melawan harimau dengan tangan kosong, berani menyeberangi bengawan tanpa alat bantu, bukanlah Keberanian yang dimaksud Kongzi. Yang dimaksud dengan Keberanian di sini adalah Berani karena Benar, Berani atas dasar Aturan atau Kesusilaan, Berani atas dasar rasa Tahu Malu. Suatu ketika Kongzi berkata, “Bila memeriksa ke dalam diri aku telah berada dalam Kebenaran, mengapa aku harus merasa takut?. Namun bila aku bersalah, kepada anak kecil pun aku tidak Berani”. Yong juga diartikan sebagai Keberanian untuk melakukan koreksi dan instrospeksi diri. Bila bersalah, kita harus Berani mengakui kesalahan tersebut dan sekaligus Berani untuk mengkoreksinya. Nabi Kongzi berkata, “Sungguh beruntung aku. Setiap berbuat kesalahan, selalu ada yang mengingatkannya”. Ditambahkan, “Sesungguh-sungguhnya kesalahan adalah bila menjumpai diri sendiri bersalah, namun tidak berusaha untuk mengkoreksi atau memperbaikinya”. Maka seorang yang berjiwa besar adalah orang yang berani belajar dari kesalahan. Oleh Mengzi, Yong kemudian dijabarkan sebagai Yi (Kebenaran) dan Li (Kesusilaan, Tahu Aturan, Ketertiban atau Hukum). Bila seseorang mampu menjalani Ren, Yi, Li dan Zhi dengan baik, maka ia diharapkan mampu menjadi seorang Junzi (Kuncu), atau orang yang beriman (dan tentu saja berbudi pekerti luhur). Dalam Islam disebut “Insan Kamil”. Dengan demikian diharapkan ia akan menjadi manusia yang terpercaya atau Dapat Dipercaya (Xin). Pokok ajaran Ren, Yi, Li, Zhi dan Xin atau, inilah yang biasa disebut sebagai “Lima Kebajikan” atau Wu Chang. 5. KITAB SUCI AGAMA KONG HUCU Seorang pengikut yang sejiwa dan setia dengan konfusius ialah mencius (meng tsu) 372 SM-288 SM. Meng tsu berpendapat bahwa manusia itu pada dasarnya baik, maka kebaikan itu harus di pelihara agar tetap baik. Sebaliknya pangkut yang lain yaitu Hsu Tsu mengatakan bahwa manusia itu pada dasarnya jahat dan segala kebaikan itu adalah dari ajaranya manusia itu sendiri, maka kebaikan itu harus diusahakan dengan sebaik-baiknya. Berkat pengikut-pengikutnya yang setia, maka dibutlah kitab-kitab kelasik yang terpenting di antaranya ialah: a. Yi-tsying ; yaitu kitab dari perubahan-perubahan, yang menurut itinya merupakan bu buku nujum. b. Syoe-tsying : yaitu kitab sejarah atau kitab piagam, yang berisi ceritera turun temurun mengenai silsilah raja-raja coe. c. Tsyoe-tsyioe : yaitu kitab nyanyian, kumpulan nyanyian pemujaan lagu-lagu kebangsaan. d. Tsyoen-tsyione: yaitu kitab tahunan musim semi dan musim gugur, suatu kronik negara Loe, negara asal kung fu Tse. e. Li-tsyi; yaitu kitab tentang Li (peaturan-peraturan hidup adat sopan santun dan rite-rite). Menurut Dr. Ghalb buku-buku tersebut sudah tidak asli lagi, tetapi sudah merupakan tasiran dari murid-muridnya. a. Lun – yu : yaitu mengandung kata-kata hikmat dari keutamaan, merupakan percakapan antara murid dengan gurunya. b. Ta –hiu : yaitu menerangkan falsafah dengan cara soal jawab antara murid dan guru. c. Tsyung hunng : menerangkan falsafah-falsafah dan akhlak. Dan inilah yang merupakan salah satu kitabnya yang terpeting. Kitab suci agama Konghucu sampai pada bentuknya yang sekarang mengalami perkembangan yang sangat panjang. Kitab suci yang tertua berasal dari Yao (2357-2255 sM) atau bahkan bisa dikatakan sejak Fu Xi (30 abad sM). Yang termuda ditulis cicit murid Kongzi, Mengzi (wafat 289 sM), yang menjabarkan dan meluruskan ajaran Kongzi, yang waktu itu banyak diselewengkan. Kitab suci yang berasal dari Nabi Purba sebelum Kongzi, ditambah Chunqiujing (Kitab atau Catatan Jaman Cun Ciu/ Musim Semi dan Musim Rontok) yang ditulis sendiri oleh Kongzi, sesuai dengan wahyu Tian, kemudian dihimpun Kongzi dalam sebuah Kitab yang disebut Wujing. Beberapa saat sebelum wafat, Nabi Kongzi mempersembahkan Wujing dalam persembahyangan kepada Tian. Wu Jing terdiri atas : (i) Shijing (Kitab Sanjak), yang berisi nyanyian religi, puji-pujian akan keagungan Tian dan nyanyian untuk upacara di istana, (ii) Shujing (Kitab Dokumentasi Sejarah Suci), yang berisi sejarah suci Agama Konghucu, (iii) Yijing, berisi tentang penjadian alam semesta, sehingga mereka yang menghayati Kitab ini akan mampu menyibak takbir kuasa Tian dengan segala aspeknya, (iv) Lijing (Kitab Kesusilaan), yang berisi aturan dan pokok-pokok kesusilaan dan peribadahan, serta (v) Chunqiujing. KESIMPULAH Dalam Agama Khonghucu konsep Ketuhanannya adalah Monoteis, artinya Esa atau tunggal. Ini tercermin dalam menyebut nama Tuhan d engan Thian atau dalam bahasa kitabnya disebut dengan Tien ini terdiri dari 2 (dua ) akar kata yaitu Iet atau tunggal/esa dan Tay atau besar. agama Konghucu adalah agama monoteis, percaya hanya pada satu Tuhan, yang biasa disebut sebagai Tian, Tuhan Yang Maha Esa atau Shangdi (Tuhan Yang Maha Kuasa). Tuhan dalam konsep Konghucu tidak dapat diperkirakan dan ditetapkan, namun tiada satu wujud pun yang tanpa Dia. Dilihat tiada nampak, didengar tidak terdengar, namun dapat dirasakan oleh orang beriman. Umat Konghucu juga mengajarkan bahwa surga dan bumi akan menjadi harmonis jika stiap orang mematuhi mereka yang ada di atas dan membagi dengan pantangan kepada mereka yang ada di bawah. Konghucu mengajarkan hanya bahwa hanya keluarga bahagia yang merupakan fondasi dari suatu dunia yang harmonis. Orang-orang tua diharapkan mengajarkan kebajikan dan tugas kepada anak-anak mereka yang akan menjadi dewasa dan yang akan menghormati mereka sebagai balas budi. Penghormatan semacam ini termasuk kepatuhan dan kesediaan menerima kekuasaan orang tua tanpa perlu dibantah. Ibadah untuk para leluhur merupakan perwujudan dari kewajiban anak-anak dan merupakan perwujudan perbedaan yang penting bagi masyarakat yang bersatu padu DAFAT PUSTAKA Ahmadi Drs.H Abu,perbandingan agama, jakarta:Pt.rineka cipta,1991 Keene Michael, agama-agama dunia,yogyakarta ;penerbit kanisius,2006 Prof.H.M.Arifin M.Ed,menguak misteri ajaran agama-agama beser,(jakarta :PT golden terayon perss 1986) Lardener Carmodi Denis DKK,jejakRohaniSangGuruSci.PT.Rajagrafin dopersadajakarta2000 Cenggana Anly Dkk,hak asasi beragama dan perkawinan konghu cu, jakarta;PT.Gramedia pustaka utama 1998 Prof.H.M.Arifin M.Ed,menguak misteri ajaran agama-agama beser, jakarta :PT golden terayon perss 1986 Smith Hustan agama-agama manusia jakarta,yayasan obor indonesia:2001 http://id.wikipedia.org/wiki/Peradaban_Lembah_Sungai_Kuning jumat 04 maret 2011 http://www.matakin-indonesia.org/selintas_mengenal_agama_khonghuc.htm. jumat 04 maret 2011 http://sites.google.com/site/lordcomputert/unida/agama/8-agama-terbesar-di-dunia jumat 04 maret 2011 http://www.wihara.com/forum/kong-hu-cu/651-konsep-ketuhanan-dalam-konghucu.html. jumat 04 maret 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar