Selasa, 29 Maret 2011

SEJARAH KELAHIRAN AGAMA BUDHA DI INDIA

A. Latar belakang
Hidup beragama adalah sesuai dengan martabat manusia sebagai mahluk tertinggi, mahluk mahluk lainnya di bumi ini lebih rendah martabatnya dan mereka tidak memerlukan agama sebab itu orang orang yang ingin menghapuskan agama dari muka bumi ini berarti dia juga ingin menurunkan derajat dan martabat manusia sama seperti hewan dan mahluk lainnya yang tidak beragama.
Dari sekian jiwa dari jumlah penduduk dunia ini adalah umat beragama, kalau sekiranya agama itu memang tidak diperlukan dan tidak bermanfaat lagi bagi kehidupan manusia, niscaya kita tidak akan mewarisi sejumlah bangunan bangunan kuno yang melambangkan bahwa agama sudah di anut oleh nenek moyang kita s ejak zaman dahulu, hal ini dibuktikan dengan ditemukannya berbagai situs bersejarah seperti candi, masjid, pyramid, kuil dan yang lainnya.
Agama merupakan salah satu dari agama yang tertua yang ada di dunia ini, agama ini muncul di india sebagai bagian dari agama hindu yang muncul lebih dulu, pada saat sekarang ini agama budha berkembang pesat di beberapa Negara seperti china dan Thailand.
Dalam sejarah yang telah di tulis di buku “perbandingan agama” karangan Abu Ahmadi di jelaskan bahwa agama budha memulai perdabannya pada masa 500 tahun sebelum masehi di bawa oleh sidharta yang mulai mengajarkan kepada masyarakat india pada waktu itu delapan jalan kebenaran dan empat konsep kehidupan,
Untuk itu dalam makalah ini ada menjelaskan tentang beberapa hal menegnai agama budha diantaranya adalah siapakah pendiri agama budha?, dan bagaimana riwayat pembawanya?
B. Penndiri Agama Budha
Dalam alur sejarah agama agama di india zaman agama budha dimulai sejak tahun 500 SM Hingga tahun 300 M, secara Historis agama tersebut memepunyai kaitan erat dengan agama hindu yang dating sebelunnya, sebagai agama ajaran budha tidak bertitik tolak dari tuhan dan hubungannya dengan alam semesta dan seluruh isinya termasuk manusia tetapi dari keadaan yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari hari, khususnya tentang tata susila yang harus di jalankan manusia agar terbebas dari lingkaran kesesatan yang selalu menngiringi kehidupannya,
Telah lama kita dengar dalam cerita dan kisah yang berkembang di masyarakat kalangan umat budha bahwa jauh sebelum zaman prasejarah pernah hidup seorang mahluk yang bernama sumedha, ia pernah mengalami berjuta juta kali reinkarnasi selama ia dalam tubuh seorang manusia yang mempunyai derajat ke-budha-an yang bernama sidharta, tidak semua mahluk bias menjelma dalam tubuh yang mempunyai derajat ke-budha-an sebab derajat ini hanya bias dicapai oleh seorang yang benar benar telah mempersembahkan pengorbanan yang besar terhadap sesama umat manusia,
Cerita mengenai riwayat hidup budha sendiri diliputi olej mito;ogi yang ajaib sehingga menimbulkan penilaian yang berbeda beda terhadap kebenaran cerita cerita tersebut, E.Senart (1875) berpendapat bahwa cerita tentang riwayat itu hanyalah mite yang telah berkembang pada zaman sebelum Gautama lahir, dan mite ini merupakan menggambarkan pemujaan terhadap matahari,
H. Oldemberg berpendapat bahwa Gautama memang benar benar lahir tetapi cerita mengenai dirinya disesuaikan dengan keadaan waktu, sedangkan H.Kern mengatakan dengan menyatukan kedua pendapat diatas dan berpendapat bahwa budha Gautama memang benar benar lahir tetapi cerita kehidupannya memang diliputi oleh suatu mite tentang matahari yang menerangi bumi.

C. Riwayat Sidharata Gautama
Menurut Riwayat .sidharta dilahirkan pada tahun 560 SM, didaerah kapilawastu di kaki pegunungan Himalaya, India Utara kira kira seratus mil dari benares, dalam buku ‘Agama agama Manusia” menyebutkan bahwa ayah dari sidharta adalah seorang bangsawan yang kaya raya, sedang dalam buku lain disebutkan bahwa ayahnya adalah seorang raja yang kaya raya bernama sudhodana dan ibunya bernama maya, tempat lahirnya ditemukan dilumbini pada tahun 1895 .
Pada suuatu hari maya yang sedang hamil tua pergi dari kapaliwastu ke devadha hendak menego saudaranya di tengah tengah perjalanan hatinya tertarik untuk melihat hutan kecil yang penuh dengan bunga dan burung bersiulan, ketika di dalam hutan tersebut itulah maya melahirkan sidharta dengan wajah yang bersina bagai matahari, di ceritakan bahwa ketika sidharta lahir seketika itu pula orang yang tuli bias mendengar, yang lumpuh dapat berjalan, yang buta dapat melihat dan yang sakit dapat menjadi sembuh, sesudah melahirkan sidharta 7 hari kemudian maya meninggalkan dunia yang fana ini.
Bayi yang lahir tersbut menurut ramalan seorang pendeta (bernama asita), bahwa bayi tersebut bbetul betul sebagai utusan dewa yang kelak akan menjadi pemimpin dan petunjuk bagi semua mahluk dan menolong segenap rohani manusia dari samsara .
Ayahnya yang merawat dan menjaganya, menginginkan agara sidharta menjadi seorang raja besar sebagai penerusnya, sejak lahir sidharta di pelihara baik baik diasuh dengan segala kebesaran dan kenikmatan serta kemewahan, beliau tidak dapat meninggalkan istana dengan sekehendak hati, jika beliau hendak pergi bertamasya harus diiringi oelh pegawai istana.
Setelah dewasa kemudian sidharta mempunyai istri yang bernama gopa dan mempunyai anak laki laki yang bernama rahula,
pada suatu hari sidharta berjalan jalan di kota kemudian melihat orang yang tua bertongkat dan hampir menyentuh dadanya badannya telah bongkok, kepalanya berat dan tidak berdaya lagi membawanya, sidharta kemudian merasa kasihan dan sedih melihatnya,
suatu kisah lain menceritakan bahwa sidharta telah melihat seorang yang meringkuk karena sakit sambil mengerang dan mengaduh tanda beratnya penderitaan yang hidup yang dilalui orang tersebut,keluarga disekelilingnya tidak berdaya menghilangkan rasa sakitnya malah dia tidak dapat menegtahui apa penyakit yang diderita oleh saudaranya tersebut.
Cerita ketiga menceritakan bahwa sidharta telah melihat satu tubuh mayat yang sudah lama membusuk dan menimbulkan bau yang sangat menusuk, perjumpaan dengan orang sakit, orang tua dan seorang mati membuat sidahrta kemudian memikirkan tentang penderitaan, kemudian dia mulai berfikir zuhud dan meninggalkan kemewahan serta kesibukannya dan berfikir semoga dia bisa sampai ketingkat untuk mengetahui rahasia alam .
Sejak mulai berfikir zuhud itu lah sidharta mulai sering keluar dari istana dan bertapa dan menjadi budha yang artinya “yang disinari”, dari hasil bertapanya ini sidharta mendapatkan ilham berupa 4 ajaran pokok dan 8 jalan kebenaran .

D. Ajaran sidharta Gautama
Setelah sidharta melakukan pertapaan selama beberapa tahun kemudian dia mendapatkan ilham berupa 8 jalan jalan kebenaran dan 4 poin khutbah yang kemudian dia sebarkan kepada semua orang orang, keempat poin tersebut adalah :
1. Lahir menjadi tua, dan meninggal dunia itu menderita, begitu pula itu halnya dengan bersedih hati itu juga menderita, segala hal yang berhubungan dengan ketidak enakkan adalah suatu pernderitaan,
2. Apakah yang menyebabkan penderitaan itu?
Penderitaan itu disebabkan oleh hati yang tidak ikhlas dan hawa nafsu,
3. Dapatkah penderitaan itu dihilangkan?
Penderitaan akan lenyap bila hawa nafsu yang berlebihan dapat dihilangkan
4. Bagaimanakah cara melenyapkan penderitaan itu?
Cara untuk melenyapkan penderitaan itu hanya dengan menjalani delapan jalan kebenaran yang diberikan oleh budha, yaitu :
a. Percaya yang benar
b. Cita cita yang benar
c. Ucapan yang benar
d. Perbuatan yang benar
e. Hidup yang benar
f. Mempelajari hokum yang benar
g. Ingatan yang benar
h. Tafakur atau Samadhi yang benar.
Menurut Karen amstrong dalam bukunya yang berjudul “Budha” kedelapan unsur jalan kebenaran tersebut telah ada dalam 3 aspek yaitu:
1. Moral atau pengendalian diri, yaitu berkata, bertindak, dan hidup yang benar, pada pokoknya ketiga komponen ini merupakan bagian dari ekspresi diri.
2. Meditasi, yaitu ajaran yoga yang disempurnakan Gautama, termasuk didalamnya konsentrasi , perhatian dan usaha yang benar.
3. Kebijaksanaan, dua nilai moral pemahaman, yaitu pemahaman yang benar dan tindakan yang baik .

DAFTAR PUSTAKA
- Ahmadi, Abu, Perbandingan Agama, Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1991.
- Abdul manaf, Mujahid, Sejarah Agama Agama, Jakarta : PT.raja Grafindo Persada, 1996
- Amstrong, Karen, Budha, Jogjakarta : Bentang Budaya, 2003.
- Salaby, Ahmad, Agama Besar Di India, Jakarta : Bumi Aksara, 1998.
- Smith, Huston, Agama Agama Manusia, Jakarta : yayasan Obor Indonesia, 2001.

1 komentar: